100100 Voting: 999,879,658

Cerpen: Keadilan dan Peradilan Rakyat

Cerpen yang satu ini karya Putu Wijaya, silahkan petik pesan didalam cerpen berikut.

Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.



"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."



Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.



"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"

Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"

"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung

tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."

Pengacara muda itu tersenyum.

"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."



"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."



Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.



"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."



Pengacara tua itu meringis.

"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."

"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"

Pengacara tua itu tertawa.

"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.

Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.



"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."



Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.



"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."

"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."



"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.



Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.



Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."



Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.



"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."



"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.

Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.

"Bagaimana Anda tahu?"



Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."



Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.

"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."



Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"

"Antara lain."

"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."

Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.

"Jadi langkahku sudah benar?"

Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.



"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"

"Tidak! Sama sekali tidak!"

"Bukan juga karena uang?!"

"Bukan!"

"Lalu karena apa?"

Pengacara muda itu tersenyum.

"Karena aku akan membelanya."

"Supaya dia menang?"



"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."

Pengacara tua termenung.

"Apa jawabanku salah?"

Orang tua itu menggeleng.



"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."



"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."



"Tapi kamu akan menang."

"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."



"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."



Pengacara muda itu tertawa kecil.

"Itu pujian atau peringatan?"

"Pujian."

"Asal Anda jujur saja."

"Aku jujur."

"Betul?"

"Betul!"



Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.

"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"



"Bukan! Kenapa mesti takut?!"

"Mereka tidak mengancam kamu?"

"Mengacam bagaimana?"

"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"



"Tidak."

Pengacara tua itu terkejut.

"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"

"Tidak."

"Wah! Itu tidak profesional!"

Pengacara muda itu tertawa.

"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"

"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"

Pengacara muda itu terdiam.

"Bagaimana kalau dia sampai menang?"

"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"

"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"

Pengacara muda itu tak menjawab.

"Berarti ya!"

"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"



Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.



"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."

"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."



"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"



"Betul."

"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.



Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."



Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.

"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."



Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.



"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."

"Tapi..."



Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.

"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."



Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.



"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."



Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.



Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.



"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?"
Read More..
"Cerpen: Keadilan dan Peradilan Rakyat" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category Cerpen and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/05/keadilan-dan-peradilan-rakyat.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 21:31.

Cerpen Motivasi: Surat Terakhir Buat Kamu

“Aku pergi!” tulismu pada secarik kertas kumal di meja kamarku. Hanya dua kata. Tanpa nama, tanpa tanda tangan. Tetapi aku tahu surat dua kata itu adalah tulisanmu. Aku mengenalmu jauh lebih dari kau mengenal dirimu sendiri.


Andai saja kau ada di kamarku ketika kubaca suratmu, pasti kau tak bisa melukiskan kekecewaanku yang mendalam. Jiwaku terasa menggelepar. Ruhku terasa mendesak keluar. Perih. Sungguh perih. Dua kata yang mampu menerobos jantungku hingga aku bungkam dan denyut nadi mati terasa. Kau sungguh pintar merobek hatiku.


Yang tak habis kupikir adalah kenapa kau hanya meninggalkan dua kata pada secarik kertas kumal. Kenapa tidak kau tulis puluhan, ratusan, atau ribuan kata di suratmu agar aku tak kesakitan seperti ini. Kau tahu, dua kata itu selalu terngiang di telingaku. Mungkin jika kau tulis panjang surat, tak ada kata-kata yang terngiang di telingaku karena terlalu banyak kata yang mesti kuingat. Sungguh, kau tikam jiwaku melalui dua kata itu. Sakit sekali. Kau sama sekali tak menghargaiku. Kau menganggapku seperti kertas kumal itu yang dengan mudah disobek dan diremas lalu dibuang ke bak sampah.



Kuakui kita memang banyak sekali perbedaan. Watak kita bagai api dan air. Tetapi bukankah api dan air itu saling melengkapi. Apa jadinya air tanpa api, atau api tanpa air? Begitulah prinsipku, sehingga kau kuterima apa adanya.


Kau suka berpesta, aku suka kesendirian. Kau suka berjalan-jalan, aku suka diam. Kau suka bercanda, aku serius. Kau glamor, aku sederhana. Kau selalu ingin bersenang-senang, sementara aku ingin kedamaian. Kau periang, aku pendiam. Memang begitu jauh perbedaan kita. Persis seperti api dan air. Tapi bukankah api dan air saling melengkapi? Tidakkah kau sadari itu?


Kala kau sedang bersedih, kau datang padaku maka kuberi kau ketenangan. Jika aku sedang tak bergairah, maka kau datang beri aku semangat baru. Jika kau sedang dalam kesusahan, maka kuberi kau kedamaian. Jika kau tak tahu ke mana lagi mau pergi, maka kau kutemani selalu. Tidakkan itu saling melengkapi? Sesungguhnya banyak hikmah dari perbedaan kita kalau kau mau sedikit berpikir jauh dan positif tentunya.


Jika aku salah, maafkan aku. Perpisahan bukan satu-satunya solusi untuk perbedaan kita. Kumohon kembalilah padaku. Mari kita perbaiki kancing yang salah terpasang. Kesalahan adalah untuk kita mengetahui apa yang benar. Tidak ada salah kalau tidak ada sesuatu yang benar. Begitu pun sebaliknya.


Seharusnya kau mengerti itu. Tapi kau tak mau mengerti. Kau selalu mengeluh dengan watakku yang jauh berbeda denganmu. Aku pun selalu menyadarkanmu bahwa manusia itu tidak pernah diciptakan untuk sama walau kembar sekali pun. Manusia berbeda, dan wajib menerima perbedaan. Aku pun selalu untuk tolerir dan menghargai terhadap apa yang kau lakukan. Namun kau tak bisa menghargai dan tak bisa menolerir apa yang kulakukan.


Kadang kau ingin mengubahku menjadi periang, tapi aku memolesi jiwaku dengan semen pendirian yang tak bisa kau ubah. Tidakkah kau sadar aku tak pernah memolesi jiwamu. Aku terima kamu apa adanya. Hanya satu kuharapkan darimu kelak adalah kau menghargai perbedaan kita, karena perbedaan bukanlah benih perpecahan atau suatu ketidakcocokan melainkan saling melengkapi. SALING MELENGKAPI! Kau harus camkan kalimat itu di dalam hatimu. Tetapi kau tak bisa. Dan kau pergi tanpa bicara.


Aku ingat sekali ketika kau mengajakku pergi ke pesta ultah temanmu, tapi aku menolaknya. Aku tak suka keramaian dan keributan. Tapi kau marah. Kau mengatakan aku tak mencintaimu lagi. Kau tak pernah berpikir positif dari ketidakpergianku. Padahal sudah kujelaskan aku tidak suka keramaian. Lalu ketika yang kedua kalinya, aku akhirnya mengalah dan aku pergi ke ultah temanmu. Dan di sana aku diam, memojok sendiri di kursi kosong. Aku hanya memandangimu yang riang bersama teman-temanmu. Kau begitu gembira hingga aku yang telah kau bawa, kau lupakan. Maka alasanku begitu sangat kuat ketika aku menolak ketika kau ajak lagi. Tidakah kau mengerti? Kau memang tak pernah bisa mengerti. Kau egois!


Aku juga ingat setelah kau kirim surat dua kata, kau selalu menjauh. Kadang kau membuang muka, berlari, bersembunyi, atau bergabung dengan teman gaulmu. Segala cara kau lakukan agar kau bisa menghindar dariku. Sungguh, seolah aku bagai anjing kurap di matamu. Sesungguhnya aku hanya mau bicara baik-baik denganmu. Aku hanya minta penjelasanmu kenapa kau pergi. Itu saja.


Akhirnya kau buka mulut juga. Hanya karena kau tak ingin aku terus mengekormu dan tentunya mengganggumu.


“Kita berbeda,” kalimat pembuka pertama saat kau mau bicara. Aku ingat sekali, karena aku sudah menduganya juga kau akan berkata begitu. Tapi aku tak ingin hanya menduga jika kebenarannya belum pasti. “Kita tak pernah bisa satu,” lanjutmu. “Mungkin kau benar perbedaan saling melengkapi. Tapi perbedaan itu bukan untuk disatukan, melainkan dipisah-pisahkan. Tahukah kau apa jadinya jika air dan api disatukan. Maka api akan padam jika air terlalu kuat, atau air yang menguap jika api yang kuat. Tergantung kekuatan mana yang lebih besar. Dan tahukah kau apa jadinya warna merah disatukan dengan putih, maka kedua warna akan membaur dan membentuk suatu warna baru. Kebetulan dua warna itu akan membentuk sebuah warna yang menarik. Tapi apa jadinya kalau coklat sama hitam? Tentunya makin memburuk. Kau mengerti? Perbedaan itu tidak disatukan, tetapi dipisah-pisahkah. Dikotak-kotakkan atau diberi sekat agar tidak merusak yang lainnya atau mengganggu yang lain. Tidakkau kau lihat pelangi. Warna itu sesungguhnya tidaklah bersatu tetapi terpisah dan alangkah indahnya warna yang terpisah itu. Bisakah kau bayangkan jika warna itu bersatu dan terpajang di langit biru. Akan menjadi layar buruk tentunya bukan? Maka aku pun pergi. Kita tak bisa bersatu….”


“Ya, kita memang tak pernah bisa bersatu,” aku buru-buru memotong kalimatmu. “Kita tak pernah bersatu. Ada sekat di antara kita. Dan aku tidak pernah mencoba merusak sekat itu. Tapi kaulah yang merusak sekat itu. Kau yang mencoba memasuki jiwaku dengan jiwamu yang beda. Kaulah yang mencoba menyatukanku seperti dirimu. Padahal aku tidak pernah mencoba menyatukan jiwaku pada jiwamu.”


“Sungguh aneh jalan pikiranmu,” katamu. “Aku kadang tidak bisa memahami dirimu. Kau bergulat sendiri dengan pemikiranmu dan menetapkan sendiri pula kebenarannya, tanpa menelusuri kembali kebenaran yang kau dapat. Kau terlalu yakin pada pemikiranmu yang belum tentu benar itu. Padahal kau pernah mengatakan, bahwa kesalahan tidak ‘kan ada jika tidak ada kebenaran.


Apakah kau tidak sadar, bahwa kita sudah terikat dalam satu tali ikatan, bukankan itu sudah menyatu? Kita berada dalam satu rumah, bukankah itu sudah menyatu? Kita sudah berkali-kali bersetubuh bukankah itu berarti dua tubuh sudah menyatu.”


“Tapi itu hanya dari luarnya saja, tidak di dalam ini, jiwa ini, dan itu tak pernah bisa bersatu. Memang Jiwamu, jiwaku, jiwa manusia sebenarnya adalah satu. Hanya karena berada dalam diri manusia yang berbeda, maka jiwa pun berbeda.”


“Begitulah kau,” katamu kemudian. “Kau keras kepala. Kau terlalu yakin dengan perkataanmu sendiri dan tak mau mencoba mendengarkan kata orang lain. Padahal kita tak pernah bisa hidup sendirian….”


“Makanya harus ada saling melengkapi,” kataku, tapi kau tak jua mengerti.


“Sungguh, aku tak bisa dan tak akan pernah bisa mengerti dirimu. Aku pergi!”


“Baik, aku mengalah jika itu sudah keputusanmu. Tapi tolong jelaskan padaku, kenapa kau hanya tulis dua kata pada secarik kertas kumal di kamarku?”


“Aku juga mempertimbangkannya dengan teliti bagaimana aku harus mengatakan bahwa aku tak bisa hidup lagi denganmu. Jika kukatakan langsung, maka aku kalah dengan pemikiranmu yang membingungkan itu. Lalu kupikir menulis saja. Tapi ketika aku mulai menulis, aku berpikir tentang dirimu. Jika kutulis surat ini panjang lebar, maka kau tak bisa mempercayainya. Kau akan membacanya berulang-ulang untuk meyakinkan dirimu, dan kau akan menyimpannya menjadi kenang-kenanganmu. Lalu suatu masa akan kau baca lagi mengenang masa kita berdua. Aku tak ingin kau menjadi seperti itu. Oleh karena itu, aku pun menulis dua kata di secarik kertas kumal agar setelah kau membacanya kau bisa meremasnya dan membuangnya ke tong sampah dan kau pun tak perlu menyimpannya. Karena kertas kumal itu juga pertanda jiwamu yang sudah lusuh, perlu disetrika lagi atau jika tidak bisa maka dibuang. Tapi aku tak pernah mengira jadinya seperti ini. Kau mengincarku terus dan meminta penjelasanku. Sungguh aku tak pernah bisa mengerti dirimu. Bukankah kau begitu yakin apa yang kau pikirkan, sehingga tak perlu dipertanyakan lagi?”


Kau memang pandai memainkan kata. Aku salut. Makanya aku suka padamu. Tetapi kalau sudah melebihi titik ekstrim, ternyata kau menjadi sangat tidak menyenangkan. Aku tahu kau sendiri kadang tak bisa memahami apa yang telah kau ucapkan bahkan kau lupa dengan kata-katamu sendiri.


Ya, akhirnya kita benar-benar berpisah dan aku dengan setengah hati melepaskanmu. Kita tak bisa bersama lagi. Kubiarkan kau mencari pasangan lain yang sesuai hatimu, yang sama dengan watakmu, yang cocok denganmu. Seandainya takdir mempertemukan jodoh sesuai kriteriamu, maka sebelum terlambat kukatakan padamu bahwa kau akan melewati hari-harimu dengan kejemuan. Tidak ada sesuatu yang berbeda dari kalian untuk saling dilengkapi. Semuanya serba sama. Andai saja kau bisa mengerti, bahwa yang kita butuhkan, juga dunia ini bukanlah persamaan tetapi kebersamaan dan di dalam kebersamaan itu tentunya banyak perbedaan.


Sekian, semoga kau bisa merenungi surat terakhirku ini.
Read More..
"Cerpen Motivasi: Surat Terakhir Buat Kamu" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen MotivasiPuisi Cinta and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/05/surat-terakhir-buat-kamu.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 19:05.

Cerpen: Jemari Surga Terindah

Temen-temen, Cerpen fiksi ini tertuang begitu saja ketika langit dan bumi dapat kita satukan, kita baca dan petik pesan didalamnya yuuk,,,,



Aku memperhatikan jemariku. Ruas-ruas runcing, kuku-kuku yang ramping memanjang, memerah jambu, nampak lembut sekaligus liat. Lentik sekaligus tangguh. Pemetik dawai harpa, sekaligus pengupas ranum bebuahan surga. Bulu-bulu halus melingkar selembut anak rambut. Serupa cabang ranting dari telapak dan tangan kukuh pohonku. Aku memperhatikan jemariku.



Kulit kecoklatan pada tangan hingga lengan serupa pohon muda menatap surya. Penuh percaya diri. Bulu-bulu yang melekat adalah dedaunan selembut sutra. Menempatkan diri tanpa cela. Runut dan bersemayam penuh rasa damai. Bagian yang tertumbuhi bulu serupa aksiran yang menghitamkan tak terlalu pekat. Hutan pada punggung telapak tangan, berpohon nisbi.



Kuku yang mengkilap seperti bercat warna. Tapi tak terlalu mencolok mata. Cuma tetap saja berupa sebersit kilat cahaya yang mampu membuat mata menatapnya. Warna merah jambu serupa kelopak mawar. Namun jemari runcing tempat bersemayamnya adalah keindahan dan kekukuhan seperti penari lelaki yang ramping namun berisi. Tak puasnya aku memperhatikan jemariku. Bagian terindah dari tubuhku.







Awalnya tak pernah kusadari keindahan jemariku, bila saja semua perempuan yang mengenalku tidak mengagumi jemariku. Mereka akan lekat menatapnya, dan terkadang tak mampu mencegah jemarinya untuk menyentuh jemariku. Membelainya sepenuh perasaan. Seakan kelembutan seluruh punggung telapak dan mencabang pada jemari mampu meredam getar saat melihatnya.



Aku tak tahu apa orientasi mereka. Rasa kagum yang berlebih atau orientasi seksual yang terpuaskan. Terkadang seorang perempuan yang menyentuh punggung telapak dan merambat hingga jemari, memejamkan matanya. Erangan yang keluar dari bibirnya semacam upacara persetubuhan tanpa persenggamaan seutuhnya.



Kekaguman dan lirik keinginan menjamah adalah hal yang biasa aku terima. Rasa jatuh mencinta perempuan-perempuan itu membuat aku semakin menjaga jemariku. Awalnya dengan perasaan malu, aku bertanya pada seorang teman perempuanku, bagaimana merawat telapak, jemari, dan kuku. Tak kusangka teman perempuanku menyambutnya dengan penuh rasa haru. Ia bersedia menjadi perawat jemariku.



Hingga mulailah setiap sore, di halaman belakang rumah yang luas ia merawat jemariku. Aku tak tahu apa yang ia kumpulkan dalam belanga. Beberapa bunga, dedaunan, rempah-rempah. Ia akan mengatupkan matanya sebelum memulai ritual itu. Memijit seluruh telapak, jemari, dengan sentuhan tangan desanya yang terlatih. Ia betul-betul pengabdi.



“Nikahi aku pangeran, jemarimu adalah jemari terindah yang pernah aku temui. Aku akan mengabdi untukmu demi jemari yang hanya pantas memetik sitar dewa-dewa. Jemari yang sanggup membuat perempuan bertekuklutut dengan sekali sentuhan. Nikahi aku pangeran, demi jemari yang sedemikian indah.”



Aku tak menikahi perempuan dengan jari-jarinya yang melebar, walau ia menghamba padaku. Namun rupanya kecintaannya pada jemariku sanggup merubahnya menjadi pengabdi. Asal ia diperbolehkan menyentuh dan merawat jemariku setiap petang datang. Maka aku perbolehkan ia dengan perasaan begitu jumawa. Telah kutaklukan banyak perempuan, namun cuma ia yang mau mengabdi sedemikian.



Sampai suatu hari ia melukai jemariku. Betapa beraninya! Dengan tergagap ia memohon ampun. Ia berkata mana mungkin ia melukai jemari seindah itu. Jemari yang cuma pantas dimiliki pangeran. Jemari yang berteman tirai sutra, bantal-bantal berisi bulu domba, memegang cawan-cawan emas. Namun jemariku yang terluka membuat hatiku terluka. Bagian terindah dari tubuh, sesuatu yang tanpa cela! Aku mengusirnya.



Berita tentang jemariku yang terluka terdengar ke pelosok negeri. Perempuan-perempuan berdatangan dan bersedia menjadi pengganti perempuan tolol itu. Aku mengamati seluruh rupa. Mengamati wajah-wajah yang menghiba. Seakan dari balik tubuh-tubuh yang luruh mereka berteriak: pilihlah aku menjadi pengabdimu. Pilihlah aku pangeran.



Sebenarnya aku tak kuasa menolak mereka. Namun semakin lama aku menentukan pilihan, wajah mereka semakin menghiba. Mulailah terdengar rintih, seruan kecil dari bibir mungil mereka.

“Jangan kau permainkan jemarimu, membuat hasratku menusuk dada. Pilihlah aku atau singkirkan. Aku tak menahan. Sungguh.”

Rintih mereka nyanyian keangkuhanku. Dengan sikap telengas, aku kibaskan jemari meminta mereka pergi. Mereka tergugu dan lirih menangis. Nyanyian pedih namun sorak-sorai jumawaku. Betapa setiap perempuan siap menghamba untuk jemari-jemari yang diturunkan dari surga!



Aku merasa seluruh perempuan negeri ini mencintai jemariku, hingga aku memutuskan untuk pergi ke daerah Selatan yang menurut kabar perempuan-perempuannya jauh lebih cantik. Aku akan taklukan mereka dengan jemari-jemariku yang kini telah piawai menarik dawai. Padahal aku hanya belajar dalam hitungan tiga kali purnama! Namun guruku memuji bukan saja kecerdasan otakku, namun juga jemariku yang menurutnya berkah dari surga.



Maka aku datangi sebuah kedai minum di kota pertama tempat aku memijak kaki. Kedai tersebut bernuansa kecoklatan, mejanya berupa kayu-kayu yang diserut kasar hingga masih terlihat tekstur kayunya. Pada pinggir meja dilapisi dengan tembaga coklat kemerahan. Pilar-pilarnya serupa batu-batu gunung yang dipecah lebih kecil. Dan setiap pecahannya memperlihatkan tekstur dan guratan yang memukau.



Orang-orang yang berdatangan jauh lebih eksotis, terutama kaum perempuannya. Seorang perempuan yang benar-benar cantik datang memasuki kedai. Ia jauh lebih cantik dari kembang negeriku sekalipun. Tulang pipinya yang tinggi, dan raut wajah yang sempurna. Matanya kehijauan seperti bebatuan emerald. Rambutnya coklat tua berkibar mengabarkan kedatangannya. Bajunya berwarna hijau pucat dengan motif bunga besar pada bawahannya. Melekat pada pinggulnya yang tak berpenutup. Ia sangat pemerhati atas dirinya sendiri. Warna baju yang dipilihnya membuat matanya semakin cemerlang. Dan ia membuang muka saat bertatapan denganku.



Musik berhenti, aku melangkah ke arah areal yang berbentuk oval. Aku berjalan ditengah hiruk-pikuk mereka. Hingga sampai aku mengeluarkan dawaiku dan mulai memetiknya. Perlahan suasana menjadi sunyi. Mereka terpukau. Dalam cahaya lelampu yang pijar mereka sesungguhnya tak dapat melihatku dengan sempurna. Namun aku jauh dapat dilihat oleh mereka, karena aku dikelilingi lelampu yang membentuk lingkaran. Aku pusat perhatian. Atas petikan dawaiku, atas jemari yang memetiknya.



Aku menjadi pusat perhatian dalam hitungan detik. Menakjubkan. Perempuan-perempuan mengerubungiku sehabis petikan dawaiku berakhir. Mereka bagai perempuan-perempuan dari kastil raja. Mendekat dan mendesah seolah tak pernah disentuh seorang pria. Si mata emerald berambut coklat tua adalah satu diantaranya. Dengan bengis aku mengusirnya. Betapa beraninya ia mengabaikan lelaki dengan jemari berkah dari surga!



Sejak saat itu aku selalu hadir di acara pesta-pesta. Mereka mengundang karena petikan dawaiku, dan para perempuan atas jemariku. Tak hentinya mereka bertanya, bagaimana rasanya memiliki jemari seindah itu. Tak hentinya mereka merayu agar aku bersedia bercumbu. Aku merasa seperti raja kecil yang merasakan setiap tubuh dengan keikhlasan menghamba.



Setiap bibir menawarkan getar yang berbeda, setiap tubuh memiliki sensasi tersendiri. Erangan yang tak pernah sama. Rintih menghiba, yang lirih namun senantiasa menusuk gendang telinga. Dan jemariku adalah fantasi mereka yang tak jua usai sehabis percintaan semalaman. Betapa mereka mendamba belaian, seperti dawai yang kubelai penuh perasaan. Lembut namun sesekali membetot penuh tenaga. Mereka menghamba padaku. Dan diam-diam aku mendamba cinta.



Aku bertemu dengan Ametis di sebuah kedai. Rambutnya yang sungguh hitam bergerai hingga sepinggang. Bajunya yang tipis berwarna merah marun. Sangat kontras dengan kulitnya yang pucat. Bahannya yang tipis memperlihatkan tubuhnya yang samar. Gairah yang membayang setiap ia melangkah. Rambutnya dibiarkan menutupi dadanya. Sekilas nampak putingnya seperti kuncup mawar di balik tipis gaunnya.



Namun lebih dari segalanya adalah matanya. Matanya pecahan warna tak kentara. Mengerjap begitu kemilau. Setiap orang akan salah menangkap warna matanya. Namun seluruhnya memuji akan keindahannya. Mungkin serupa berlian yang ia tanam di sana. Berpendar-pendar, berkilau membuat takjub setiap mata. Jemariku selalu gagal memetik dawai saat pertama kali melihatnya. Ia secantik Antigone dalam khayalku.



Ia putri seorang tuan tanah. Bukan dari kalangan kelas atas yang suka akan pesta pora. Wajar bila ia luput dari penglihatanku. Namun aku berani bersumpah seluruh putra pembesar negeri ini jatuh hati padanya. Tiba-tiba aku merasa miskin dengan segala keberadaanku. Ia sesamar ambrosia dalam bening kristal. Sedang aku cuma tempayan dari tembaga tak membekas dalam ingatnya.



Tak seperti perempuan lain, ia mengabaikanku. Tak seperti perempuan lain pula, aku tak mendendam padanya. Hanya perasaan tahu diri bahwa kecantikannya terlalu berlebih buatku. Begitupun saat selesai aku memetik dawai, ia tak mendekat ke arahku. Hanya pandangan matanya yang ia tujukan ke arahku dengan pandangan bertanya –siapa engkau lelaki?-. Keangkuhan yang mematahkan keangkuhan. Kepantasan yang seharusnya aku dapatkan atas rasa sombongku.



Anehnya, esok aku melihat wajahnya lagi di kedai itu. Rasa percaya diriku bertambah seiring dengan senyumnya yang merebak tak terlalu kentara. Ia tak menujukan senyuman itu untukku sepenuhnya. Tepatnya ia menebar senyumnya seperti menabur bunga. Aku merasa mendapat setangkai. Cuma setangkai. Namun itu adalah bagian dirinya, sebetapapun absurdnya caraku menangkap pola pikirnya.



Aku mendekatinya sehabis pementasan. Jemariku yang berkeringat, keindahan tak terperi. Perwujudan kelembutan dan kerja keras. Perlahan jemariku menyusuri pinggir meja yang berlapis tembaga. Kulitku semakin terang dibanding tembaga yang basah oleh tumpahan minuman keras. Jemariku mengetuk-ngetuk seperti irama pasukan berkuda. Mencoba sentak hatinya yang angkuh akan hadirku.



Tidak seperti perempuan lain, Ametis memandang wajahku bukan jemariku. Baru kusadar bibirnya berbentuk nyaris sempurna. Rekah mawar, begitu segar. Giginya yang cemerlang mengintip diantara rekah bibirnya yang setengah terbuka. Ia menantang tatapku. Keangkuhan yang terbaca lewat bentuk hidungnya yang jumawa. Angkuh, cantik, sekaligus menggoda.



Aku bukan lelaki kemarin sore, hasratku justru melesat. Hingga bukan cuma jemari untuk merayu pesonanya. Seperti kata-kata yang keluar dari bibirku. Kalimat-kalimat puitis yang tercipta tanpa kendali. Mencoba menusuk relung hatinya yang dibentengi keangkuhan yang tak kunjung sirna. Pada matanya aku membaca ketaklukan, namun tubuhnya tetap kaku pada tempatnya. Hanya butuh waktu untuk membuatmu menghiba, perempuanku. Hanya butuh waktu.



Ternyata sangat tak mudah menaklukkan Ametis. Ia bukan seperti perempuan lain yang hanya mencintai jemariku. Ia ingin mencintaiku sepenuhnya. Bukan cuma jemariku yang tersohor. Aku semakin mencintai atas perkataannya yang tulus. Hingga terjadilah perang antar negeri. Kekacauan di mana-mana. Aku harus memegang senjata, berlatih perang. Telah kutinggalkan segala pesta dan petikan dawai.



Kekacauan melebihi jangkau pikirku. Betapa kesengsaraan akan perang terjadi pada setiap sudut kota. Rumah yang hancur, jalanan yang porak poranda, kanak-kanak yang yatim, penyakit, kelaparan. Orang-orang yang bergelimangan tak bernyawa adalah hal biasa. Rata-rata mereka telanjang karena pakaian mereka habis dicuri mereka yang masih hidup.



Aku menyaksikan kepahitan hidup. Sangat kontras dengan saat aku baru tiba di negeri ini. Sekejab segala kecantikan, kemewahan, tawa riang telah berganti hingar bingar peperangan. Terkadang kesunyian yang mencekam. Kadang aku pikir aku telah mati. Bersembunyi dalam lorong seperti segerombolan tikus. Tikus-tikus tak lagi nyaman dalam gorong-gorong karena kami memburunya. Kami para pemburu tikus! Untuk kemudian menyantapnya sebagai hidangan utama.



Telah lama tak kulihat kecantikan. Para perempuan dan anak-anak sudah sejak lama mengungsi. Sesekali kami mendengar berita tentang kekasih atau istri kami. Ada perasaan lega dari mereka mengetahui kaum lelakinya masih bertahan hidup. Aku bertanya pada mereka yang bertugas ke baris belakang, tentang Ametis. Seseorang memberikan selendang merah titipan Ametis. Menurutnya, Ametis meminta aku menjaga jemariku.



Aku tersenyum mendengar kelakarnya. Bagaimana mungkin aku dapat menjaga jemari dan kuku-kukuku? Mana pernah aku berpikir untuk merawatnya, sedang nyawaku bukan lagi milikku? Aku pasrah bila seorang musuh menyerangku saat aku lena dan menggorok leherku. Apa arti segala kecantikan jemari, kini? Telah lama aku lupakan atas pujian para perempuan. Telah kutanggalkan segala keangkuhan sejak aku mengenal Ametis semakin mendalam. Sebagaimana ia mencintaiku, utuh penuh.



Dua bulan sejak Ametis mengirim selendang itu, perang usai. Para perempuan kembali berdatangan. Dan kami para lelaki menyambutnya di perbatasan. Penuh rindu aku mencari Ametis. Dari jauh aku melihat matanya yang cemerlang. Rindunya pecah di matanya hingga berbinar-binar begitu bercahaya. Ia memelukku. Lantas memegang jemariku.



Kedua jemariku terbungkus selendang merahnya yang telah kupotong jadi dua bagian. Ia menatap jemariku dengan pendar mata seorang pengantin yang akan membuka pakaian pasangannya, saat malam pertama tiba. Dengan lembut dibukanya selendang merah itu. Perlahan, seakan jemariku adalah barang yang mudah pecah. Hingga telah habis bagian terujung selendang. Ia tertegun.



Wajahnya memerah, awal kupikir karena rasa iba. Namun matanya mengekspresikan rasa kecewa yang sangat mendalam. Jemariku telah berubah menghitam. Penuh luka. Karena goresan senjata, gigitan binatang, atau penyakit kulit yang merayapi punggung tanganku. Tak ada bekas sedikitpun, bahwa jemariku adalah jemari yang mampu membuat perempuan menghiba.

Ia menangis dan berlari menjauh.



Perlu tiga hari untuk mengajaknya bertemu. Wajahnya sembab. Tapi kecantikannya tetap mempesona. Aku tetap membalut jemariku, aku tahu inilah penyebab tangisnya. Walau itu tak sepenuhnya membuka apa yang sebenarnya membuat ia berlari. Rasa jijikkah, iba, belas yang berlebih, atau apa. Dari bibirnya ia berkata yang sejujurnya.



“Aku ingin mencintaimu apa adanya. Aku tak ingin seperti perempuan lain yang hanya mencintai jemarimu belaka. Pernahkah kau berpikir, apakah para perempuan itu akan tetap memujamu bila jemarimu terpangkas? Maka aku tak ingin larut seperti perempuan lain. Namun harus kuakui, jemarimu mampu membuat dadaku berdebar keras. Pun saat kita pertama kali berjumpa. Betapa ingin aku menciuminya dan melekatkannya pada dada. Tapi aku tidak seperti perempuan lain. Aku ingin mencintaimu sepenuhnya. Hingga kadang aku membayangkan betapa buruk jemarimu.”



Betapa cantiknya Ametis, suaranya yang bergetar adalah suasana hatinya yang tak karuan. Betapapun ia mencoba menetralkannya dengan tubuhnya yang tegak kaku. Lantas ia kembali berkata,

“Tetapi aku tak bisa. Aku mencintai jemarimu seperti perempuan lain. Semakin aku menghindar aku semakin sadar aku sangat mencintai jemarimu. Betapa aku mendamba atas belaiannya. Aku tak bisa membohongimu lagi. Aku tak pernah bisa mencintaimu sepenuhnya. Karena ternyata aku hanya mencintai jemarimu.”



Ada nada maaf dalam kata-katanya namun itu sangat menusukku. Ametis tak pernah benar-benar mencintaiku. Ia mencintai jemariku. Jemari yang kini telah berubah begitu menjijikan. Aku pergi dari negeri itu, malam harinya.



Empat bulan lamanya aku menyembuhkan segala luka jemari. Kini jemariku telah sembuh seperti sedia kala. Perempuan-perempuan kembali mengerubungiku menawarkan cinta. Tapi aku beku. Mereka tak pernah benar-benar mencintaiku. Mereka hanya mencintai jemariku. Bagian terindah dari tubuhku yang kini membuatku merasa muak. Betapa ingin aku lepas darinya.



Masih kuingat kata-kata Ametis di akhir perjumpaan,

“Pernahkah kau berpikir, apakah para perempuan itu akan tetap memujamu bila jemarimu terpangkas?”

Kata-kata itu terngiang dalam telingaku. Berdengung-dengung selama belasan hari. Begitu mengusik. Tak pernah kubayangkan akan teror semacam ini. Betapa kini aku merasa jemariku adalah momok yang tak merelakan aku tidur barang sekejab.



Setiap aku melihat jemariku, perutku serasa mual hingga aku harus membalutnya dengan kain. Keindahannya menusukku, apa guna jemari ini sebenarnya? Bagaimana bila aku tak memiliki jemari? Bagaimana bila aku hanya memiliki dua jemari, ibu jari dan telunjuk pada tangan kanan? Belum pernah selama ini pertanyaan seperti itu muncul dalam benakku. Kini pertanyaan itu muncul begitu saja. Ya dua jari mungkin cukup. Untuk segala kegiatanku.



Sebuah parang yang panjang telah kuasah semalaman. Aku mengamati tajamnya yang mampu memutus helai rambut. Berkilau dan aku dapat mengaca pada bilahnya. Ketajaman yang sempurna. Akan menebas sekali tebasan. Ya akan kuakhiri puncak derita bahagia*. Parang pada tangan kiriku menebas tiga jari tangan kananku. Tas. Dengan bermandi darah aku ambil parang dengan ibu jari dan telunjuk kanan yang tersisa. Telah kuabaikan rasa. Kutebas habis kelima jari tangan kiriku. Tas. Aku merasa ada yang tercerabut. Mungkin nyawaku. Hingga aku melayang.



Aku telah terbiasa hidup dengan dua jari. Mungkin dahulu aku melihatnya sebagai suatu benda yang dapat kubanggakan. Seperti pakaian sutra atau wewangian rempah-rempah, sesuatu yang membuat aku dihargai orang secara wadag. Tubuh yang kujual, tanpa aku tahu keindahan lain dibalik itu. Bagian terindah yang tersisa, kini menjadi begitu penting. Aku menjadi sedikit lebih mengerti akan arti jemari. Keberadaannya yang lekat pada telapakku. Semua diciptakan tentu mempunyai arti, mempunyai fungsi. Begitu aku menatapnya kini dengan penuh hikmat, bukan lagi angkuh. Kadang aku menangis memandang jemariku. Baru kusadar keindahan yang jauh melebihi apa yang terlihat.



Kini tak ada lagi perhatian dari perempuan sekitarku. Aneh itu justru membuat aku lega. Orang-orang memanggilku dengan panggilan baru, si buntung jari. Panggilan yang tak terlalu bagus sebenarnya, namun aku menerimanya. Aku mulai belajar menulis kisah-kisah kehidupan, terkadang kisah perjalanan dari para pendatang yang mulai memadati negeriku. Aku berencana untuk mengunjungi negeri-negeri dan menuliskannya. Kisah-kisah tentang kepedihan, ketangguhan, kegembiraan, acara ritual, keindahan alam, gejala alam. Aku cukup bahagia dengan kehidupanku kini. Menulis cerita dengan dua jari yang tersisa.
Read More..
"Cerpen: Jemari Surga Terindah" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category Cerpen and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/05/jemari-surga-terindah.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 18:53.

Cerpen Fiksi: Jamin atas Kematian dan Kuburanku..!!??

Jamin baru saja menghabiskan sepotong goreng pisang buatan istrinya ketika dilihatnya Dirman -warga yang rumahnya di ujung desa- tergopoh-gopoh memasuki halaman rumahnya. Orderan lagi nih, batin Jamin melihat kedatangan Dirman, lalu meminum seteguk kopi di cangkirnya dan kemudian menyongsong Dirman ke halaman


Gusrianto

"Pak Jamin…" masih dengan nafas memburu Dirman langsung bicara.


"Ada apa, Dir?" tanya Jamin, padahal sebenarnya dia sudah dapat menebak apa maksud kedatangan Dirman.


"Dinihari tadi nenek kami meninggal…" nah, benarkan? Batin Jamin lagi.


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un." Ucap Jamin, mimik wajahnya turut berduka. Tapi hatinya? Hatinya bersorak riang. Bagaimana tidak? Sudah lebih dua minggu, tapi tak seorangpun yang meninggal dunia. Kemarin istrinya sudah meminjam beras sama tetangga sebelah, dan dua hari yang lalu, Rini -anaknya yang sekarang sudah kelas 2 SMP- juga meminta uang sekolah yang memang belum dibayar.


"Rencananya nanti siang mau dikebumikan, Pak. Apakah bisa selesai sebelum siang?" Dirman bertanya.



"Bisa, Dir. Akan saya usahakan." Hanya itu jawaban Jamin, kemudian Dirman pamit setelah sebelumnya Jamin mengatakan akan menyusul sebentar lagi


Jamin masuk ke dalam rumahnya yang tidak begitu bagus -dindingnya masih dari papan- dan terus ke kamar untuk mengganti bajunya dengan pakaian dinasnya.


Penggali kubur. Ya…itulah profesi yang telah dilakoninya selama ini, tepatnya sejak ia menikah dengan Halimah, dua puluh tahun lalu. Seluruh warga desa mengenalnya dengan baik, bahkan ada juga warga desa sebelah yang memanggilnya untuk menggalikan kuburan bagi keluarga mereka yang meninggal. Dan tentu saja Jamin akan mendapatkan imbalan atas jerih payahnya itu.


Selama 20 tahun sudah pekerjaan sebagai penggali kubur dijalaninya, dan ternyata itu mampu menghidupi keluarganya. Apalagi kalau musimnya orang meninggal, bisa-bisa mereka sekeluarga makan daging ayam tiap hari. Tapi kalau tidak ada orderan, alias tidak ada orang yang memintanya membuatkan kuburan, ya seperti sekarang ini, istrinya sampai-sampai harus meminjam beras sama tetangga.


Tapi apakah Jamin selalu berharap atau mendoakan agar ada warga desa yang meninggal? Ah, dia sendiri tidak tahu, yang jelas dia akan senang kalau ada orang yang meninggal dunia


Sebenarnya Halimah sudah sering mengingatkannya agar mencari pekerjaan lain, setidaknya sebagai sampingan jikalau tidak ada orang yang meminta untuk menggali kuburan.


"Bang…sawah peninggalan bapak kan tidak ada yang mengurus. Apa salahnya jika kita yang menggarapnya." Begitu kata Halimah suatu hari.


"Tapi kan kita tidak kekurangan, Mah. Bukankah dengan pekerjaanku sebagai penggali kubur kita masih bisa bertahan hidup?" jawab Jamin.


"Iya, tapi itukan kalau lagi ada orderan. Tidak mungkin tiap hari akan ada orang yang meninggal, Bang." Kalau sudah begitu Jamin akan diam. Memang …tidak mungkin setiap hari ada yang memintanya untuk menggali kuburan. Ada orderan seminggu sekali saja itu sudah lumayan. Tapi begitulah Jamin, tak mau mendengar kata istrinya.




"Jamin!!" Jamin menoleh ke belakang, mencari asal suara yang memanggilnya. Pak Ramli rupanya.


"Ada apa, Pak?" tanya Jamin. Pak Ramli mendekatinya. Saat itulah Jamin baru tersadar, keringat dingin langsung bercucuran di tubuh dan wajahnya. Pak Ramli? Bukankah dia baru kemarin dikuburkan? Bukankah dia sendiri yang menggali kuburan buat Pak Ramli? Jamin berniat lari, tapi kakinya seperti dipakukan ke tanah. Dia hanya mampu berdoa.


"Perbaiki kuburanku, Jamin! Terlalu sempit." Pak Ramli berteriak, marah. "Tak bisakah kau membuat kuburan yang lebih bagus?" ujarnya lagi. Jamin pias. Sesaat dipejamkannya matanya, lalu kemudian dengan kekuatan penuh dia mencoba lagi untuk berlari. Berhasil, sekuat tenaga Jamin berlari.


"Jamin!!! Perbaiki kuburanku." Jamin terus berlari, menutup kedua telinganya. Pak Ramli mengejarnya. Jamin makin panik. Pak Ramli kini tak sendiri. Ada Mak Minah yang meninggal dua minggu lalu, ada Ucok yang masih berusia tujuh tahun -meninggal karena ditabrak motor sewaktu pulang sekolah-, ada Karta, Bedi, juga bayinya Surti yang belum sempat diberi nama, semuanya sudah meninggal, dan semuanya dia yang menggalikan kuburannya. Mengapa mereka mengejarnya?


"Jamin…perbaiki kuburan kami!!!" suara-suara itu terus mengejarnya. Jamin capek, tak kuat lagi. Usianya sudah kepala lima, tak sanggup lagi berlari lebih jauh. Begitu orang-orang (-atau mayat) itu mendekatinya, Jamin berteriak…..


"Tidaaaakk!!!!"


Seseorang memegang pundaknya. Mengguncangnya, Jamin merinding, apakah yang akan mereka perbuat? Membunuhnya?


"Bang…bangun!" itu suara Halimah. Jamin membuka matanya. Halimah duduk di sampingnya dengan segelas air putih ditangan. "Mimpi apa sih, Bang? Kok teriak-teriak begitu." Jamin meminum air di gelas itu sampai habis.


"Mereka mengejarku, Mah?"


"Mereka? Siapa?" Halimah bingung, heran, mimpi apa suaminya?


Saat itulah Jamin melihat Haji Suleman di pintu kamarnya. Haji Suleman, dia tetangga Jamin, rumah mereka bersebelahan. Tapi Haji Suleman telah meninggal sepuluh tahun lalu. Jamin sendiri yang menggalikan kuburan untuknya. Apakah Haji Suleman juga mengincarnya? Tapi kenapa?


"Itu Mah, itu dia…" Jamin menunjuk ke pintu, lalu membenamkan kepalanya di bantal. Halimah heran, tak tahu apa yang harus di perbuat.


"Siapa, Bang?" tanyanya.


"Itu di pintu, Mah. Cepat usir dia, cepat bacakan ayat-ayat suci."


"Bang…mana?" Halimah tak menemukan apapun di pintu.


"Mereka mau membunuhku, cepat usir, Mah." Jamin menggigil ketakutan. Perlahan dia membuka matanya dan kembali menatap ke pintu kamar. Haji Suleman masih di sana. Tapi… dia tersenyum. Sedikit perasaan Jamin jadi tenang.


"Jamin…" Haji Suleman memanggilnya lembut. "Kau tahu kenapa mereka mengejarmu?" Jamin menggeleng. Halimah di sampingnya keheranan. Bingung melihat tingkah Jamin.


"Jamin…mulai sekarang kau harus luruskan kembali niatmu. Memang, jadi penggali kuburan adalah perbuatan mulia, sangat mulia. Bukankah karena itu kau dulu memilih profesi ini?" kembali Jamin mengangguk, dan kembali Halimah keheranan. "Sekarang niatmu sudah menyimpang, sudah membelok dari yang dulu pernah kau janjikan. Niatmu menggali kuburan adalah untuk mendapatkan uang, sehingga kau tidak lagi bekerja dengan ikhlas karena tujuanmu bukan pahala dari Allah. Sehingga hasilnya pun tidak sebaik dan sesempurna dulu lagi." Jamin terdiam, semua yang dikatakan Haji Suleman memang benar.


"Jamin, luruskan kembali niatmu. Bekerjalah karena Allah, jangan karena uang." Usai berkata begitu Haji Suleman menghilang. Jamin tergugu di tempat tidurnya. Dua tetes air mata jatuh merembes di pipinya. Ingatannya melayang pada dua puluh tahun silam.


"Benar kau ingin melanjutkan profesi bapak?" Jamin mengangguk di samping bapaknya yang terbaring lemah. Bapaknya tersenyum bangga.


"Bukankah itu pekerjaan mulia, Pak?" Bapaknya kembali mengangguk.


"Tapi ingat ya? Bekerjalah dengan niat karena Allah semata, jangan pernah mengharapkan imbalan dari pekerjaanmu, kecuali kalau mereka memang ikhlas memberi, yang penting jangan meminta, apalagi sampai memasang tarif." Kembali Jamin meng-iyakan perkataan bapaknya.


Dan kuburan pertama yang digali Jamin adalah kuburan untuk bapaknya sendiri, karena keesokan harinya si bapak meninggal dunia.


"Bang…"Halimah mengguncang tubuh Jamin. Jamin menoleh, menatap istrinya, dan air matanya mengucur makin deras.
Read More..
"Cerpen Fiksi: Jamin atas Kematian dan Kuburanku..!!??" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen FiksiCerpen MitologikaCerpen Religi and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/05/jamin-atas-kematian-dan-kuburanku.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 18:02.

Belajar Online: Hati Versus Jantung

Kita orang Indonesia sangat keliru or salah menilai antara istilah Jantung dan hati. Perkataan “jantung” dalam Bahasa Asing/Inggris disebut sebagai “heart”; manakala “hati” pula ialah liver. Kedua-dua organ dalaman ini terletak di tempat yang berlaian dan mempunyai fungsi yang berbeza. Heart atau jantung bertindak mengepam dan membersihkan darah dalam badan kita dan hati atau liver pula menyimpan glukosa. Dalam Webster’s Dictionary heart disebut sebagai “the seat of emotion” yakni tempat tersimpannya perasaan atau emosi. Oleh itu nyatalah perasan kita terletak di jantung – bukan hati ! Begitu jugak semua ahli psikologi dan psikiatri menganggap emosi terletak di jantung (heart). Contohnya ketika kita marah kenapa muka kita jadi merah? Jawabnya ialah kerana darah dari jantung kita sudah di pam oleh jantung naik ke muka kerana perasaan kita terletak di jantung.. Nyatalah di sini jantung memainkan peranan mencetuskan perasaan kita – bukannya hati (liver). Tetapi anehnya kita orang Indonesia menganggap perasaan itu datangnya dari hati hingga akan terlalu banyak simpulan bahasa kita yang menyatakan perasaan dikaitkan dengan “hati” misalnya sakit hati, busuk hati, tawar hati, keras hati dll. Apakah kita berpendapat perasaan itu datangnya dari hati (liver) bukan jantung (heart) ?

Akibatnya kita telah tersalah terjemah ungkapan “sweet-heart” sebagai “buah hati” yang sepatutnya “buah jantung” kerana heart itu adalah jantung – bukan hati ! Begitu juga istilah “broken-heart bukanlah “patah hati” tetapi lebih tepat lagi disebut “patah jantung” !



Dalam Islam sendiri perkataan heart itu dirujuk kepada jantung – bukan hati. Misalnya dalam bahasa Arab ia disebut sebagai “qalb” atau kalbu. Apakah yang kita maksudkan “kalbu” itu sebagi hati atau jantung? Nabi kita Muhammad SAW pernah berkata, “Dalam diri manusia ada seketul daging yang jika baik daging itu akan baiklah orang itu; begitu juga sebaliknya.” Apakah maksud “seketul daging” itu hati atau jantung ? Nyatalah ulama kita kita telah menterjemahkan seketul daging itu sebagai “hati” (liver) yang sepatutnya “jantung” (heart).




Satu contoh lagi: ketika Nabi Muhammad masih kanak-kanak, malaikat telah membelah dadanya untuk membersihkan satu organ dalamannya. Apakah yang dibersihkan oleh malaikat itu jantung atau hati? Jika organ itu hati kenapa pulak malaikat membedah dada nabi sedangkan hati (liver) bukannya terletak di dada...!!!!!!!!!! Oleh itu nyatalah malaikat telah membersihkan jantung Nabi yang terletak di dada.



Apakah sama perkataan antara “sakit hati” dengan “sakit jantung”..!!!?????? Disinilah letaknya kekeliruan kita !! Apa pendapat anda semua????
Read More..
"Belajar Online: Hati Versus Jantung" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category Belajar Online and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/hati-versus-jantung.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 15:37.

Cerpen: Cerita Fakta Menarik Seputar Bulan

Dari usianya, temen-temen pasti belum mengenal berapa Usia Bulan yang sebenarnya, intip aja yuk:

Usia bulan lebih tua dari yang diperkirakan, bahkan diperkirakan lebih tua daripada bulan dan matahari itu sendiri! Umur Bumi paling tua yang bisa diperkirakan adalah 4.6 Milyar tahun. Sementara itu batuan Bulan malah sudah berumur 5.3 Milyar tahun. Bulan lebih tua 1 milyar tahun ketimbang Bumi!



Lebih keras diatas :

Normalnya sebuah planet akan keras di dalam dan makin lama makin lembut diatas, seperti bumi kita. Tidak demikian hal nya dengan bulan. Bagian dalam bulan seperti berongga, sementara bagian atasnya keras sekeras Titanium. Hal ini lah yang menyebabkan bahwa bulan bagaimanapun juga sangat kuat dan tahan serangan. Kawah terbesar di Bulan berdiameter 300KM, dengan kedalaman hanya 6.4KM. Sementara itu, menurut hitungan ilmuwan, jika batuan yang menubruk bulan tadi, menubruk Bumi, maka akan terbentuk lubang paling tidak sedalam 1.200KM!



Bulan yang berongga juga dibuktikan saat kru Apollo yang meninggalkan Bulan, membuang kembali sisa pesawat yang tidak digunakan kembali ke Bulan . Hasilnya, sebuah gempa dan gema pada permukaan bulan terjadi selama 15 menit. Penemuan ini diulang kembali oleh kru Apollo 13, yang kali ini jatuh lebih keras, menimbulkan gema selama 3 jam 20 menit.



Ibaratnya seperti sedang membunyikan lonceng yang kemudian berdentang, hanya saja karena tidak ada udara, maka suara dentang lonceng yang dihasilkan tidak bisa didengar oleh manusia. Sementara itu, penemuan ini dipertanyakan oleh Carl Sagan, bahwa satelit alamiah nggak mungkin kopong dalam nya.



Bebatuan Bulan :

Asal usul batuan dan debu bulan sendiri tidak jelas, karena perbedaan komposisi pembentuk bulan yang berbeda sekali dengan komposisi batuannya. Batu yang pernah diambil team apollo sebesar 380KG lebih, menunjukkan ada nya bahan unik dan langka seperti Titanium murni, kromium, itrium, dan lain lain. Logam ini sangat keras, tahan panas, anti oksidasi. Jenis logam ini tidak terdapat secara alamiah di alam, dan jelas tidak mungkin terbentuk secara alamiah.



Para ilmuwan juga mengalami kesulitan menembus sisi luar bulan sewaktu mereka mengebor bagian terluar bulan. Setelah di teliti, bagian yang di bor tadi adalah sebuah mineral dengan kandungan titanium, uranium 236 dan neptunium 237. Bahan bahan super keras anti karat, yang juga tidak mungkin terbentuk secara alamiah, karena digunakan di bumi untuk membuat pesawat stealth. Kemungkinan besar, ini logam hasil sepuhan manusia!



Batuan bulan juga entah bagaimana sangat magnetik. Padahal tidak ada medan magnet di Bulan itu sendiri. Berbeda dengan bumi yang banyak sekali mengandung medan magnet.



Air menguap :

Pada 7 Maret 1971, instrumen bulan yang dipasang oleh astronot merekam adanya air melewati permukaan bulan. Uap air tadi bertahan hingga 14 jam dan menutupi permukaan seluas 100 mil persegi.



Ukuran bulan = Matahari ?

Bulan bisa menutupi matahari dalam gerhana bulan total, tapi ukurannya tidak sama. Yang menarik, jarak matahari ke bumi persis 395 kali lipat jarak bulan ke bumi, sedangkan diameter matahari persis 395 kali diameter bulan. Pada saat gerhana matahari total, ukuran bumi dan bulan persis sama, sehingga matahari bisa tertutup bulan secara sempurna. Hitungan ini terlalu cermat dan akurat jika hanya merupakan kebetulan astronomi semata.



Orbit yang aneh :

Orbit bulan merupakan satu satunya yang benar benar hampir bulat sempurna dari semua sistem tata surya kita. Berat utama bulan terletak lebih dekat 6000 kaki ketimbang pusat geometris nya, yang harusnya justru mengakibatkan orbit lengkung. Sesuatu yang tidak diketahui telah membuat bulan stabil pada poros nya. Suatu teori yang belum di yakini benar adanya juga mengatakan bahwa wajah bulan yang selalu sama di setiap hari nya karena adanya suatu hal yang menyebabkan itu. Yang pada intinya, tetap suatu kebetulan astronomi.



Asal usul bulan :

Teori bahwa bulan tadinya adalah sebagian dari bumi yang mental keluar bumi karena tumbukan hebat di masa lalu hampir saja di setujui oleh semua orang, setelah sebelumnya mereka mengira bahwa bulan terbentuk dari debu debu angkasa yang mampat menjadi satelit bumi. Belakangan ini teori menyebutkan bahwa jika bagian sebesar bulan terambil dari bumi, maka bumi tidak akan bisa bulat seperti sekarang. Dan jika bulan tidak berongga, maka tidak mungkin bulan bisa berada menjadi satelit bumi. Terlalu berat dan bulan akan menghantam bumi.



Teori teori asal usul bulan kembali dipertanyakan, dan teori paling gila sepanjang sejarah mulai muncul, bahwa bulan diciptakan dengan sengaja oleh manusia terdahulu sebagai alat bantu dalam navigasi dan juga astronomi!



Bulan adalah kapal luar angkasa?

Kesempurnaan bulan yang keterlaluan, dan berbagai anomali yang ada dibulan, plus ditambah banyaknya benda benda terbang tak dikenal di bulan membuat banyak pihak mengatakan bahwa kemungkinan besar bulan adalah sebuah pesawat luar angkasa super besar yang diciptakan oleh mahluk cerdas pendahulu kita. Dan bulan BELUM ditinggalkan oleh penghuni nya! Semua kru Apollo dan astronot astronot lain atau peneliti bulan, semuanya telah melihat cahaya cahya adan benda benda terbang tak dikenal yang lalu lalang diantara bulan, muncul dan hilang begitu saja, bahkan selalu menyertai setiap kedatangan dan kepergian para team astronot yang mengunjungi bulan.
Read More..
"Cerpen: Cerita Fakta Menarik Seputar Bulan" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category Belajar OnlineCerpen and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/cerita-fakta-menarik-seputar-bulan.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 12:54.

Artikel Motivasi: Belajar Rendah Hati dan Sabar

Ada banyak kisah tentang kerendahhatian dan kesabaran Rasulullah SAW.


Di antaranya tentang kisah seorang tua musyrik yang membenci Nabi SAW.





Suatu ketika dia dibantu oleh seorang lebih muda menurunkan barang-barangnya


dengan baik hati dan sangat sopan. Orang tua itu bercerita tentang bagaimana





bencinya dia dengan Nabi Muhammad SAW, mengenai jelek akhlaqnya, jeleknya


ajarannya dsb. Orang (lebih) muda tersebut tenang dan tersenyum.





Tiada kebencian di wajahnya. Orang tua itu kagum sekali dengan orang muda


tersebut, dan bertanya,








"Siapakah Anda?"


"Saya Muhammad", jawab orang muda itu dengan tenang.


"Muhammad?", orang tua itu kaget dan terpana.


Orang yang baik hati itu ternyata adalah orang yang dicelanya... .


Akhirnya dia masuk Islam.





Dalam kisah yang lain, seorang Badui yang baru masuk Islam, kencing di dalam


masjid dengan santainya. Barangkali begitu kebiasaan di kaumnya, kencing


seenaknya.


Sehingga Sayidina Umar RA marah dan hendak memukul badui itu, namun


Rasulullah SAW mencegahnya, dan meminta untuk dibersihkan. Kemudian Baliau


menasehati si badui dengan sabar, sehingga si Badui ini sadar. Kisah


kesabaran & kerendahhatian Rasulullah SAW ini, bisa panjang sekali jika


diceritakan.





Salah satu kelemahan kita sebagai manusia adalah merasa diri kita "lebih"


dari orang lain. Dalam pelatihan dikenal istilah "above average syndromme",


yaitu bahwa


dalam berbagai sampling kebanyakan orang merasa dirinya lebih baik dari


rata-2 orang kebanyakan. Ini terjadi di semua kalangan, sehingga tidak aneh,


menceritakan kejelekan orang adalah salah satu yang disukai oleh kebanyakan


kita...





Ada banyak alasan orang untuk merasa lebih dari orang lain, dari yang paling


kelihatan sampai yang agak sumir. Yang paling kelihatan dan mudah adalah


merasa


lebih karena kecantikan, jabatan, kekayaan. Yang mulai agak tidak kelihatan


adalah keahlian, kecerdasan. Dan yang cukup sumir adalah merasa lebih baik


amalan,


akhlaq atau agamanya.





Kita sering melihat rendah orang lain atau sebaliknya "silau", karena


jabatannya.


Kadang kita memandang rendah orang lain, karena kita anggap "bodoh",naif.


Namun, bisa jadi kadang kita melihat rendah orang lain, karena kita anggap


ilmunya "cetek" atau kurang saleh dibanding kita ...





Suatu ketika seseorang bertanya Imam Ali bin Abi Thalib kw, "Apakah tangga


paling rendah dari mengenal Allah itu?".


"Tangga terendah adalah ketika engkau merasa bahwa tidak ada orang yang


paling patut disiksa di neraka selain dirinya", jawab


Imam Ali.


Orang itu pingsan. Ketika dia bangun, dia bertanya lagi, "Lalu di atasnya


apa lagi".


"Di atasnya ada 70 tingkatan lagi".





Puasa ramadhan, di antaranya, mengajarkan kita untuk rendah hati dan sabar.


Kita ini tidak ada apa-apanya. Kita lemah, tidak makan sebentar saja fisik


kita sudah "lemah".


Badan kita bisa saja kuat dan kukuh, melebihi Ade Rai, namun kekukuhan badan


kita itu ditopang dari luar, yaitu makanan & minuman.


Konon agar badannya seperti Ade Rai, kita harus makan telur (putihnya saja)


hingga 20 butir sehari.


Ketika kita tidak makan, badan kita seperti pakaian lusuh, tidak bisa


bergerak.


Ya, kita ini pada hakekatnya makhluk yang lemah, tidak ada yang layak kita


sombongkan.





Kesabaran dan rendah hati adalah seperti sisi mata uang. Kita tidak bisa


sabar, tanpa rendah hati.


Tanpa kerendahhatian, yang muncul adalah sakit hati. Kita sabar secara


fisik, namun hati kita sakit.


Rendah hati juga hanya bisa dengan kesabaran. Dan keduanya berasal dari hati


yang luas. Hanya hati yang luas, yang mampu menampung kesabaran


dan rendah hati. Hati yang luas, pada akhirnya adalah hati yang pasrah


kepada Allah Yang Maha Luas. Hanya dengan memasrahkan segalanya, mengalirkan


semuanya kepada Allah, hati kita menjadi luas.





Sebaliknya tinggi hati dan marah adalah berasal dari hati yang sempit,


sehingga hati kita tidak mampu menerima hal2 yang tidak sesuai dengan


keinginan dan kehendak kita, tidak mampu menerima kelebihan dan kekuarangan


orang lain. Hati yang sempit ini pada akhirnya mengikuti sikap setan/iblis.





Konon Iblis adalah salah satu makhluk yang sudah tinggi derajatnya dan


selalu beribadah, sayangnya dia tidak mau menerima orang lain (Nabi Adam AS)


diberi kelebihan oleh Allah SWT. Sehingga dia menolak dan tinggi hati (abaa


wastakbara), ketika dia diperintahkan untuk bersujud kepada Adam AS. Inilah


kejatuhan Iblis.





Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah)


orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila


orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang


mengandung) keselamatan. (QS. 25:63)





Sikap rendah hati, sesungguhnya sangat baik dan cocok untuk siapa saja.


Rendah hati akan menjadi hiasan yang menambah kemuliaan siapa pun. Kalau dia


orang


cerdas, maka akan semakin mulia jika dia rendah hati. Sedang jika dia bodoh,


maka rendah hati akan menjadi penutupnya. Coba kalau sebaliknya.. ..





Sayangnya, kita (terutama saya) lebih belajar untuk mengangkat diri sendiri,


dan merendahkan orang lain. Semoga keberkahan Ramadhan menghiasi kita dengan





sikap rendah hati dan sabar. Amiiiiin. (Oleh Abuafkar)
Read More..
"Artikel Motivasi: Belajar Rendah Hati dan Sabar" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category MotivasiProsaPuisi Islami and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/belajar-rendah-hati-dan-sabar.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 12:23.

Cerpen Mitologika: Cerita Batu Mutiara ku

Cerpen nyata ini hanya untuk yang tahu bagaimana memulai, membaca, membumi.......

Aku sudah merunut waktu dari aku bangun pagi sampai tidur lagi. Melipat-lipat kenyataan yang terjadi sekedar untuk menyesali atau untuk seleksi pribadi.
Tapi hari ini runutanku menemui jalan buntu..

Pagi ini, saat aku terbangun, aku mendapati tanganku menggenggam tiga butir batu. Batu pekat mengkilap. Hm, sepertinya aku tidak membawa batu ini dari mimpi. Aku hanya bermimpi menjadi ulat. Jadi..dari mana datangnya batu ini?

Aku bertanya pada siapapun yang kutemui. Kutanya apakah mereka pernah memiliki batu seperti yang aku bawa ? apakah mereka kehilangan batu ? kutanya apa mereka pernah melihat batu yang berjalan sendiri kemudian mendekam manis di kepalan ? Kutanya apakah meraka pernah berteman dengan batu ?

Mereka mencaciku ! mengatakan bahwa aku tak lebih dari mahluk bodoh yang terpukau dengan bualannya sendiri.

Aku tertawa. Kubilang mungkin. Mungkin aku sedang terpukau tapi aku tak bodoh. Aku bukan batu. Mereka tak sadar mereka sendiri cukup bodoh karena tak mau mengakui keberadaan batu. Bukankah mereka terlihat lebih keras dari batu?

Ya sudah. Aku pulang. Menemui ranjangku, berharap saat aku tidur batu itu akan kembali ke tempatnya semula atau bisa jadi tertarik ke mimpiku, atau ke dunia lain, mungkin.

Sebelum terpejam, aku ucapkan selamat malam, selamat tinggal pada tiga batu itu. Lalu aku akan menunggu sampai aku menamatkan lelah.

Pagi ini, saat aku terbangun, aku mendapati tanganku menggenggam sesuatu. Kupikir batu itu tak ingin pergi meninggalkanku. Sebelum kubuka mata, dengan kekuatan penuh, aku bertekad akan menjaga baik-baik tiga batu itu, menyayanginya dan merawatnya agar tak sampai terinjak oleh kaki-kaki yang tak pernah mau menatap ke bawah.

Pagi ini, saat kubuka mata, kudapati tanganku bercahaya. Tak ada batu, hanya ada mutiara......
Read More..
"Cerpen Mitologika: Cerita Batu Mutiara ku" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen MitologikaCerpen MotivasiCerpen Pengalaman Pribadi and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/cerita-batu-mutiara-ku.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 13:40.

Cerpen Budaya: Cerita Tiga Lelaki

Air mata telah mengalir sepanjang jalan desa Yilaga. Bersahut lengking burung cerek yang terbang berombongan sebelum malam mengelam. Bocah-bocah suku Dani cepat berjalan pulang, bukan karena suara “krek-krek” burung itu yang menyakitkan, tapi malam memang selalu menakutkan buat kesucian mereka.

Namun lonceng gereja tetap berkumandang. Hari minggu, suara lonceng kecil itu akan tetap mengusik telinga, terutama di kalangan suku Dani yang masih bertebaran di sepanjang kecamatan Mapenduma.

Senandung lelaki itu pun mungkin masih akan terdengar bergumaman di sepanjang desa yang berwajah hutan. Berpadu dengan suara kus-kus, burung cerek dan dedaunan pohon liar, barangkali Yilaga akan tetap damai, tenang dan aman bila tidak muncul bunyi jerajak sepatu dan senjata dikokang. Tapi semua harus terjadi, malam akan jadi mirip pasar. Pasti akan ada rentetan peluru, orang-orang yang berlari panik dan bau kematian yang telah menyergap. Amis, sungguh amis sekali kekelaman ini.

Itulah yang berpecahan di telinga Mundro. Malam di kecamatan Mapenduma tiba-tiba saja tersayat. Kepala Mundro kini telah berputar cepat. Naluri untuk mempertahankan hidup pun mulai bereaksi atas serangan mendadak musuh. Sudah beberapa bulan ia hidup berpindah, sekarang nyawa baginya tak lebih dari kertas tipis yang siap untuk diterbangkan angin.

Tak ada lagi lamunan. Semua pecah! Mundro telah melesat dari pembaringan.

“Mana, mana senjata? Sial! Ditaruh dimana?”

Kakinya cepat menelusuri ruangan. Spontan meraih senjata yang tergeletak tak karuan di bawah meja. Peluru! Peluru! Mundro segera keluar dan melesat di rimbun semak liar sebelah utara rumah.

Tapi suara berkerosak membuat langkah kakinya yang tegap, keras dan liat jadi tertahan. Tubuhnya bergetar, kupingnya terangsang.

“Mundro, kakak Mundro. Saya adik Waina!”

Refleks, kaki Mundro meloncat dan menerjang ke arah suara. Didapatinya tubuh yang tergolek lemah. Rupanya lelaki muda itu sedang sekarat.

Diciuminya tubuh Waina yang tersungkur.

“Kakak Mundro, pergi! Tak ada lagi yang tersisa disana. Cuma darah. Cuma darah, Kakak. Dan bangkai. Pergi lekas. Tapi jangan lewat mata air. Pergi ke sungai sana, ke sungai jernih. Roh kami akan menyertai kakak selamanya.”

“Adik…”

“Pergilah sana! Apalagi yang Kakak beratkan? Saya juga akan mati. Percayalah, sebentar lagi pun saya akan mati.”

Dan Mundro makin bergejolak. Rasa takut telah dikalahkan oleh mata gelap, dia malahan mengepalkan ototnya. Mata nyalang sambil menggenggam senjata teracung. Tubuh yang keras bersama gelap malam itu kemudian menyeruak di antara semak dan pepohonan liar. Mundro berlari ke arah seluruh bunyi tembakan tadi berasal. Dia tak mau lagi ambil perduli, apakah senjata mereka masih di pinggang atau sudah siap menyerang.

“Adik Waina, mati muda! Hooi, musuhhh! Kecil saja, kau tak tahukah? Maju, lawan ini, putera pemberani Mundro! Akkkhhhhh…”

Sebuah peluru terlalu cepat sekali datang dan menghantam pahanya. Kena, Mundro mengerang. Dia terjerembab, tak mampu mengetahui dari arah mana peluru tadi berasal. Suara Waina tiba-tiba saja terngiang kembali di telinganya. Matanya berkeliling. Bayang wajah sobat-sobatnya bagaikan telah menjadi roh yang nyata berteriak dan menggema di sepanjang jalanan hutan yang kelam. Menariknya agar menjauh dari medan peperangan dan pembantaian. Dia bagai terseret oleh tenaga dashyat. Tersaruk-saruk. Jatuh terlempar senjatanya di rimbun pohon hutan yang luas tak terkira. Sementara suara peluru makin menghilang di belakang kepalanya. Dan Mundro baru sadar ketika lari membuat dada hampir meledak. Menggelosor tubuhnya di pinggir batu sungai, tergeletak kepayahan di atas tanah yang lembab.

Lamat-lamat, dirasakan Mundro percik air sungai menyiram kepalanya. Dingin, sejuk sekali. Matanya masih mengedarkan pandang mencoba mengembalikan kesadaran untuk tahu dimana kini tubuhnya berada…



Medio Desember, bendera hitam-putih-merah di sebelah kiri dengan dua belas bintang di sebelah kanan memang sempat berkibar di setiap pojok kota Jayapura. Walau pun tak mendapatkan reaksi meriah dari kabupaten yang lain, namun sejarah adalah aliran air sungai yang akan membawa rahasianya ke laut.

Dan bocah-bocah di pinggiran sungai itu akan tetap menari. Bertelanjang badan, dilekati pasir, mereka akan terus berlari dengan penuh keriangan hati…



Kecamatan Kuyawagi, beratus meter dari dusun Yilaga, berbulan setelah peristiwa kematian Waina...



“Selamat malam, Gobel. Keributan seminggu yang lalu ternyata belum selesai juga. Masih banyak musuh yang berkeliaran di desa Yilaga. Entah apa maunya mereka. Tiba-tiba saja masih muncul serangan pada beberapa saudara kita yang mencari makanan tambahan,” beritahu saya sambil melempar noken ke ujung bilik yang kami jadikan sebagai tempat persembunyian darurat di hutan.

“Dan kalian berhasil membalasnya?”

Saya lihat si muda Mundro melepas kaus oblongnya yang telah berbau keringat. Sambil menggerutu, “Aku sudah jadi seperti harimau saja. Selalu perang dan perang, dikejar dan mengejar.” Lalu kedua matanya yang hitam putih di antara wajah yang berkerut itu mengerling cepat. Saya memberikan senyum kepadanya.”

“Puluhan dari kita, tapi sedikit dari mereka. Bagaimana, Gobel? Tidakkah itu menakutkan bagimu?” jawab saya sambil mencomot dua potong ketela bakar yang masih tersisa di atas meja.

“Apa?” Gobel terkaget. Ditangkapnya tangan saya, seketika kekekaran beradu dalam getaran tangan ketika kami saling mencekal. Dua lelaki nampak mengadu kejantanan.

“Bodoh, Titus! Kenapa bisa sebanyak itu dari kita? Mengapa? Mereka kawan kita, yang bisa terhitung jumlahnya. Habis, habislah kita…”

Sambil terus berteriak, Gobel terus mengguncang tubuh saya. Saya yang kebingungan setengah bercampur takut, cuma bisa menatapi wajah pemimpin yang dihormati dengan rasa tak percaya. Tapi tampaknya memang kecemasan yang membuat dia jadi panik semacam itu. Walau kesal, namun saya berusaha tahan untuk jadi bulan-bulanan Gobel.

Tapi si Mundro telah berpaling dan melompat. Ditatapnya saya dan Gobel dalam-dalam. Lama. Cukup lama.Hingga tiba-tiba dadanya jadi bergetar keras. Sesak, dibantingnya kepala kuat-kuat ke kayu tiang penyangga rumah. Lalu dia meraung seperti bunyi genderang pemujaan seorang dukun kepada dewa-dewa. Bicaranya patah-patah. Begitu tersendat.

"Kematian Wellem, Jhony, adik Waina, bisakah aku menangis? Bisa, Gobel dan Titus? Tapi mengapa kalian masih saja bertengkar di tengah perang? Setelah lama kita tak punya rumah, tak punya apa-apa lagi yang bisa dimiliki. Lelah dalam pelarian di hutan yang sebenarnya milik kita. Lalu dikatakan sebagai pengacau di hutan yang bersahabat dan mengenal kita sejak kecil. Aku tak tahu. Aku tak mengerti, Gobel. Entah semua!" matanya tiba-tiba berkilat memandangi kekerasan wajah dan hati sang pemimpin.

Benar, Gobel sobat kami. Tapi keberanian Mundro tiba-tiba saja jadi saya syukuri. Tepatnya, saya dan Mundro sungguh tak selalu mau dipersalahkan pada kejadian-kejadian yang tak sepenuhnya dapat kami kontrol secara penuh. Lalu siapakah Gobel? Mungkin cuma kacamata dan kepandaiannya saja yang mampu menguasai kami. Tapi ketakutan ini sungguh telah berujung pada sebuah pemikiran yang tak bisa dipermaklumkan.

"Gobel, bisakah rohku ini menyeret sobat-sobat untuk kembali ke jasad yang pecah karena peluru itu? Dan dewa, siapa dia sekarang yang patut kita percayai lagi? Jawab, Gobel! Jawab!" teriaknya sambil maju mendekat ke tubuh sang pemimpin. Lalu terdengar sedikit bunyi sobekan, karena saya dengan cepat telah menepis tangan yang mencekal baju sang pemimpin. Sungguh, bagaimanapun saya tetap tak menginginkan permusuhan di antara saudara. Sekali pun berita kekalahan yang barusan tersiar telah membuat saya mempersiapkan sebuah rencana.

Karena itu, saya cepat menyahuti si lelaki muda yang tiba-tiba saja menjadi begitu berani itu. "Ya, dengarlah sahabat sekaligus pemimpinku, Gobel. Nama saya Titus, engkau telah bertahun-tahun mengenalku. Keluargaku hampir seluruhnya mati dalam medan pertempuran di hari naas itu. Namun kini, izinkanlah saya untuk melepaskan kami semua punya kekuatan. Sebab bagi kami yang bodoh, memang tak ada lagi makna yang terlalu cerdas untuk menterjemahkan kemerdekaan. Persetan, Gobel. Sungguh persetan apa itu pengakuan! Karena cuma dengan melepaskan dendam dan ketakutan, lalu pergi jauh ke dalam tanah milik kita sendiri, kita mungkin bisa lebih tenang. Sungguh, siapa yang tak merindukan mantera para lelaki Dani pada suatu malam, seperti kenangan kanak kita dulu?"

Mundro masih menangis. Keras-keras digigitinya ketela yang barusan saja dicomot dari atas piring. Peristiwa demi peristiwa demikian mengerikan. Mereka yang cerai-berai oleh hujan cuma beberapa saja yang selamat. Walau pun perih, namun lelaki itu masih mampu mengingatnya.

Gobel terhenyak. Keningnya itu makin tampak berkerut. Perlahan, dia menurunkan kacamatanya di atas sebuah buku lusuh. Lalu dia ikut bertekuk lutut bersama saya dan Mundro di atas lantai tanah. Aku jadi memandang tak berkedip. Bagaimana pun, dia tetaplah pemimpin kami, sampai kapan pun saya tetap akan mengingatnya. Kerendahan hatinya tiba-tiba membuat kami terharu dan kehilangan bahasa. Lama juga kami bertiga diam berpelukan sampai dirasakan sesenggukan pemuda Mundro mulai menghilang.

"Pergilah kalau itu memang keinginan kalian. Tapi sungguh rahasia tempat dan perjuangan kita ini ditaruh atas nama nyawa dan perjuangan abadi kita semua. Selalu dan selalu. Ingat?"

Kami berdua cepat mengangguk.

Malamnya, upacara untuk melepaskan kami pun diadakan. Penuh mantera. Penuh kegaiban. Kami tak tahu apakah yang di depan kami sebuah kebahagiaan, ataukah justru perjuangan ini yang dinamakan kesejatian?

Entahlah, sampai sekarang pun saya tak bisa menjawab….

Dimana Mundro kini berada? Pinggiran desa Tiom? Kuyawagi? Akh, dimana sajalah dia. Asal bukan dalam kenangan di medan peperangan Mapenduma. Sampai mati pun, semua laki-laki tak ada yang mau mengingatnya. Sedang saya sudah memutuskan untuk angkat kaki dari tempat itu. Tapi sungguh, biar saya dikatakan menyerah, saya sungguh tak mampu lagi menanggung trauma pembantaian keluarga saya dimasa lalu.

Saya lihat dan dengar kabar dari gambar di tv, foto, koran dan isu teman di kota, sampai sekarang Gobel masih bertahan di hutan sebelah timur sana…
Read More..
"Cerpen Budaya: Cerita Tiga Lelaki" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen BudayaCerpen FiksiCerpen MitologikaCerpen Motivasi and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/cerita-tiga-lelaki.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 13:29.

Cerpen Religi: Mohon Kembalikan Aku ke Surga..!!!

Sungguh aku terperangah melihat sosok tadi siang masih terbaring di tengah lapangan. Aku yakin sekali sosok itu yang kulihat tadi siang memakai baju hijau berkotak-kotak dengan celana hitam. Sebenarnya bagiku bukan lantaran sosok itu masih terbaring sudah berjam-jam di tengah lapangan bola, melainkan wajah teduh dengan mata dan bibir yang terkatup rapat seakan-akan membias senyum itu mengingatkan aku pada seseorang yang pernah kulihat. Tapi siapa? Aku terus memutar otakku.

Orang-orang di sekelilingku sudah ribut mempertanyakan orang asing itu. Walaupun orang sudah ramai mengerumuninya, kebanyakan pemuda yang mau bermain sepak bola dan anak-anak serta beberapa orang pejalan kaki yang sedang lewat memotong lapangan, pria yang telentang itu sama sekali tidak terusik.

"Masya Allah, dia ... dia ... tokoh khayalan dalam cerpenku," kataku lirih. Aku terpaku tak percaya.

"Mas, bangun, bangun. Jangan tidur di lapangan!" seru salah seorang pemuda berkostum merah muda.

Pria itu tetap tak bergeming.

"Sudah mati kali!" celetuk seorang anak.

"Ah, nggak mungkin. Dadanya masih turun naik bernapas."

"Gila kali!" celetuk yang lain.

"Ah, nggak mungkin juga. Masa' orang gila pakaiannya rapi, ganteng lagi?!"

Karena penasaran aku maju ke depan dan berjongkok dekat kepalanya lalu kutepuk pelan pipinya.

"Mas, Mas, bangun!"

Perlahan kelopak matanya terbuka. Aku bangkit kembali dan bergabung dengan kerumunan orang-orang. Dia dengan tenangnya memandang kami, padahal kami keheranan menatapnya.

"Apa saya berada di Yogyakarta?" tanyanya tenang.

Orang-orang semakin ribut berbisik. Orang gilakah tidak sadar berada di mana?

"Mas dari mana?" tanyaku cepat.

"Dari surga!" sahutnya singkat yang diikuti oleh ledakan tawa dari orang-orang yang mengerumuninya. Akan tetapi aku tidak. Darahku terasa mendesir naik ke kepala. Jawabannya sesuai dengan jawaban tokoh khayalan dalam cerpenku.
"Kenapa kalian tertawa? Saya memang dari surga yang sengaja turun ke Yogya," katanya.

"Sudahlah, Mas. Minggir sana, jangan buat sok gila. Nanti gila betulan baru tahu rasa."

"Ini Yogya 'kan?" Pria itu kembali bertanya. Dia tidak lagi meyakinkan dirinya sungguh-sungguh dari surga. Pakaiannya dikibas-kibaskan dari debu yang melengket.

"Jangan berlagak tolol, Mas. Ya jelas ini Yogya. Tolong Mas keluar dari lapangan. Kami mau main bola," kata pemain bola berkostum hijau muda. "Sudah, sudah. Yang lain semua keluar dari lapangan!"

Semuanya bubar. Orang yang mengaku dari surga itu juga berlalu dan masih sempat diperhatikan sebagian orang kerumunan tadi, termasuk aku.

Sulit dipercaya memang, tetapi bukankah di dunia ini banyak sekali yang tidak mungkin menjadi mungkin? Tiada yang tidak mungkin, kata orang pintar! Apakah ini hanya kebetulan atau takdir Tuhan sedang berlaku? Aku sangat yakin orang yang mengaku dari surga itu tokoh utama dalam cerpenku. Dia turun ke Yogya setelah Tuhan mengizinkannya, dan akhir cerita kututup dengan tragis dia tidak bisa kembali ke surga.

"Masya Allah!" Aku terkesiap. "Apakah aku ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pahlawan membantu lelaki itu kembali ke surga?" Entah benar atau tidak, aku segera mengikutinya. Ingatanku terus mengalir. Lelaki itu bernama Puri.

Sekarang Puri masuk ke warung makan di pinggir jalan. Dia pesan seporsi nasi dengan lauk ayam tiga potong. Puri makan banyak. Setelah selesai, tanpa rasa berdosa dia keluar.

"Eh Mas, bayar dulu!" tegur wanita paruh baya, pemilik warung.

Puri melongo memandangnya. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi.

"Kenapa bayar?" tanya Puri heran.

"Ya bayar. Habis makan dibayar. Makan di sini enggak gratis."

Puri menebarkan pandangan ke sekeliling warung. Orang-orang yang sedang makan menatapnya dengan geli. Puri baru menyadari kalau dirinya sedang berada di bumi, bukan di surga yang serba gratis. Walaupun di saku baju dan celana tidak ada uang, Puri tetap merogohnya dengan setitik harapan Tuhan mengirimkan uang untuknya, namun sakunya tetap kosong. Tatapan cemasnya kembali disebarkan ke seluruh ruangan.

"Saya tidak ada uang, Bu."

"Kalau enggak punya duit kok makan? Jangan kamu pikir saya akan beri makan gratis buat kamu. Tiga potong kamu makan ayam goreng, semuanya sembilan ribu. Pokoknya harus bayar. Bagaimana caramu harus bayar, saya enggak peduli. Pinjam sama temanmu, atau siapa kek. Itu telepon di belakang boleh dipakai. Nanti sekalian dibayar juga waktu uangnya sudah diantar."

"Tapi, saya tidak ada teman di sini."

"Masa' enggak ada teman? Teman kostmu, teman kuliahmu, atau keluargamu?"

"Saya tidak punya siapa-siapa di sini."

"Lantas kamu lahir bagaimana? Apa jatuh dari langit?"

"Saya dari surga!"

Orang-orang yang sedang makan tersedak. Mau tertawa jadinya batuk-batuk.

"Jangan keburu gila, Mas. Sayang, masih muda. Tampang juga ada!"

Puri menyesal telah mengatakan dirinya dari surga. Puri garuk-garuk kepala sambil menunduk menatap sepatunya. Tiba-tiba ia mendapat ide. Segera dicopot sepatunya. Belum sempat dia utarakan maksudnya, pemilik warung sudah langsung menolak Puri membayar dengan sepatu.

"Habis bagaimana lagi? Kalau Ibu tidak terima juga, saya pasrah mau diapakan saya terima. Saya menyerah."

Ibu pemilik warung diam sebentar. Wajahnya cemberut. "Ya, sudah. Tinggalkan sepatumu!"

Kemudian Puri keluar dari warung. Orang-orang berbisik-bisik sambil geleng-geleng kepala. Gila!

Puri terus menyusuri Jalan Kaliurang dengan telanjang kaki. Dia tidak tahu harus ke mana, tetapi ketika dilihat di pinggir jalan ada sebuah masjid dia singgah di sana. Puri tidak sholat ashar, melainkan tiduran.

Aku kembali mempertanyakan buat apa aku mengintainya? Aku bukan pahlawan, melainkan hanya penonton semata. Sebenarnya saat di warung tadi aku mau menolongnya, tetapi aku sedang tidak bawa uang. Lagi pula aku tahu Puri akan bebas dari warung tersebut. Jadi keberadaanku sekarang buat apa? Ah, pusing aku memikirkannya. Atau mungkin semua ini hanya mimpi? Tidak mungkin tokoh khayalan dalam cerpenku muncul di alam nyata? Kutahu sikap pengecut lari dari kenyataan. Tetapi aku harus bagaimana lagi? Bukankah umumnya manusia jika tidak tahu harus bagaimana lagi, menganggap yang dialaminya adalah mimpi? Semuanya mimpi. Hidup di dunia pun dikatakan mimpi. Kenapa dihidupkan ke dunia, padahal tidak pernah merasa minta dihidupkan?

"Permisi, Mas!" Aku hentikan seorang lelaki pejalan kaki.

"Ada apa?"

"Tolong tinju saya."

Orang itu terpana. Mungkin menganggap permintaanku gila.

"Buat apa?"

"Pokoknya tinju saya sekuat-kuatnya. Jangan khawatir, saya tidak akan membalasnya."

Lelaki itu menyetujuinya. Lalu diambil ancang-ancang, tangan kanan dikepal kemudian dengan kuat diayunkan ke pipi kiriku. Buk!! Aku berteriak keras. Tubuhku terhuyun-huyun, sempoyongan. Toko-toko berputar dan aku tidak mampu lagi berdiri hingga akhirnya roboh. Bruk!!

Sayup-sayup kudengar suara Puri. Ada urusan apa dia?

Kudengar ada suara membangunkanku. Berat kelopak mata kubuka. Masya Allah, ternyata Puri. Berarti aku belum juga bangun dari mimpiku.

Puri memperkenalkan diri dan mengaku telah menolongku dari orang yang meninjuku tadi.

"Apa?!" Sungguh aku terperanjat. Terasa tersentak tubuhku ke belakang dinding masjid tempat kubersandar. Sepenuhnya diriku sadar sekarang, bahwa tokoh sampingan dalam cerpenku sedang kulakoni sendiri. Akulah pemuda yang "ditolong" Puri dalam cerpenku.

"Kenapa, apa aku salah telah menolongmu?"

"Oo…, tidak, tidak. Saya malah berterima kasih pada Mas. Oh ya, nama Mas tadi siapa?"

"Puri!" Kami saling menjabat tangan. Aku pura-pura tidak mengenal, tetapi sekaligus aku telah melakoni tokoh sampingan dalam cerpenku.

"Lazzuardi. Tapi panggil saja, Juar. Mas berasal dari mana, sepertinya bukan dari sini?"

"Sebenarnya saya berasal.…" Puri ragu-ragu mengatakannya. "Kamu pasti tidak percaya, saya sebenarnya dari surga!"

"Apa?!" Aku kembali mengejutkan diri.

"Ceritanya panjang. Sekarang kamu shalat dulu. Nanti saya ceritakan. Itu pun kalau kamu mau mendengarnya."

"Mas, tidak sholat?" tanyaku saat berdiri.

"Saya sudah masuk surga, jadi tidak perlu beribadah lagi."

Aku sudah tahu ia akan menjawab demikian.

Kemudian aku berlalu dari hadapannya dan berwudhu. Kuperhatikan di cermin wajahku terhiasi memar biru bekas tinju tadi. Nyeri saat kusentuh. Sial! Selesai berwudhu, kutunaikan sholat magrib secara berjamaah dan kemudian aku langsung keluar dari masjid, tidak mau menemui Puri.

"Hei, Juar!"

Ya, Tuhan! Dia mengikutiku. Cerita sudah agak melenceng. Dalam cerpenku akulah yang menemuinya karena terdorong oleh rasa ingin tahu mengenai dirinya yang berasal dari surga. Lalu seperti yang kuduga dia ingin ikut denganku karena malam ini dia tidak ada tempat menginap. Aku berusaha keras menolaknya hingga terjadilah dialog panjang dengannya. Aku tidak mengerti kenapa Tuhan mempertemukan aku dengannya. Akhirnya kuputuskan dia boleh ikut ke rumahku, setelah susah payah kukira dia membujukku.

Dalam perjalanan pulang aku bertanya tentang asal-usulnya untuk menghilangkan kesan aku telah mengenalnya. Aku dengarkan kisahnya seperti seorang anak yang mendengar penjelasan ayahnya.

"Saya juga heran, kenapa saya sangat ingin sekali ke Yogya, padahal di surga jauh lebih enak. Keinginan saya ke Yogya tidak dapat saya bendung, sehingga saya memohon kepada Tuhan agar dibolehkan turun ke Yogya."

Tiba-tiba aku merasa bersalah. Kupikir karena ide akulah dia turun ke Yogya.

"Eh, omong-omong wajah Tuhan bagaimana? Apa benar wajah Tuhan berjenggot, berjambang, berambut gondrong, dan hanya kelihatan kepala Tuhan saja yang besaaar sekali?"

"Astaghfirullah. Siapa bilang rupa Tuhan demikian?"

"Saya melihat wajah Tuhan di film-film."

"Tuhan yang mana?"

"Lho, memangnya Tuhan ada berapa?"

"Tiada Tuhan selain Allah dan tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya"

"Lantas rupa Tuhan bagaimana? Katanya Mas sudah berbicara dengan Tuhan. Pasti sudah lihat rupa-Nya, dong?"

"Maha Besar Allah. Tiada kata untuk melukiskan wajah-Nya."

"Bahasa Inggris juga boleh. Aiyem andersten."

"Tiada kata-kata."

"Kalau begitu bahasa Arab?"

Puri tetap menggeleng. "Tiada kata, dan tiada sesuatu pun yang ada di langit dan di bumi bisa diumpamakan dengan wajah Allah."

"Lalu bagaimana, apakah Mas tidak ada kesan apa pun saat melihat wajah-Nya?"

"Ada. Kala kupandang wajah-Nya, kenikmatan surga hilang seketika. Saya malah dilenakan dengan kenikmatan memandang wajah-Nya yang tiada tara."

Aku sudah tahu!

Siang itu ketika aku pulang, rumah kontrakanku sepi. Sayup-sayup kudengar desahan wanita dari kamarku. Aku langsung bisa menebak Puri sedang bercinta dengan seseorang gadis yang disangkanya bidadari surga kiriman Tuhan untuk memenuhi kebutuhan seksualnya seperti yang didapatkannya di surga. Karena penasaran aku intip dari lubang pintu, siapakah gadis itu? Masya Allah! Darahku mendidih. Pintu kamar kudorong segera.

"Sarna!!!" Istri tercintaku yang pulang kampung kemarin kini kembali sudah berselingkuh.

"Hah, Mas Juar!" Sarna segera menyelimuti tubuhnya dan Puri mengambil pakaiannya. Secepat cahaya kucengkeram lehernya dan kubenturkan ke dinding. Kutonjok dia, kutinju, kubogem, kutendang dan kusentak lalu kuinjak-injak.

"Mengaku orang surga, tetapi kamu nodai istriku. Kau iblis, kepicikanmu melebihi iblis."

"Mas, Mas hentikan!"

"Kau Sarna! Harga dirimu sebagai wanita jatuh ke titik terendah, serendah-rendahnya. Kau khianati aku, suamimu. Ohh ... teganya dirimu."

Aku bersimpuh dan menangisi sialnya nasibku.

"Mas, maafkan aku. Ini hanya kecelakaan. Aku tak sadar melakukannya."

"Setan! Pergi kau dari rumahku. Detik ini pula kau kutalak tiga!"

"Mas ..."

"Pergi, pergi, kataku. Kau dengar?!!!" Suaraku memenuhi kamar. "Kau wanita busuk, busukmu melebihi bangkai. Aku muak melihat wajahmu."

Sarna pergi. Kini tinggal Puri. "Kau ..."

"Tunggu dulu, Juar. Kamu tidak boleh langsung menghukumku tanpa mendengarkan alasanku. Demi Allah, kukira Sarna adalah bidadari surga kiriman Tuhan buatku."

"Iblis! Kau masih pula mengaku orang surga. Apa kau tidak sadar juga bahwa kau sekarang hidup di bumi yang mesti makan, minum, berak, tidur, mandi dan lain-lain, serta harus melaksanakan perintah dan larangan Tuhan supaya kelak kau baru bisa masuk surga. Tapi apa yang telah kau lakukan barusan? Kau sebenarnya orang surga dunia. Dunia adalah surgamu!"

"A ... aku benar-benar orang surga turun ke bumi."

"Kau manusia pemimpi. Gila surga! Seandainya pun kau sungguh orang surga, Tuhan tidak akan mengembalikanmu ke surga. Tuhan murka melihat apa yang telah kau lakukan barusan!"

Aku menyeretnya keluar rumah. Baju dan celananya kulempar ke arahnya, lalu segera kukunci pintu rumahku. Aku melorot di sisi daun pintu sambil menangis. Aku tidak menyangka Sarna yang kuanggap istri yang baik dan sholehah melakukan perbuatan keji tersebut. Ingatanku kembali jernih dalam cerita cerpenku gadis yang bercinta dengan Puri adalah pacar si tokoh sampingan yang tergoda karena ketampanan Puri dan si tokoh sampingan itu pun marah besar mengetahui hal itu hingga diputuskan pacarnya.

Sungguh aku sama sekali tidak mengerti apa maunya Tuhan menimpakan semua ini padaku. Aku percaya setiap kejadian ada hikmahnya. Lalu apa hikmahku sekarang sampai-sampai istriku mesti kuceraikan?

Aku menuju ke kamarku dan mengambil naskah cerpen copian yang sudah lama tersimpan di laci pribadiku. Kubaca bagian penutup cerpen:

Setelah diusir dari rumah teman yang baru dikenalnya, Puri berputar-putar di kota Yogya. Puri sering duduk di emperan toko, di trotoar jalan dan di mana saja menanti keajaiban Tuhan mengembalikannnya ke surga. Dalam penantiannya ia rela tidak makan dan mandi berhari-hari, sehingga tubuhnya menjadi kerempeng, baju dan celananya kecoklatan, rambut dan bulu-bulu penuhi wajahnya yang dilapisi debu. Jika lapar menyerang, ia mengais bak sampah mencari sisa-sisa makanan lalu ia menanti kembali. Adapun orang-orang yang mau berbaik hati hendak mengembalikan Puri ke keluarganya supaya tidak lagi berada di jalanan, Puri menjawab: Mohon, kembalikan Aku ke Surga!
Read More..
"Cerpen Religi: Mohon Kembalikan Aku ke Surga..!!!" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen FiksiCerpen Religi and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/mohon-kembalikan-aku-ke-surga.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 13:15.

Cerpen Motivasi: Cinta...!!! 1000 dapet tiga.

Sholihul H.

Sumirah Mencari Cinta. Bahkan sampai malam menggantung di pucuk kelam, Sumirah masih berjalan menyusuri desa. Bintang-bintang gemelitik di langit.

"Mau ke mana malam-malam begini, Sumirah?"

Orang-orang Sakagiri yang kerjanya saban hari bergerombol di tepi jalan, memandang Sumirah dengan tatapan mata rembulan.

"Mencari cinta."

"Ha. Ha. Ha. Tak ada cinta abadi di bumi ini."

Sumirah menoleh.

"Hentikan pencarian itu, Sumirah." Lelaki tua di pojok jalan menyela.

"Iya. Berhentilah."

"Sia-sia saja. Berhentilah."

"Berhentilah. Lebih baik duduk-duduk di sini. Buat apa capek-capek. Ah, genit amat."

"Duduklah. Mari, beri aku api kan kuberi cinta yang kau cari."

"Ha. Ha. Ha."

"Hus."

Sumirah tersenyum.

"Permisi. #SelamatMalam."



Sarpan Sang Pemikat

Sumirah tak kuasa menahan genderang cinta gemuruh di dadanya.

"Ibu, izinkan aku mengembara."

"Mengembara? Itu cuma milik para pendekar. Kau bukan pendekar, anakku. Kau gadis cantik, punya bulu mata lentik."

"Tapi ibu, Sarpan Sang Pemikat itu sudah meniupkan mantra penarik sukma. Aku harus mencari dia."

"Sarpan?"

Perempuan tua terpana. Oh, para dewa, ampuni hamba.

"Lupakan saja, anakku."

"Bagaimana aku harus melupakan dia. Setiap malam dia melagu rindu di dadaku."

"Sarpan itu milik semua orang. Carilah selain dia."

"Tidak Ibu, justru milik semua orang itu yang aku suka."

"Hanya karena itu kau suka?"

"Ya."

"Terkutuklah aku."

Perempuan tua terbaring ke utara.

Sumirah mengembara.



Dukun Peramu Cinta

Seorang lelaki telah mengutuknya. Kini, dia menjalani hidupnya sebagai peramu cinta.

"Siapa namamu?"

"Sumirah."

"Sebut lelaki macam apa yang kau inginkan."

"Sarpan."

"Adakah permintaan lain?"

"Kenapa, Mbah. Apakah mantranya susah."

"Bukan. Sekarang pun aku bisa mendatangkan dia ke hadapanmu, Nduk.

"Datangkanlah kalau begitu. Aku teramat rindu."

"Tapi dia milik semua orang."

"Jadi, Mbah dukun tidak sanggup?"

"Sanggup. Tapi aku takut kau makin terluka."

"Kenapa?"

"Aku pernah memiliki dia."



Cinta Seribu Tiga

Dengan langkah gontai Sumirah pulang ke desa.

"Sumirah datang. Aku melihatnya di ujung desa."

Gamelan dibunyikan. Orang-orang Sakagiri berhamburan.

"Apa kubilang, tak ada cinta sejati di bumi ini, Sumirah."

"Keras kepala, sih."

Sumirah menebar senyum.

"Gila, makin cantik saja Sumirah."

"Malam nanti tidurlah di rumahku."

"Di rumahku saja. Nanti kusembelihkan ayam tiga."

Sumirah tersenyum. Kini, ia punya cinta seribu tiga.
Read More..
"Cerpen Motivasi: Cinta...!!! 1000 dapet tiga." was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen FiksiCerpen MotivasiPuisi Cinta and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/cinta-1000-dapet-tiga.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 23:38.
 
Is Hosted by Blogger