100100 Voting: 999,879,658

Belajar Online: Hati Versus Jantung

Kita orang Indonesia sangat keliru or salah menilai antara istilah Jantung dan hati. Perkataan “jantung” dalam Bahasa Asing/Inggris disebut sebagai “heart”; manakala “hati” pula ialah liver. Kedua-dua organ dalaman ini terletak di tempat yang berlaian dan mempunyai fungsi yang berbeza. Heart atau jantung bertindak mengepam dan membersihkan darah dalam badan kita dan hati atau liver pula menyimpan glukosa. Dalam Webster’s Dictionary heart disebut sebagai “the seat of emotion” yakni tempat tersimpannya perasaan atau emosi. Oleh itu nyatalah perasan kita terletak di jantung – bukan hati ! Begitu jugak semua ahli psikologi dan psikiatri menganggap emosi terletak di jantung (heart). Contohnya ketika kita marah kenapa muka kita jadi merah? Jawabnya ialah kerana darah dari jantung kita sudah di pam oleh jantung naik ke muka kerana perasaan kita terletak di jantung.. Nyatalah di sini jantung memainkan peranan mencetuskan perasaan kita – bukannya hati (liver). Tetapi anehnya kita orang Indonesia menganggap perasaan itu datangnya dari hati hingga akan terlalu banyak simpulan bahasa kita yang menyatakan perasaan dikaitkan dengan “hati” misalnya sakit hati, busuk hati, tawar hati, keras hati dll. Apakah kita berpendapat perasaan itu datangnya dari hati (liver) bukan jantung (heart) ?

Akibatnya kita telah tersalah terjemah ungkapan “sweet-heart” sebagai “buah hati” yang sepatutnya “buah jantung” kerana heart itu adalah jantung – bukan hati ! Begitu juga istilah “broken-heart bukanlah “patah hati” tetapi lebih tepat lagi disebut “patah jantung” !



Dalam Islam sendiri perkataan heart itu dirujuk kepada jantung – bukan hati. Misalnya dalam bahasa Arab ia disebut sebagai “qalb” atau kalbu. Apakah yang kita maksudkan “kalbu” itu sebagi hati atau jantung? Nabi kita Muhammad SAW pernah berkata, “Dalam diri manusia ada seketul daging yang jika baik daging itu akan baiklah orang itu; begitu juga sebaliknya.” Apakah maksud “seketul daging” itu hati atau jantung ? Nyatalah ulama kita kita telah menterjemahkan seketul daging itu sebagai “hati” (liver) yang sepatutnya “jantung” (heart).




Satu contoh lagi: ketika Nabi Muhammad masih kanak-kanak, malaikat telah membelah dadanya untuk membersihkan satu organ dalamannya. Apakah yang dibersihkan oleh malaikat itu jantung atau hati? Jika organ itu hati kenapa pulak malaikat membedah dada nabi sedangkan hati (liver) bukannya terletak di dada...!!!!!!!!!! Oleh itu nyatalah malaikat telah membersihkan jantung Nabi yang terletak di dada.



Apakah sama perkataan antara “sakit hati” dengan “sakit jantung”..!!!?????? Disinilah letaknya kekeliruan kita !! Apa pendapat anda semua????
Read More..
"Belajar Online: Hati Versus Jantung" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category Belajar Online and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/hati-versus-jantung.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 15:37.

Cerpen: Cerita Fakta Menarik Seputar Bulan

Dari usianya, temen-temen pasti belum mengenal berapa Usia Bulan yang sebenarnya, intip aja yuk:

Usia bulan lebih tua dari yang diperkirakan, bahkan diperkirakan lebih tua daripada bulan dan matahari itu sendiri! Umur Bumi paling tua yang bisa diperkirakan adalah 4.6 Milyar tahun. Sementara itu batuan Bulan malah sudah berumur 5.3 Milyar tahun. Bulan lebih tua 1 milyar tahun ketimbang Bumi!



Lebih keras diatas :

Normalnya sebuah planet akan keras di dalam dan makin lama makin lembut diatas, seperti bumi kita. Tidak demikian hal nya dengan bulan. Bagian dalam bulan seperti berongga, sementara bagian atasnya keras sekeras Titanium. Hal ini lah yang menyebabkan bahwa bulan bagaimanapun juga sangat kuat dan tahan serangan. Kawah terbesar di Bulan berdiameter 300KM, dengan kedalaman hanya 6.4KM. Sementara itu, menurut hitungan ilmuwan, jika batuan yang menubruk bulan tadi, menubruk Bumi, maka akan terbentuk lubang paling tidak sedalam 1.200KM!



Bulan yang berongga juga dibuktikan saat kru Apollo yang meninggalkan Bulan, membuang kembali sisa pesawat yang tidak digunakan kembali ke Bulan . Hasilnya, sebuah gempa dan gema pada permukaan bulan terjadi selama 15 menit. Penemuan ini diulang kembali oleh kru Apollo 13, yang kali ini jatuh lebih keras, menimbulkan gema selama 3 jam 20 menit.



Ibaratnya seperti sedang membunyikan lonceng yang kemudian berdentang, hanya saja karena tidak ada udara, maka suara dentang lonceng yang dihasilkan tidak bisa didengar oleh manusia. Sementara itu, penemuan ini dipertanyakan oleh Carl Sagan, bahwa satelit alamiah nggak mungkin kopong dalam nya.



Bebatuan Bulan :

Asal usul batuan dan debu bulan sendiri tidak jelas, karena perbedaan komposisi pembentuk bulan yang berbeda sekali dengan komposisi batuannya. Batu yang pernah diambil team apollo sebesar 380KG lebih, menunjukkan ada nya bahan unik dan langka seperti Titanium murni, kromium, itrium, dan lain lain. Logam ini sangat keras, tahan panas, anti oksidasi. Jenis logam ini tidak terdapat secara alamiah di alam, dan jelas tidak mungkin terbentuk secara alamiah.



Para ilmuwan juga mengalami kesulitan menembus sisi luar bulan sewaktu mereka mengebor bagian terluar bulan. Setelah di teliti, bagian yang di bor tadi adalah sebuah mineral dengan kandungan titanium, uranium 236 dan neptunium 237. Bahan bahan super keras anti karat, yang juga tidak mungkin terbentuk secara alamiah, karena digunakan di bumi untuk membuat pesawat stealth. Kemungkinan besar, ini logam hasil sepuhan manusia!



Batuan bulan juga entah bagaimana sangat magnetik. Padahal tidak ada medan magnet di Bulan itu sendiri. Berbeda dengan bumi yang banyak sekali mengandung medan magnet.



Air menguap :

Pada 7 Maret 1971, instrumen bulan yang dipasang oleh astronot merekam adanya air melewati permukaan bulan. Uap air tadi bertahan hingga 14 jam dan menutupi permukaan seluas 100 mil persegi.



Ukuran bulan = Matahari ?

Bulan bisa menutupi matahari dalam gerhana bulan total, tapi ukurannya tidak sama. Yang menarik, jarak matahari ke bumi persis 395 kali lipat jarak bulan ke bumi, sedangkan diameter matahari persis 395 kali diameter bulan. Pada saat gerhana matahari total, ukuran bumi dan bulan persis sama, sehingga matahari bisa tertutup bulan secara sempurna. Hitungan ini terlalu cermat dan akurat jika hanya merupakan kebetulan astronomi semata.



Orbit yang aneh :

Orbit bulan merupakan satu satunya yang benar benar hampir bulat sempurna dari semua sistem tata surya kita. Berat utama bulan terletak lebih dekat 6000 kaki ketimbang pusat geometris nya, yang harusnya justru mengakibatkan orbit lengkung. Sesuatu yang tidak diketahui telah membuat bulan stabil pada poros nya. Suatu teori yang belum di yakini benar adanya juga mengatakan bahwa wajah bulan yang selalu sama di setiap hari nya karena adanya suatu hal yang menyebabkan itu. Yang pada intinya, tetap suatu kebetulan astronomi.



Asal usul bulan :

Teori bahwa bulan tadinya adalah sebagian dari bumi yang mental keluar bumi karena tumbukan hebat di masa lalu hampir saja di setujui oleh semua orang, setelah sebelumnya mereka mengira bahwa bulan terbentuk dari debu debu angkasa yang mampat menjadi satelit bumi. Belakangan ini teori menyebutkan bahwa jika bagian sebesar bulan terambil dari bumi, maka bumi tidak akan bisa bulat seperti sekarang. Dan jika bulan tidak berongga, maka tidak mungkin bulan bisa berada menjadi satelit bumi. Terlalu berat dan bulan akan menghantam bumi.



Teori teori asal usul bulan kembali dipertanyakan, dan teori paling gila sepanjang sejarah mulai muncul, bahwa bulan diciptakan dengan sengaja oleh manusia terdahulu sebagai alat bantu dalam navigasi dan juga astronomi!



Bulan adalah kapal luar angkasa?

Kesempurnaan bulan yang keterlaluan, dan berbagai anomali yang ada dibulan, plus ditambah banyaknya benda benda terbang tak dikenal di bulan membuat banyak pihak mengatakan bahwa kemungkinan besar bulan adalah sebuah pesawat luar angkasa super besar yang diciptakan oleh mahluk cerdas pendahulu kita. Dan bulan BELUM ditinggalkan oleh penghuni nya! Semua kru Apollo dan astronot astronot lain atau peneliti bulan, semuanya telah melihat cahaya cahya adan benda benda terbang tak dikenal yang lalu lalang diantara bulan, muncul dan hilang begitu saja, bahkan selalu menyertai setiap kedatangan dan kepergian para team astronot yang mengunjungi bulan.
Read More..
"Cerpen: Cerita Fakta Menarik Seputar Bulan" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category Belajar OnlineCerpen and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/cerita-fakta-menarik-seputar-bulan.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 12:54.

Artikel Motivasi: Belajar Rendah Hati dan Sabar

Ada banyak kisah tentang kerendahhatian dan kesabaran Rasulullah SAW.


Di antaranya tentang kisah seorang tua musyrik yang membenci Nabi SAW.





Suatu ketika dia dibantu oleh seorang lebih muda menurunkan barang-barangnya


dengan baik hati dan sangat sopan. Orang tua itu bercerita tentang bagaimana





bencinya dia dengan Nabi Muhammad SAW, mengenai jelek akhlaqnya, jeleknya


ajarannya dsb. Orang (lebih) muda tersebut tenang dan tersenyum.





Tiada kebencian di wajahnya. Orang tua itu kagum sekali dengan orang muda


tersebut, dan bertanya,








"Siapakah Anda?"


"Saya Muhammad", jawab orang muda itu dengan tenang.


"Muhammad?", orang tua itu kaget dan terpana.


Orang yang baik hati itu ternyata adalah orang yang dicelanya... .


Akhirnya dia masuk Islam.





Dalam kisah yang lain, seorang Badui yang baru masuk Islam, kencing di dalam


masjid dengan santainya. Barangkali begitu kebiasaan di kaumnya, kencing


seenaknya.


Sehingga Sayidina Umar RA marah dan hendak memukul badui itu, namun


Rasulullah SAW mencegahnya, dan meminta untuk dibersihkan. Kemudian Baliau


menasehati si badui dengan sabar, sehingga si Badui ini sadar. Kisah


kesabaran & kerendahhatian Rasulullah SAW ini, bisa panjang sekali jika


diceritakan.





Salah satu kelemahan kita sebagai manusia adalah merasa diri kita "lebih"


dari orang lain. Dalam pelatihan dikenal istilah "above average syndromme",


yaitu bahwa


dalam berbagai sampling kebanyakan orang merasa dirinya lebih baik dari


rata-2 orang kebanyakan. Ini terjadi di semua kalangan, sehingga tidak aneh,


menceritakan kejelekan orang adalah salah satu yang disukai oleh kebanyakan


kita...





Ada banyak alasan orang untuk merasa lebih dari orang lain, dari yang paling


kelihatan sampai yang agak sumir. Yang paling kelihatan dan mudah adalah


merasa


lebih karena kecantikan, jabatan, kekayaan. Yang mulai agak tidak kelihatan


adalah keahlian, kecerdasan. Dan yang cukup sumir adalah merasa lebih baik


amalan,


akhlaq atau agamanya.





Kita sering melihat rendah orang lain atau sebaliknya "silau", karena


jabatannya.


Kadang kita memandang rendah orang lain, karena kita anggap "bodoh",naif.


Namun, bisa jadi kadang kita melihat rendah orang lain, karena kita anggap


ilmunya "cetek" atau kurang saleh dibanding kita ...





Suatu ketika seseorang bertanya Imam Ali bin Abi Thalib kw, "Apakah tangga


paling rendah dari mengenal Allah itu?".


"Tangga terendah adalah ketika engkau merasa bahwa tidak ada orang yang


paling patut disiksa di neraka selain dirinya", jawab


Imam Ali.


Orang itu pingsan. Ketika dia bangun, dia bertanya lagi, "Lalu di atasnya


apa lagi".


"Di atasnya ada 70 tingkatan lagi".





Puasa ramadhan, di antaranya, mengajarkan kita untuk rendah hati dan sabar.


Kita ini tidak ada apa-apanya. Kita lemah, tidak makan sebentar saja fisik


kita sudah "lemah".


Badan kita bisa saja kuat dan kukuh, melebihi Ade Rai, namun kekukuhan badan


kita itu ditopang dari luar, yaitu makanan & minuman.


Konon agar badannya seperti Ade Rai, kita harus makan telur (putihnya saja)


hingga 20 butir sehari.


Ketika kita tidak makan, badan kita seperti pakaian lusuh, tidak bisa


bergerak.


Ya, kita ini pada hakekatnya makhluk yang lemah, tidak ada yang layak kita


sombongkan.





Kesabaran dan rendah hati adalah seperti sisi mata uang. Kita tidak bisa


sabar, tanpa rendah hati.


Tanpa kerendahhatian, yang muncul adalah sakit hati. Kita sabar secara


fisik, namun hati kita sakit.


Rendah hati juga hanya bisa dengan kesabaran. Dan keduanya berasal dari hati


yang luas. Hanya hati yang luas, yang mampu menampung kesabaran


dan rendah hati. Hati yang luas, pada akhirnya adalah hati yang pasrah


kepada Allah Yang Maha Luas. Hanya dengan memasrahkan segalanya, mengalirkan


semuanya kepada Allah, hati kita menjadi luas.





Sebaliknya tinggi hati dan marah adalah berasal dari hati yang sempit,


sehingga hati kita tidak mampu menerima hal2 yang tidak sesuai dengan


keinginan dan kehendak kita, tidak mampu menerima kelebihan dan kekuarangan


orang lain. Hati yang sempit ini pada akhirnya mengikuti sikap setan/iblis.





Konon Iblis adalah salah satu makhluk yang sudah tinggi derajatnya dan


selalu beribadah, sayangnya dia tidak mau menerima orang lain (Nabi Adam AS)


diberi kelebihan oleh Allah SWT. Sehingga dia menolak dan tinggi hati (abaa


wastakbara), ketika dia diperintahkan untuk bersujud kepada Adam AS. Inilah


kejatuhan Iblis.





Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah)


orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila


orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang


mengandung) keselamatan. (QS. 25:63)





Sikap rendah hati, sesungguhnya sangat baik dan cocok untuk siapa saja.


Rendah hati akan menjadi hiasan yang menambah kemuliaan siapa pun. Kalau dia


orang


cerdas, maka akan semakin mulia jika dia rendah hati. Sedang jika dia bodoh,


maka rendah hati akan menjadi penutupnya. Coba kalau sebaliknya.. ..





Sayangnya, kita (terutama saya) lebih belajar untuk mengangkat diri sendiri,


dan merendahkan orang lain. Semoga keberkahan Ramadhan menghiasi kita dengan





sikap rendah hati dan sabar. Amiiiiin. (Oleh Abuafkar)
Read More..
"Artikel Motivasi: Belajar Rendah Hati dan Sabar" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category MotivasiProsaPuisi Islami and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/belajar-rendah-hati-dan-sabar.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 12:23.

Cerpen Mitologika: Cerita Batu Mutiara ku

Cerpen nyata ini hanya untuk yang tahu bagaimana memulai, membaca, membumi.......

Aku sudah merunut waktu dari aku bangun pagi sampai tidur lagi. Melipat-lipat kenyataan yang terjadi sekedar untuk menyesali atau untuk seleksi pribadi.
Tapi hari ini runutanku menemui jalan buntu..

Pagi ini, saat aku terbangun, aku mendapati tanganku menggenggam tiga butir batu. Batu pekat mengkilap. Hm, sepertinya aku tidak membawa batu ini dari mimpi. Aku hanya bermimpi menjadi ulat. Jadi..dari mana datangnya batu ini?

Aku bertanya pada siapapun yang kutemui. Kutanya apakah mereka pernah memiliki batu seperti yang aku bawa ? apakah mereka kehilangan batu ? kutanya apa mereka pernah melihat batu yang berjalan sendiri kemudian mendekam manis di kepalan ? Kutanya apakah meraka pernah berteman dengan batu ?

Mereka mencaciku ! mengatakan bahwa aku tak lebih dari mahluk bodoh yang terpukau dengan bualannya sendiri.

Aku tertawa. Kubilang mungkin. Mungkin aku sedang terpukau tapi aku tak bodoh. Aku bukan batu. Mereka tak sadar mereka sendiri cukup bodoh karena tak mau mengakui keberadaan batu. Bukankah mereka terlihat lebih keras dari batu?

Ya sudah. Aku pulang. Menemui ranjangku, berharap saat aku tidur batu itu akan kembali ke tempatnya semula atau bisa jadi tertarik ke mimpiku, atau ke dunia lain, mungkin.

Sebelum terpejam, aku ucapkan selamat malam, selamat tinggal pada tiga batu itu. Lalu aku akan menunggu sampai aku menamatkan lelah.

Pagi ini, saat aku terbangun, aku mendapati tanganku menggenggam sesuatu. Kupikir batu itu tak ingin pergi meninggalkanku. Sebelum kubuka mata, dengan kekuatan penuh, aku bertekad akan menjaga baik-baik tiga batu itu, menyayanginya dan merawatnya agar tak sampai terinjak oleh kaki-kaki yang tak pernah mau menatap ke bawah.

Pagi ini, saat kubuka mata, kudapati tanganku bercahaya. Tak ada batu, hanya ada mutiara......
Read More..
"Cerpen Mitologika: Cerita Batu Mutiara ku" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen MitologikaCerpen MotivasiCerpen Pengalaman Pribadi and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/cerita-batu-mutiara-ku.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 13:40.

Cerpen Budaya: Cerita Tiga Lelaki

Air mata telah mengalir sepanjang jalan desa Yilaga. Bersahut lengking burung cerek yang terbang berombongan sebelum malam mengelam. Bocah-bocah suku Dani cepat berjalan pulang, bukan karena suara “krek-krek” burung itu yang menyakitkan, tapi malam memang selalu menakutkan buat kesucian mereka.

Namun lonceng gereja tetap berkumandang. Hari minggu, suara lonceng kecil itu akan tetap mengusik telinga, terutama di kalangan suku Dani yang masih bertebaran di sepanjang kecamatan Mapenduma.

Senandung lelaki itu pun mungkin masih akan terdengar bergumaman di sepanjang desa yang berwajah hutan. Berpadu dengan suara kus-kus, burung cerek dan dedaunan pohon liar, barangkali Yilaga akan tetap damai, tenang dan aman bila tidak muncul bunyi jerajak sepatu dan senjata dikokang. Tapi semua harus terjadi, malam akan jadi mirip pasar. Pasti akan ada rentetan peluru, orang-orang yang berlari panik dan bau kematian yang telah menyergap. Amis, sungguh amis sekali kekelaman ini.

Itulah yang berpecahan di telinga Mundro. Malam di kecamatan Mapenduma tiba-tiba saja tersayat. Kepala Mundro kini telah berputar cepat. Naluri untuk mempertahankan hidup pun mulai bereaksi atas serangan mendadak musuh. Sudah beberapa bulan ia hidup berpindah, sekarang nyawa baginya tak lebih dari kertas tipis yang siap untuk diterbangkan angin.

Tak ada lagi lamunan. Semua pecah! Mundro telah melesat dari pembaringan.

“Mana, mana senjata? Sial! Ditaruh dimana?”

Kakinya cepat menelusuri ruangan. Spontan meraih senjata yang tergeletak tak karuan di bawah meja. Peluru! Peluru! Mundro segera keluar dan melesat di rimbun semak liar sebelah utara rumah.

Tapi suara berkerosak membuat langkah kakinya yang tegap, keras dan liat jadi tertahan. Tubuhnya bergetar, kupingnya terangsang.

“Mundro, kakak Mundro. Saya adik Waina!”

Refleks, kaki Mundro meloncat dan menerjang ke arah suara. Didapatinya tubuh yang tergolek lemah. Rupanya lelaki muda itu sedang sekarat.

Diciuminya tubuh Waina yang tersungkur.

“Kakak Mundro, pergi! Tak ada lagi yang tersisa disana. Cuma darah. Cuma darah, Kakak. Dan bangkai. Pergi lekas. Tapi jangan lewat mata air. Pergi ke sungai sana, ke sungai jernih. Roh kami akan menyertai kakak selamanya.”

“Adik…”

“Pergilah sana! Apalagi yang Kakak beratkan? Saya juga akan mati. Percayalah, sebentar lagi pun saya akan mati.”

Dan Mundro makin bergejolak. Rasa takut telah dikalahkan oleh mata gelap, dia malahan mengepalkan ototnya. Mata nyalang sambil menggenggam senjata teracung. Tubuh yang keras bersama gelap malam itu kemudian menyeruak di antara semak dan pepohonan liar. Mundro berlari ke arah seluruh bunyi tembakan tadi berasal. Dia tak mau lagi ambil perduli, apakah senjata mereka masih di pinggang atau sudah siap menyerang.

“Adik Waina, mati muda! Hooi, musuhhh! Kecil saja, kau tak tahukah? Maju, lawan ini, putera pemberani Mundro! Akkkhhhhh…”

Sebuah peluru terlalu cepat sekali datang dan menghantam pahanya. Kena, Mundro mengerang. Dia terjerembab, tak mampu mengetahui dari arah mana peluru tadi berasal. Suara Waina tiba-tiba saja terngiang kembali di telinganya. Matanya berkeliling. Bayang wajah sobat-sobatnya bagaikan telah menjadi roh yang nyata berteriak dan menggema di sepanjang jalanan hutan yang kelam. Menariknya agar menjauh dari medan peperangan dan pembantaian. Dia bagai terseret oleh tenaga dashyat. Tersaruk-saruk. Jatuh terlempar senjatanya di rimbun pohon hutan yang luas tak terkira. Sementara suara peluru makin menghilang di belakang kepalanya. Dan Mundro baru sadar ketika lari membuat dada hampir meledak. Menggelosor tubuhnya di pinggir batu sungai, tergeletak kepayahan di atas tanah yang lembab.

Lamat-lamat, dirasakan Mundro percik air sungai menyiram kepalanya. Dingin, sejuk sekali. Matanya masih mengedarkan pandang mencoba mengembalikan kesadaran untuk tahu dimana kini tubuhnya berada…



Medio Desember, bendera hitam-putih-merah di sebelah kiri dengan dua belas bintang di sebelah kanan memang sempat berkibar di setiap pojok kota Jayapura. Walau pun tak mendapatkan reaksi meriah dari kabupaten yang lain, namun sejarah adalah aliran air sungai yang akan membawa rahasianya ke laut.

Dan bocah-bocah di pinggiran sungai itu akan tetap menari. Bertelanjang badan, dilekati pasir, mereka akan terus berlari dengan penuh keriangan hati…



Kecamatan Kuyawagi, beratus meter dari dusun Yilaga, berbulan setelah peristiwa kematian Waina...



“Selamat malam, Gobel. Keributan seminggu yang lalu ternyata belum selesai juga. Masih banyak musuh yang berkeliaran di desa Yilaga. Entah apa maunya mereka. Tiba-tiba saja masih muncul serangan pada beberapa saudara kita yang mencari makanan tambahan,” beritahu saya sambil melempar noken ke ujung bilik yang kami jadikan sebagai tempat persembunyian darurat di hutan.

“Dan kalian berhasil membalasnya?”

Saya lihat si muda Mundro melepas kaus oblongnya yang telah berbau keringat. Sambil menggerutu, “Aku sudah jadi seperti harimau saja. Selalu perang dan perang, dikejar dan mengejar.” Lalu kedua matanya yang hitam putih di antara wajah yang berkerut itu mengerling cepat. Saya memberikan senyum kepadanya.”

“Puluhan dari kita, tapi sedikit dari mereka. Bagaimana, Gobel? Tidakkah itu menakutkan bagimu?” jawab saya sambil mencomot dua potong ketela bakar yang masih tersisa di atas meja.

“Apa?” Gobel terkaget. Ditangkapnya tangan saya, seketika kekekaran beradu dalam getaran tangan ketika kami saling mencekal. Dua lelaki nampak mengadu kejantanan.

“Bodoh, Titus! Kenapa bisa sebanyak itu dari kita? Mengapa? Mereka kawan kita, yang bisa terhitung jumlahnya. Habis, habislah kita…”

Sambil terus berteriak, Gobel terus mengguncang tubuh saya. Saya yang kebingungan setengah bercampur takut, cuma bisa menatapi wajah pemimpin yang dihormati dengan rasa tak percaya. Tapi tampaknya memang kecemasan yang membuat dia jadi panik semacam itu. Walau kesal, namun saya berusaha tahan untuk jadi bulan-bulanan Gobel.

Tapi si Mundro telah berpaling dan melompat. Ditatapnya saya dan Gobel dalam-dalam. Lama. Cukup lama.Hingga tiba-tiba dadanya jadi bergetar keras. Sesak, dibantingnya kepala kuat-kuat ke kayu tiang penyangga rumah. Lalu dia meraung seperti bunyi genderang pemujaan seorang dukun kepada dewa-dewa. Bicaranya patah-patah. Begitu tersendat.

"Kematian Wellem, Jhony, adik Waina, bisakah aku menangis? Bisa, Gobel dan Titus? Tapi mengapa kalian masih saja bertengkar di tengah perang? Setelah lama kita tak punya rumah, tak punya apa-apa lagi yang bisa dimiliki. Lelah dalam pelarian di hutan yang sebenarnya milik kita. Lalu dikatakan sebagai pengacau di hutan yang bersahabat dan mengenal kita sejak kecil. Aku tak tahu. Aku tak mengerti, Gobel. Entah semua!" matanya tiba-tiba berkilat memandangi kekerasan wajah dan hati sang pemimpin.

Benar, Gobel sobat kami. Tapi keberanian Mundro tiba-tiba saja jadi saya syukuri. Tepatnya, saya dan Mundro sungguh tak selalu mau dipersalahkan pada kejadian-kejadian yang tak sepenuhnya dapat kami kontrol secara penuh. Lalu siapakah Gobel? Mungkin cuma kacamata dan kepandaiannya saja yang mampu menguasai kami. Tapi ketakutan ini sungguh telah berujung pada sebuah pemikiran yang tak bisa dipermaklumkan.

"Gobel, bisakah rohku ini menyeret sobat-sobat untuk kembali ke jasad yang pecah karena peluru itu? Dan dewa, siapa dia sekarang yang patut kita percayai lagi? Jawab, Gobel! Jawab!" teriaknya sambil maju mendekat ke tubuh sang pemimpin. Lalu terdengar sedikit bunyi sobekan, karena saya dengan cepat telah menepis tangan yang mencekal baju sang pemimpin. Sungguh, bagaimanapun saya tetap tak menginginkan permusuhan di antara saudara. Sekali pun berita kekalahan yang barusan tersiar telah membuat saya mempersiapkan sebuah rencana.

Karena itu, saya cepat menyahuti si lelaki muda yang tiba-tiba saja menjadi begitu berani itu. "Ya, dengarlah sahabat sekaligus pemimpinku, Gobel. Nama saya Titus, engkau telah bertahun-tahun mengenalku. Keluargaku hampir seluruhnya mati dalam medan pertempuran di hari naas itu. Namun kini, izinkanlah saya untuk melepaskan kami semua punya kekuatan. Sebab bagi kami yang bodoh, memang tak ada lagi makna yang terlalu cerdas untuk menterjemahkan kemerdekaan. Persetan, Gobel. Sungguh persetan apa itu pengakuan! Karena cuma dengan melepaskan dendam dan ketakutan, lalu pergi jauh ke dalam tanah milik kita sendiri, kita mungkin bisa lebih tenang. Sungguh, siapa yang tak merindukan mantera para lelaki Dani pada suatu malam, seperti kenangan kanak kita dulu?"

Mundro masih menangis. Keras-keras digigitinya ketela yang barusan saja dicomot dari atas piring. Peristiwa demi peristiwa demikian mengerikan. Mereka yang cerai-berai oleh hujan cuma beberapa saja yang selamat. Walau pun perih, namun lelaki itu masih mampu mengingatnya.

Gobel terhenyak. Keningnya itu makin tampak berkerut. Perlahan, dia menurunkan kacamatanya di atas sebuah buku lusuh. Lalu dia ikut bertekuk lutut bersama saya dan Mundro di atas lantai tanah. Aku jadi memandang tak berkedip. Bagaimana pun, dia tetaplah pemimpin kami, sampai kapan pun saya tetap akan mengingatnya. Kerendahan hatinya tiba-tiba membuat kami terharu dan kehilangan bahasa. Lama juga kami bertiga diam berpelukan sampai dirasakan sesenggukan pemuda Mundro mulai menghilang.

"Pergilah kalau itu memang keinginan kalian. Tapi sungguh rahasia tempat dan perjuangan kita ini ditaruh atas nama nyawa dan perjuangan abadi kita semua. Selalu dan selalu. Ingat?"

Kami berdua cepat mengangguk.

Malamnya, upacara untuk melepaskan kami pun diadakan. Penuh mantera. Penuh kegaiban. Kami tak tahu apakah yang di depan kami sebuah kebahagiaan, ataukah justru perjuangan ini yang dinamakan kesejatian?

Entahlah, sampai sekarang pun saya tak bisa menjawab….

Dimana Mundro kini berada? Pinggiran desa Tiom? Kuyawagi? Akh, dimana sajalah dia. Asal bukan dalam kenangan di medan peperangan Mapenduma. Sampai mati pun, semua laki-laki tak ada yang mau mengingatnya. Sedang saya sudah memutuskan untuk angkat kaki dari tempat itu. Tapi sungguh, biar saya dikatakan menyerah, saya sungguh tak mampu lagi menanggung trauma pembantaian keluarga saya dimasa lalu.

Saya lihat dan dengar kabar dari gambar di tv, foto, koran dan isu teman di kota, sampai sekarang Gobel masih bertahan di hutan sebelah timur sana…
Read More..
"Cerpen Budaya: Cerita Tiga Lelaki" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen BudayaCerpen FiksiCerpen MitologikaCerpen Motivasi and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/cerita-tiga-lelaki.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 13:29.

Cerpen Religi: Mohon Kembalikan Aku ke Surga..!!!

Sungguh aku terperangah melihat sosok tadi siang masih terbaring di tengah lapangan. Aku yakin sekali sosok itu yang kulihat tadi siang memakai baju hijau berkotak-kotak dengan celana hitam. Sebenarnya bagiku bukan lantaran sosok itu masih terbaring sudah berjam-jam di tengah lapangan bola, melainkan wajah teduh dengan mata dan bibir yang terkatup rapat seakan-akan membias senyum itu mengingatkan aku pada seseorang yang pernah kulihat. Tapi siapa? Aku terus memutar otakku.

Orang-orang di sekelilingku sudah ribut mempertanyakan orang asing itu. Walaupun orang sudah ramai mengerumuninya, kebanyakan pemuda yang mau bermain sepak bola dan anak-anak serta beberapa orang pejalan kaki yang sedang lewat memotong lapangan, pria yang telentang itu sama sekali tidak terusik.

"Masya Allah, dia ... dia ... tokoh khayalan dalam cerpenku," kataku lirih. Aku terpaku tak percaya.

"Mas, bangun, bangun. Jangan tidur di lapangan!" seru salah seorang pemuda berkostum merah muda.

Pria itu tetap tak bergeming.

"Sudah mati kali!" celetuk seorang anak.

"Ah, nggak mungkin. Dadanya masih turun naik bernapas."

"Gila kali!" celetuk yang lain.

"Ah, nggak mungkin juga. Masa' orang gila pakaiannya rapi, ganteng lagi?!"

Karena penasaran aku maju ke depan dan berjongkok dekat kepalanya lalu kutepuk pelan pipinya.

"Mas, Mas, bangun!"

Perlahan kelopak matanya terbuka. Aku bangkit kembali dan bergabung dengan kerumunan orang-orang. Dia dengan tenangnya memandang kami, padahal kami keheranan menatapnya.

"Apa saya berada di Yogyakarta?" tanyanya tenang.

Orang-orang semakin ribut berbisik. Orang gilakah tidak sadar berada di mana?

"Mas dari mana?" tanyaku cepat.

"Dari surga!" sahutnya singkat yang diikuti oleh ledakan tawa dari orang-orang yang mengerumuninya. Akan tetapi aku tidak. Darahku terasa mendesir naik ke kepala. Jawabannya sesuai dengan jawaban tokoh khayalan dalam cerpenku.
"Kenapa kalian tertawa? Saya memang dari surga yang sengaja turun ke Yogya," katanya.

"Sudahlah, Mas. Minggir sana, jangan buat sok gila. Nanti gila betulan baru tahu rasa."

"Ini Yogya 'kan?" Pria itu kembali bertanya. Dia tidak lagi meyakinkan dirinya sungguh-sungguh dari surga. Pakaiannya dikibas-kibaskan dari debu yang melengket.

"Jangan berlagak tolol, Mas. Ya jelas ini Yogya. Tolong Mas keluar dari lapangan. Kami mau main bola," kata pemain bola berkostum hijau muda. "Sudah, sudah. Yang lain semua keluar dari lapangan!"

Semuanya bubar. Orang yang mengaku dari surga itu juga berlalu dan masih sempat diperhatikan sebagian orang kerumunan tadi, termasuk aku.

Sulit dipercaya memang, tetapi bukankah di dunia ini banyak sekali yang tidak mungkin menjadi mungkin? Tiada yang tidak mungkin, kata orang pintar! Apakah ini hanya kebetulan atau takdir Tuhan sedang berlaku? Aku sangat yakin orang yang mengaku dari surga itu tokoh utama dalam cerpenku. Dia turun ke Yogya setelah Tuhan mengizinkannya, dan akhir cerita kututup dengan tragis dia tidak bisa kembali ke surga.

"Masya Allah!" Aku terkesiap. "Apakah aku ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pahlawan membantu lelaki itu kembali ke surga?" Entah benar atau tidak, aku segera mengikutinya. Ingatanku terus mengalir. Lelaki itu bernama Puri.

Sekarang Puri masuk ke warung makan di pinggir jalan. Dia pesan seporsi nasi dengan lauk ayam tiga potong. Puri makan banyak. Setelah selesai, tanpa rasa berdosa dia keluar.

"Eh Mas, bayar dulu!" tegur wanita paruh baya, pemilik warung.

Puri melongo memandangnya. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi.

"Kenapa bayar?" tanya Puri heran.

"Ya bayar. Habis makan dibayar. Makan di sini enggak gratis."

Puri menebarkan pandangan ke sekeliling warung. Orang-orang yang sedang makan menatapnya dengan geli. Puri baru menyadari kalau dirinya sedang berada di bumi, bukan di surga yang serba gratis. Walaupun di saku baju dan celana tidak ada uang, Puri tetap merogohnya dengan setitik harapan Tuhan mengirimkan uang untuknya, namun sakunya tetap kosong. Tatapan cemasnya kembali disebarkan ke seluruh ruangan.

"Saya tidak ada uang, Bu."

"Kalau enggak punya duit kok makan? Jangan kamu pikir saya akan beri makan gratis buat kamu. Tiga potong kamu makan ayam goreng, semuanya sembilan ribu. Pokoknya harus bayar. Bagaimana caramu harus bayar, saya enggak peduli. Pinjam sama temanmu, atau siapa kek. Itu telepon di belakang boleh dipakai. Nanti sekalian dibayar juga waktu uangnya sudah diantar."

"Tapi, saya tidak ada teman di sini."

"Masa' enggak ada teman? Teman kostmu, teman kuliahmu, atau keluargamu?"

"Saya tidak punya siapa-siapa di sini."

"Lantas kamu lahir bagaimana? Apa jatuh dari langit?"

"Saya dari surga!"

Orang-orang yang sedang makan tersedak. Mau tertawa jadinya batuk-batuk.

"Jangan keburu gila, Mas. Sayang, masih muda. Tampang juga ada!"

Puri menyesal telah mengatakan dirinya dari surga. Puri garuk-garuk kepala sambil menunduk menatap sepatunya. Tiba-tiba ia mendapat ide. Segera dicopot sepatunya. Belum sempat dia utarakan maksudnya, pemilik warung sudah langsung menolak Puri membayar dengan sepatu.

"Habis bagaimana lagi? Kalau Ibu tidak terima juga, saya pasrah mau diapakan saya terima. Saya menyerah."

Ibu pemilik warung diam sebentar. Wajahnya cemberut. "Ya, sudah. Tinggalkan sepatumu!"

Kemudian Puri keluar dari warung. Orang-orang berbisik-bisik sambil geleng-geleng kepala. Gila!

Puri terus menyusuri Jalan Kaliurang dengan telanjang kaki. Dia tidak tahu harus ke mana, tetapi ketika dilihat di pinggir jalan ada sebuah masjid dia singgah di sana. Puri tidak sholat ashar, melainkan tiduran.

Aku kembali mempertanyakan buat apa aku mengintainya? Aku bukan pahlawan, melainkan hanya penonton semata. Sebenarnya saat di warung tadi aku mau menolongnya, tetapi aku sedang tidak bawa uang. Lagi pula aku tahu Puri akan bebas dari warung tersebut. Jadi keberadaanku sekarang buat apa? Ah, pusing aku memikirkannya. Atau mungkin semua ini hanya mimpi? Tidak mungkin tokoh khayalan dalam cerpenku muncul di alam nyata? Kutahu sikap pengecut lari dari kenyataan. Tetapi aku harus bagaimana lagi? Bukankah umumnya manusia jika tidak tahu harus bagaimana lagi, menganggap yang dialaminya adalah mimpi? Semuanya mimpi. Hidup di dunia pun dikatakan mimpi. Kenapa dihidupkan ke dunia, padahal tidak pernah merasa minta dihidupkan?

"Permisi, Mas!" Aku hentikan seorang lelaki pejalan kaki.

"Ada apa?"

"Tolong tinju saya."

Orang itu terpana. Mungkin menganggap permintaanku gila.

"Buat apa?"

"Pokoknya tinju saya sekuat-kuatnya. Jangan khawatir, saya tidak akan membalasnya."

Lelaki itu menyetujuinya. Lalu diambil ancang-ancang, tangan kanan dikepal kemudian dengan kuat diayunkan ke pipi kiriku. Buk!! Aku berteriak keras. Tubuhku terhuyun-huyun, sempoyongan. Toko-toko berputar dan aku tidak mampu lagi berdiri hingga akhirnya roboh. Bruk!!

Sayup-sayup kudengar suara Puri. Ada urusan apa dia?

Kudengar ada suara membangunkanku. Berat kelopak mata kubuka. Masya Allah, ternyata Puri. Berarti aku belum juga bangun dari mimpiku.

Puri memperkenalkan diri dan mengaku telah menolongku dari orang yang meninjuku tadi.

"Apa?!" Sungguh aku terperanjat. Terasa tersentak tubuhku ke belakang dinding masjid tempat kubersandar. Sepenuhnya diriku sadar sekarang, bahwa tokoh sampingan dalam cerpenku sedang kulakoni sendiri. Akulah pemuda yang "ditolong" Puri dalam cerpenku.

"Kenapa, apa aku salah telah menolongmu?"

"Oo…, tidak, tidak. Saya malah berterima kasih pada Mas. Oh ya, nama Mas tadi siapa?"

"Puri!" Kami saling menjabat tangan. Aku pura-pura tidak mengenal, tetapi sekaligus aku telah melakoni tokoh sampingan dalam cerpenku.

"Lazzuardi. Tapi panggil saja, Juar. Mas berasal dari mana, sepertinya bukan dari sini?"

"Sebenarnya saya berasal.…" Puri ragu-ragu mengatakannya. "Kamu pasti tidak percaya, saya sebenarnya dari surga!"

"Apa?!" Aku kembali mengejutkan diri.

"Ceritanya panjang. Sekarang kamu shalat dulu. Nanti saya ceritakan. Itu pun kalau kamu mau mendengarnya."

"Mas, tidak sholat?" tanyaku saat berdiri.

"Saya sudah masuk surga, jadi tidak perlu beribadah lagi."

Aku sudah tahu ia akan menjawab demikian.

Kemudian aku berlalu dari hadapannya dan berwudhu. Kuperhatikan di cermin wajahku terhiasi memar biru bekas tinju tadi. Nyeri saat kusentuh. Sial! Selesai berwudhu, kutunaikan sholat magrib secara berjamaah dan kemudian aku langsung keluar dari masjid, tidak mau menemui Puri.

"Hei, Juar!"

Ya, Tuhan! Dia mengikutiku. Cerita sudah agak melenceng. Dalam cerpenku akulah yang menemuinya karena terdorong oleh rasa ingin tahu mengenai dirinya yang berasal dari surga. Lalu seperti yang kuduga dia ingin ikut denganku karena malam ini dia tidak ada tempat menginap. Aku berusaha keras menolaknya hingga terjadilah dialog panjang dengannya. Aku tidak mengerti kenapa Tuhan mempertemukan aku dengannya. Akhirnya kuputuskan dia boleh ikut ke rumahku, setelah susah payah kukira dia membujukku.

Dalam perjalanan pulang aku bertanya tentang asal-usulnya untuk menghilangkan kesan aku telah mengenalnya. Aku dengarkan kisahnya seperti seorang anak yang mendengar penjelasan ayahnya.

"Saya juga heran, kenapa saya sangat ingin sekali ke Yogya, padahal di surga jauh lebih enak. Keinginan saya ke Yogya tidak dapat saya bendung, sehingga saya memohon kepada Tuhan agar dibolehkan turun ke Yogya."

Tiba-tiba aku merasa bersalah. Kupikir karena ide akulah dia turun ke Yogya.

"Eh, omong-omong wajah Tuhan bagaimana? Apa benar wajah Tuhan berjenggot, berjambang, berambut gondrong, dan hanya kelihatan kepala Tuhan saja yang besaaar sekali?"

"Astaghfirullah. Siapa bilang rupa Tuhan demikian?"

"Saya melihat wajah Tuhan di film-film."

"Tuhan yang mana?"

"Lho, memangnya Tuhan ada berapa?"

"Tiada Tuhan selain Allah dan tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya"

"Lantas rupa Tuhan bagaimana? Katanya Mas sudah berbicara dengan Tuhan. Pasti sudah lihat rupa-Nya, dong?"

"Maha Besar Allah. Tiada kata untuk melukiskan wajah-Nya."

"Bahasa Inggris juga boleh. Aiyem andersten."

"Tiada kata-kata."

"Kalau begitu bahasa Arab?"

Puri tetap menggeleng. "Tiada kata, dan tiada sesuatu pun yang ada di langit dan di bumi bisa diumpamakan dengan wajah Allah."

"Lalu bagaimana, apakah Mas tidak ada kesan apa pun saat melihat wajah-Nya?"

"Ada. Kala kupandang wajah-Nya, kenikmatan surga hilang seketika. Saya malah dilenakan dengan kenikmatan memandang wajah-Nya yang tiada tara."

Aku sudah tahu!

Siang itu ketika aku pulang, rumah kontrakanku sepi. Sayup-sayup kudengar desahan wanita dari kamarku. Aku langsung bisa menebak Puri sedang bercinta dengan seseorang gadis yang disangkanya bidadari surga kiriman Tuhan untuk memenuhi kebutuhan seksualnya seperti yang didapatkannya di surga. Karena penasaran aku intip dari lubang pintu, siapakah gadis itu? Masya Allah! Darahku mendidih. Pintu kamar kudorong segera.

"Sarna!!!" Istri tercintaku yang pulang kampung kemarin kini kembali sudah berselingkuh.

"Hah, Mas Juar!" Sarna segera menyelimuti tubuhnya dan Puri mengambil pakaiannya. Secepat cahaya kucengkeram lehernya dan kubenturkan ke dinding. Kutonjok dia, kutinju, kubogem, kutendang dan kusentak lalu kuinjak-injak.

"Mengaku orang surga, tetapi kamu nodai istriku. Kau iblis, kepicikanmu melebihi iblis."

"Mas, Mas hentikan!"

"Kau Sarna! Harga dirimu sebagai wanita jatuh ke titik terendah, serendah-rendahnya. Kau khianati aku, suamimu. Ohh ... teganya dirimu."

Aku bersimpuh dan menangisi sialnya nasibku.

"Mas, maafkan aku. Ini hanya kecelakaan. Aku tak sadar melakukannya."

"Setan! Pergi kau dari rumahku. Detik ini pula kau kutalak tiga!"

"Mas ..."

"Pergi, pergi, kataku. Kau dengar?!!!" Suaraku memenuhi kamar. "Kau wanita busuk, busukmu melebihi bangkai. Aku muak melihat wajahmu."

Sarna pergi. Kini tinggal Puri. "Kau ..."

"Tunggu dulu, Juar. Kamu tidak boleh langsung menghukumku tanpa mendengarkan alasanku. Demi Allah, kukira Sarna adalah bidadari surga kiriman Tuhan buatku."

"Iblis! Kau masih pula mengaku orang surga. Apa kau tidak sadar juga bahwa kau sekarang hidup di bumi yang mesti makan, minum, berak, tidur, mandi dan lain-lain, serta harus melaksanakan perintah dan larangan Tuhan supaya kelak kau baru bisa masuk surga. Tapi apa yang telah kau lakukan barusan? Kau sebenarnya orang surga dunia. Dunia adalah surgamu!"

"A ... aku benar-benar orang surga turun ke bumi."

"Kau manusia pemimpi. Gila surga! Seandainya pun kau sungguh orang surga, Tuhan tidak akan mengembalikanmu ke surga. Tuhan murka melihat apa yang telah kau lakukan barusan!"

Aku menyeretnya keluar rumah. Baju dan celananya kulempar ke arahnya, lalu segera kukunci pintu rumahku. Aku melorot di sisi daun pintu sambil menangis. Aku tidak menyangka Sarna yang kuanggap istri yang baik dan sholehah melakukan perbuatan keji tersebut. Ingatanku kembali jernih dalam cerita cerpenku gadis yang bercinta dengan Puri adalah pacar si tokoh sampingan yang tergoda karena ketampanan Puri dan si tokoh sampingan itu pun marah besar mengetahui hal itu hingga diputuskan pacarnya.

Sungguh aku sama sekali tidak mengerti apa maunya Tuhan menimpakan semua ini padaku. Aku percaya setiap kejadian ada hikmahnya. Lalu apa hikmahku sekarang sampai-sampai istriku mesti kuceraikan?

Aku menuju ke kamarku dan mengambil naskah cerpen copian yang sudah lama tersimpan di laci pribadiku. Kubaca bagian penutup cerpen:

Setelah diusir dari rumah teman yang baru dikenalnya, Puri berputar-putar di kota Yogya. Puri sering duduk di emperan toko, di trotoar jalan dan di mana saja menanti keajaiban Tuhan mengembalikannnya ke surga. Dalam penantiannya ia rela tidak makan dan mandi berhari-hari, sehingga tubuhnya menjadi kerempeng, baju dan celananya kecoklatan, rambut dan bulu-bulu penuhi wajahnya yang dilapisi debu. Jika lapar menyerang, ia mengais bak sampah mencari sisa-sisa makanan lalu ia menanti kembali. Adapun orang-orang yang mau berbaik hati hendak mengembalikan Puri ke keluarganya supaya tidak lagi berada di jalanan, Puri menjawab: Mohon, kembalikan Aku ke Surga!
Read More..
"Cerpen Religi: Mohon Kembalikan Aku ke Surga..!!!" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen FiksiCerpen Religi and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/mohon-kembalikan-aku-ke-surga.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 13:15.

Cerpen Motivasi: Cinta...!!! 1000 dapet tiga.

Sholihul H.

Sumirah Mencari Cinta. Bahkan sampai malam menggantung di pucuk kelam, Sumirah masih berjalan menyusuri desa. Bintang-bintang gemelitik di langit.

"Mau ke mana malam-malam begini, Sumirah?"

Orang-orang Sakagiri yang kerjanya saban hari bergerombol di tepi jalan, memandang Sumirah dengan tatapan mata rembulan.

"Mencari cinta."

"Ha. Ha. Ha. Tak ada cinta abadi di bumi ini."

Sumirah menoleh.

"Hentikan pencarian itu, Sumirah." Lelaki tua di pojok jalan menyela.

"Iya. Berhentilah."

"Sia-sia saja. Berhentilah."

"Berhentilah. Lebih baik duduk-duduk di sini. Buat apa capek-capek. Ah, genit amat."

"Duduklah. Mari, beri aku api kan kuberi cinta yang kau cari."

"Ha. Ha. Ha."

"Hus."

Sumirah tersenyum.

"Permisi. #SelamatMalam."



Sarpan Sang Pemikat

Sumirah tak kuasa menahan genderang cinta gemuruh di dadanya.

"Ibu, izinkan aku mengembara."

"Mengembara? Itu cuma milik para pendekar. Kau bukan pendekar, anakku. Kau gadis cantik, punya bulu mata lentik."

"Tapi ibu, Sarpan Sang Pemikat itu sudah meniupkan mantra penarik sukma. Aku harus mencari dia."

"Sarpan?"

Perempuan tua terpana. Oh, para dewa, ampuni hamba.

"Lupakan saja, anakku."

"Bagaimana aku harus melupakan dia. Setiap malam dia melagu rindu di dadaku."

"Sarpan itu milik semua orang. Carilah selain dia."

"Tidak Ibu, justru milik semua orang itu yang aku suka."

"Hanya karena itu kau suka?"

"Ya."

"Terkutuklah aku."

Perempuan tua terbaring ke utara.

Sumirah mengembara.



Dukun Peramu Cinta

Seorang lelaki telah mengutuknya. Kini, dia menjalani hidupnya sebagai peramu cinta.

"Siapa namamu?"

"Sumirah."

"Sebut lelaki macam apa yang kau inginkan."

"Sarpan."

"Adakah permintaan lain?"

"Kenapa, Mbah. Apakah mantranya susah."

"Bukan. Sekarang pun aku bisa mendatangkan dia ke hadapanmu, Nduk.

"Datangkanlah kalau begitu. Aku teramat rindu."

"Tapi dia milik semua orang."

"Jadi, Mbah dukun tidak sanggup?"

"Sanggup. Tapi aku takut kau makin terluka."

"Kenapa?"

"Aku pernah memiliki dia."



Cinta Seribu Tiga

Dengan langkah gontai Sumirah pulang ke desa.

"Sumirah datang. Aku melihatnya di ujung desa."

Gamelan dibunyikan. Orang-orang Sakagiri berhamburan.

"Apa kubilang, tak ada cinta sejati di bumi ini, Sumirah."

"Keras kepala, sih."

Sumirah menebar senyum.

"Gila, makin cantik saja Sumirah."

"Malam nanti tidurlah di rumahku."

"Di rumahku saja. Nanti kusembelihkan ayam tiga."

Sumirah tersenyum. Kini, ia punya cinta seribu tiga.
Read More..
"Cerpen Motivasi: Cinta...!!! 1000 dapet tiga." was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen FiksiCerpen MotivasiPuisi Cinta and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/cinta-1000-dapet-tiga.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 23:38.

Cerpen - Ekor, Mengekor, Menjadi Ekor.

Warga kampung kini memiliki kebiasaan baru. Memakan segala macam jenis ekor. Ekor kambing, ekor sapi, ekor ayam, ekor ikan dan segala macam jenis ekor lainnya.

Kebiasaan ini sebenarnya muncul belum lama. Beberapa tahun lalu ada orang kota datang ke kampung yang penduduknya tak sampai lima ratus orang ini. Orang kota itu membawa satu kapal, kapal ukuran nelayan, kotak kardus berisi televisi. Warga kampung memang terbiasa didatangi orang kota untuk berdagang. Maklumlah kampung ini hanya sebuah kampung yang terletak pada sebuah pulau kecil yang terpisah dari kota.

Jarak kampung kami dengan kota tujuh jam perjalan laut dengan boat—perahu motor—itupun kalau angin tidak kencang. Kalau laut sedang ganas, dua belas jam pun belum tentu orang sampai ke kota. Oleh karena itulah jarang sekali warga kampung yang pergi ke kota, jika bukan karena urusan yang sangat penting.

Kalau hanya masalah sakit, warga tidak ke dokter. Selain karena memang tidak ada dokter, warga kampung jarang sekali sakit. Masuk angin, batuk-batuk, panu, kudis, dan borok-borok di kulit tidak termasuk dalam kategori sakit dalam kamus hidup warga kampung ini. Dulu pernah ada mantri suntik tapi pergi lagi dua hari berikutnya. Mantri suntik kota keluaran ibu kota itu tidak tahan harus berak ditemani nyamuk. Maklumlah, kakus--istilah WC pun sebelumnya tidak ada dalam kosakata kakek buyut kami --yang warga buatkan untuk Pak Mantri hanya sekotak kamar tanpa atap berbahan daun kabung . Jadilah setiap pagi pantat Pak Mantri yang putih mulus itu jadi santapan empuk para nyamuk yang belum pernah merasakan darah orang kota.


Kampung tempat saya lahir dan besar dan mungkin juga mati ini sejak lama terkenal dengan rempah-rempah beraroma pedas, lada (--Pipper Ningrum--). Banyak para pedagang kota yang datang ke kampung dengan tujuan mendapatkan rempah-rempah mewah di zaman penjajahan. Mereka datang membawa serta barang-barang elektronik untuk ditukarkan, ditambah sisa uang jika perhitungannya lebih. Satu karung lada ukuran karung gula pasir setengah kuintal ditukar sekotak televisi empat belas inci. Satu radio kaset dapat ditukar dengan satu karung seperempat kuintal.



Aneh, padahal di kampung ini tidak ada yang namanya PLN untuk menghidupakan barang-barang kota itu. Tapi dapatlah juga barang-barang itu dinikmati penduduk kampung dengan listrik dari aki atau strum dari disel.



Dulu, di kampung ini pernah terjadi perselisihan besar. Orang-orang tua menolak barang-barang kota sebangsa televisi dan radio--sumber setan kata mereka. Tapi, orang muda jugalah yang menang dalam perselisihan itu. Semua barang kota itu tak dapat tidak memenuhi setiap relung kampung. Jadilah sejak saat itu waktu mengaji anak-anak kecil kampung berganti dengan menonton televisi. Jam hidup pun bertambah panjang. Tak akan lagi ditemui suara-suara nyaring mengeja alif-ba-ta setelah merah matahari hilang dari garis pantai.



Kini tidak ada lagi anak-anak dan orangtua yang berebut kepala ikan jika sedang makan. Dulu anak-anak jarang sekali kebagian kepala ikan, kecuali anak yang bodoh. Kata orang-orang tua, makan kepala ikan itu membuat bodoh. Dan anak-anak pun percaya. Setelah itu, habislah setiap kepala ikan yang terhidang di atas dulang disikat orang-orang dewasa. Ha!, sekarang aku baru mengerti mengapa orang-orang tua itu melarang kami makan kepala ikan, karena kepala ikan lebih enak daripada bagian ikan yang lain. Terutama otaknya yang gurih dan lunak itu.



Sebenarnya sebelum muncul kebiasaan makan segala macam ekor itu, warga kampung juga pernah memiliki kebiasaan baru: minum dari gelas kaleng. Gelas-gelas dari beling banyak yang dibuang diganti dengan kaleng dari bekas kaleng susu kental manis. Katanya biar mirip dengan yang di televisi-televisi itu. Pernah juga ada kejadian, selama satu minggu orang kampung memakai baju bermodel dan motif yang sama. Modelnya sama dengan baju bintang sinetron yang menjadi tontonan wajib warga, cuma beda harga dan kualitasnya. Tapi, itu tak penting, yang penting mereka bisa berpakaian seperti idola mereka. Kebiasaan baru juga bila kini ada yang melahirkan dua hari setelah menikah.



Yang menjadi masalah adalah ketika semua pejabat kampung mengundurkan diri dari jabatannya dan meminta orang lain menggantikan mereka. Mereka lebih senang jika disuruh orang lain daripada jika harus memberi perintah kepada orang lain. Bangku-bangku deretan depan pada acara rapat di balai desa yang tidak pernah terisi kini deretannya semakin bertambah.



Keadaan tanpa pejabat di kampung kami sebenarnya tidak menimbulkan efek apa-apa. Semua orang tidak memerlukan apa-apa dari pejabat kampung. Karena sebenarnya tanpa pejabat pun kampung ini bisa tetap hidup. Punya rumah untuk berteduh dari matahari yang terlalu panas atau hujan yang terlalu deras. Punya kebun yang menyediakan makanan dan sayuran. Punya laut dan hutan sebagai sumber daging. Dan yang terpenting, punya kebun karet dan lada untuk ditukarkan hasilnya dengan para tauke yang datang ke kampung.



Tetapi, pejabat dari kota yang mengetahui keadaan kampung kami, tidak senang dengan keadaan yang sedang terjadi. Tidak boleh ada kevakuman dalam pemerintahan. Pejabat adalah kedaulatan sebuah teritori, walaupun itu hanya dalam skup kampung. Kalau tidak ada pejabat maka --chaos-- yang akan terjadi. Oleh karena itu harus diambil tindakan segera untuk mengisi kekosongan pejabat di kampung kami. Begitu kata pejabat kota itu.



Mereka berkunjung ke kampung dan mencoba menyelesaikan masalah itu. Tapi tetap saja tidak ada yang mau jadi pejabat kampung. Berpuluh-puluh orang didorong-dorong, dari yang tua sampai yang muda, laki-laki dan perempuan, seluruhnya tidak ada yang mau. Bahkan cara terakhir dengan mengiming-imingi hadiah pun tidak berhasil. Mengambil tindakan kekerasan dengan mengerahkan pasukan militer sangat riskan untuk dilakukan. Pejabat kota bisa dituntut para mahasiswa dan orang-orang luar negeri.



Akhirnya pejabat dari kota itu menyerah dan pulang ke kota dengan kebingungan. Baru kali ini ada orang satu kampung tidak mau jadi pejabat. Setelah berkonsultasi dengan pembantu-pembantunya, akhirnya pejabat itu mengangkat beberapa orang pembantunya untuk menjadi pejabat di kampung bingung itu.



Sebulan lebih kampung kami memiliki pejabat dari kota. Sama seperti nasib orang-orang kota yang pernah bertugas di sini, tidak ada yang betah pada seminggu pertama. Pejabat baru ini sangat tersiksa pada awalnya. Serangan nyamuk ketika gulita menyergap kampung, keremangan malam yang seram, dan kesunyian yang sepi adalah sebagian kecil dari hal yang tidak disukai orang kota dari kampung ini.



Tapi, lama-lama para pejabat baru itu kerasan juga. Mereka sangat menikmati menjadi orang yang diberi jabatan. Dengan menjadi pejabat, walaupun hanya dalam sebuah kampung, mereka bisa mendapatkan sesuatu dengan mudah. Apalagi orang kampung kami sekarang menjadi orang yang senang dipimpin.



Jadilah pembantu pejabat kota yang kini jadi pejabat di kampung kami menjadi orang yang makmur dan senang. Dalam tiga bulan mereka telah mendirikan rumah yang lebih besar dari rumah-rumah orang kampung ini. Mereka punya mesin disel sendiri yang dimatikan lebih larut daripada mesin diesel kampung yang mati jam sebelas malam. Televisinya lebih besar dari televisi penduduk kampung yang paling kaya.



Dalam laporan mereka kepada pejabat kota, keadaan belum bisa diatasi. Belum ada orang kampung yang mau diangkat menjadi pejabat, sehingga mereka harus tetap berada di kampung untuk mengembalikan keadaan kampung menjadi normal. Pejabat kota mengerti dan memberikan izin untuk memperpanjang masa tugas mereka di kampung.



Sebulan kemudian, pejabat kampung itu melapor ke kota. Pejabat kota terkejut, karena pejabat kampung itu melapor sebelum waktunya. Lagipula, seharusnya yang melapor itu tiga orang, bukan cuma satu orang. Lalu pejabat kampung yang juga pembantu pejabat kota itu menjelaskan bahwa dua orang temannya tewas dibunuh penduduk kampung yang berebutan jadi pejabat setelah menonton para pejabat kota yang berebutan jadi pejabat (lagi) di televisi.
Read More..
"Cerpen - Ekor, Mengekor, Menjadi Ekor." was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen FiksiCerpen Motivasi and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/cerpen-ekor-mengekor-menjadi-ekor.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 15:18.

Cerpen Budaya: Gubenur Ikan

Aku adalah Gubenur Ikan.

Menguasai wilayah laut di jagad raya. Tapi, karena aku harus tunduk pada peraturan dan konstitusi laut, aku hanya mendapat bagian kecil untuk menggunakan kekuasaan dan memanfaatkan aset di tempat aku dipekerjakan. Pada awalnya, gerakan dan wewenangku masih harus tunduk dengan Si mbah sujiwo tejo Nyi Roro Kidul, Sang Penguasa Laut. Namun, akhirnya aku mendapat sedikit kebebasan, setelah ada pemberlakukan Undang-Undang Otonomi Kelautan. Akhirnya, sedikit banyak, aku bisa mendapat keleluasaan dalam mengambil kebijakan, kemana ikan-ikan ini harus aku bawa.

Aku adalah Gubenur Ikan.

Asalku dari seberang. Namun, karena mendapat surat sakti dari Nyi Roro Kidul, aku akhirnya diorbitkan sebagai Gubenur Ikan. Pada awalnya, aku maju mundur untuk menjabat sebagai Gubernur Ikan. Sebab, jauh sebelum aku menjadi Gubenur Ikan, aku sudah menjabat sebagai Staf Pasukan Anti Pukat Harimau, yang

bertugas menyelematkan kehidupan dan kelangsungan hidup mahluk laut. Tapi, setelah aku pikir-pikir, akhirnya aku harus memilih. Tetap menjadi Staf Pasukan Anti Pukat Harimau, dan sepanjang sejarah akan menunggu perintah, atau aku harus keluar dari Korp Pasukan Anti Pukat Harimau, lalu aku menjadi penguasa sebagian laut di sebuah pulau? Dua pilihan terus berkecamuk. Sementara, dalam lintasan benaku, ada satu pertanyaan, siapa dan kelompok mana yang bakal menjadi alat untuk memuluskan obsesiku menjadi Gubernur Ikan?

Dan pada malam Jumat Kliwon, tepat pada tanggal kelahiranku, kudapatkan kesimpulan, setelah sebelumnya, Sang Mbau Rekso (Sang Penguasa Jagad Maya) memberi petunjuk.

"Aku harus keluar dari Staf Pasukan Anti Pukat Harimau, dan mengambil alih Gubenur Ikan". Inilah keputusan yang akhirnya kuambil.



Aku adalah Gubenur Ikan.

Sama seperti mahluk lain, yang punya rasa kekhawatiran, kalau-kalau saja, setelah aku lepaskan posisiku di Staf Pasukan Anti Pukat Harimau, tiba-tiba aku tak terpilih menjadi Gubernur Ikan. Jika ini yang terjadi, aku benar-benar sial dua belas! "Ah, aku akan coba meminta restu pada Jenderal, siapa tahu, aku tetap bisa rangkap jabatan. Jadi, kalau tak terpilih, aku bisa kembali ke Korps, kalau terpilih, baru lepas dari Korps".



Aku adalah Gubenur Ikan.

Sama seperti adat Timur. Demi tegaknya konsitusi, aku juga harus sanjo, ke rumah Jenderal. Pada siang menjelang sore, aku benar-benar sanjo ke rumah Jenderal, Kepala Pasukan Anti Pukat Harimau. Tujuanku untuk meminta restu dari Sang Jenderal untuk memberi rekomendasi agar aku direstui menjadi Gubernur Ikan tanpa harus keluar dari Korps.



"Apa-apaan kau! Bagaimana mungkin kau bisa menjadi Gubernur Ikan, jika kau tidak keluar dari Korps. Itu melanggar kode etik Korps. Ini memalukan!" Jenderal benar-benar berang dengan gagasan konyolku.



Aku benar-benar merasa menjadi tolol di depan jenderal. Padahal, sebelumnya, aku sudah mendapat sederet penghargaan dalam beberapa operasi. Tapi, sore ini aku hanya bisa tertunduk lesu dan pulang dengan langkah gontai. Tak ada yang kudapat, hanya sebuah kemarahan belaka. Malam Jumat Kliwon, aku menangis sejadi-jadinya, mengadu pada Sang Mbau Rekso.



"Cucuku, bangkitlah!" sebuah suara menggema dari asap hitam.

Aku tergeregap. Keringat bercucuran. Aku menjadi gagap.



"Ssssiapa, ssssssiapa.. ka....ka..kaau?!"



Suara itu malah mentertawakanku.



"Bukankah kau yang meminta agar aku hadir untuk membantu dan mengabulkan keinginanmu menjadi Gubenur Ikan?



"Oh, ..iiiiya..iya…!. Kalau begitu kau adalah…"



"Cucuku, dengar dengan hikmat!"



Aku mulai membuka telinga lebar-lebar.



"Apa yang harus kulakukan, Nyi?



"Untuk meminta izin kepada jenderal, kau bisa manfaatkan sekelompok Ikan Seluang. Sebab, di antara sekian banyak ikan, hanya Ikan Seluang yang pintar bermain di tengah arus. Dan jangan lupa, buatlah koalisi palsu dengan sekelompok Bunglon, yang setiap waktu bisa berubah warna dan memiliki kemampuan melakukan negosiasi".



"Satu lagi, kamu juga harus mengumpulkan sekelompok Ular berkepala dua yang siap membidik lawan, sekaligus menjadi spionase peta politik lawan. Jika itu mampu dilakukan, kau bakal berhasil menjadi Gubenur Ikan".



Aku adalah Gubernur Ikan.

Aku kini berhasil memanfaatkan Ikan Seluang, Bunglon dan ribuan Ular Berkepala Dua. Dan Sang Jenderal pun akhirnya tunduk dengan tim suksesku dan mengeluarkan rekomendasi perizinan untuk menjadi Gubenur Ikan. Jadilah aku sekarang Gubernur Ikan.



Sejak menjadi Gubenur Ikan, aku menempati ruang khusus yang mungkin mirip dengan Singgasana Nyi Roro Kidul. Semua fasilitas lengkap. Dari pendingin ruangan sampai pemanas ruangan telah tersedia. Untuk mencukupi dan melayani keseharian, aku tinggal panggil pasukan Ikan Belido, Ikan Seluang, dan para Ular Berkepala Dua.



Aku adalah Gubenur Ikan.

Aku banyak memiliki kemampuan untuk menghalau kekuatan lawan. Apalagi hanya sekadar kelompok katak yang hanya bisa hidup dengan melompat-lompat. Semua hal yang sepele. Semua karakter mahluk air ada di dalam genggamanku. Aku kini bisa bernapas lega dan hidup di atas segalanya. Tak siapa pun bisa menggeser posisiku sekarang. Semua wiayah ini menjadi kekuasaanku.



"Siapa yang menghadang atau menghalangi gagasanku harus berhadapan dengan aku".



Aku adalah Gubenur Ikan.

Aku kini bangkit untuk merajai semua mahluk air. Dan kawasanku memang kawasan rawa yang membuatku tak begitu sulit untuk meramu sedemikian rupa tentang bagaimana wilayahku ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat air.



Kebanggaan dan kepongahan Gubenur Ikan tak membuat sadar kalau wilayah kerjanya yang sebelumnya adalah kawasan air, sudah separuh lebih menjadi daratan. Dan perluasan daratan yang telah memakan kawasan air ini sepertinya tidak dicermati oleh Gubernur Ikan. Dia hanya asik dengan apologinya sebagai bekas staf Pasukan Anti Pukat Harimau dengan sederet prestasi. Sehingga, saat berhadapan dengan kelompok makhluk darat, Gubernur Ikan menjadi gagap. Belum lagi, serangan Ikan Lou Han sebagai ikan pendatang juga telah mengancam keberadaan wibawa Gubenur Ikan.



Berbagai macam kegagapan muncul. Kelompok air yang sebelumnya mengamanatkan agar Gubernur Ikan memperjuangkan hak-hak makhluk air, makin lama makin terlupa. Gubenur Ikan akhirnya terbuai dengan tawaran materi dari sekelompok mahluk darat. Mahluk darat telah berhasil mengkooptasi pola pikir Gubenur Ikan yang sebelumnya memang tak berpengalaman di kawasan darat.



"Tuan Gubenur Ikan, kami dari perwakilan mahluk darat menawarkan agar Tuan bisa merelakan sebagian wilayah air di kawasan kekuasaan Tuan untuk kami jadikan permukiman rumah kaca," kata salah satu perwakilan mahluk darat saat menghadap Gubenur Ikan.



"Why Not?! Kalau memang itu bisa memberdayakan masyarakat saya".



"O, pasti, Tuan. Dengan rumah kaca, nanti masyarakat air di sini bisa lebih leluasa menikmati hidup dengan berbagai pandangan dari dalam rumah kaca yang di dalamnya juga kami isi dengan air. Dan masyarakat air di dalam rumah kaca itu akan kami beri makan setiap hari tanpa harus memeras keringat. Dan Tuan bukan saja menjadi Gubenur Ikan, tetapi Tuan juga akan menjadi Gubenur Rumah Kaca".



Sejak itu, Gubenur Ikan membentuk Tim khusus, untuk mencari pasukan air yang benar-benar mengerti tentang seluk beluk konstruksi bangunan rumah kaca. Ratusan makhluk air diseleksi menurut seleranya sendiri. Dua hari kemudian, semua jenis makhluk pembawa kabar berita diundang untuk mengekspose tentang tim yang akan melakukan pengawasan dalam pembangunan rumah kaca.



Gagasan ini ternyata mendapat protes dari kelompok oposisi darat. Ratusan makhluk oposisi dari kawasan darat mendatangi kantor Gubenur Ikan guna meninjau ulang terhadap pembentukan tim itu. Sebab, menurut salah satu perwakilan oposisi, tim yang dibentuk Gubenur Ikan ada beberapa makhluk yang berkepentingan untuk menenggelamkan kawasan darat.



"Kalian tidak bisa menduga buruk seperti itu!", Tukas Gubenur Ikan dengan nada tinggi." Kalian harus melihatnya secara jernih. Kalau wilayah air di kawasan ini bisa rapi dengan rumah kaca, yang di dalamnya berisi air, maka kawasan ini akan menjadi indah dan rapi. Dan sekali lagi, ini sudah menjadi keputusan saya, dan saya tidak akan merubahnya. Titik," katanya dengan emosi.



"Kami hanya memberi masukan. Persoalan diterima atau tidak, itu urusan Anda. Ini kami sampaikan, agar kita semua terselamatkan dari banjir besar yang berkemungkinan akan menimpa kita bila kita tidak berhati-hati dengan pembangunan rumah kaca!," jawab perwakilan oposisi darat dengan nada yang tak kalah emosionalnya dengan Gubenur Ikan.



Usulan dari oposisi darat terbuang begitu saja. Sementara, Gubenur Ikan tetap memilih mengorbankan wilayah airnya dijadikan perumahan rumah kaca dan pusat pembelajaan. Pusat-pusat pembuangan dan resapan air mulai tertutup. Kawasan darat mulai tergenang air. Luapan air tak bisa dicegah lagi. Semua kotoran bertumpuk. Semua makhluk sulit membedakan, mana kotoran, mana makhluk. Manusia, hewan, gembel, Gubernur Ikan, dan Jenderal Penguasa Laut sulit dibedakan. Warnanya sudah sama dengan sampah dan tinja. Sementara, kelompok opsisi darat, masih terus mencoba mendayung sampan untuk mencari katup-katup air yang masih tersumbat. Sambil berzikir, berpikir dan terus berjuang, kelompok oposisi darat masih terus mengincar Gubenur Ikan untuk segera digulingkan. Tetapi, kelompok oposisi darat memang harus bekerja keras, sebab mereka masih sulit membedakan mana Gubenur Ikan dan mana tinja. Semua sudah berpadu.
Read More..
"Cerpen Budaya: Gubenur Ikan" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen BudayaCerpen FiksiCerpen Motivasi and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/gubenur-ikan.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 16:33.

Cerpen Cinta: Dinner Perdana

Semangkuk bulan tergeletak di jendela apartemenmu. Pecahan-pecahan pelangi elektrik menggerayangi dinding-dinding gedung jangkung yang bertaburan di kotamu. Semenjak aku memasuki ruang apartemenmu, kamu telah membuat aku terpesona. Tata interior apartemenmu yang artistik, serba biru keunguan. Lampu tempel yang redup. Dadaku ikut berdegup. Hiasan dinding karyamu sendiri. Lukisan-lukisan dan foto-foto hasil jepretanmu. Atmosfir ruangan yang sejuk dan wangi. Mungkin memang telah kamu persiapkan sebelum kedatanganku tadi.

“Inilah tempat merenungku yang pernah aku ceritakan dulu pada Abang. Silakan Abang duduk. Abang mau minum apa?”



“Seperti dalam perbincangan kita, Say… aku minta juice jambu monyet saja.”



Kamu tersenyum. Senyummu begitu membuatku tersenyum. Alangkah anggunnya kamu, Say. Baru kali ini aku melihat keanggunanmu yang nyata. Sehari-hari biasanya kamu hanya berjins dekil, kaos oblong dan hem berukuran luas. Dandanan khas seniwati. Tidak neko-neko seperti peragawati atau yang merasa diri peragawati. Ya, malam ini penampilanmu pun anggun. Baju panjang biru laut berbahan lembut dengan dua tali di pundak kanan kiri. Rambut panjangmu lepas, lentur alami.



Kamu datang membawa dua gelas panjang seperti yang sering kutonton di film-film. Entah gelas apa namanya. Tapi tinggi, langsing dan lekukannya feminis.



“Silakan dicicip, Yang.”



Aku ingat, kamu sering menyebutku “Yang” atau berasal dari kata “sayang”. Mesra sekali sebutanmu itu. Aku sering kali berbunga-bunga bila kamu bilang begitu. Ah, biarlah dulu bunga-bunga itu. Aku mau mencicipi minuman olahanmu, Say. Bah! Juice jambu monyet sungguhan! Aku terbelalak.



“Kenapa, Yang? Aneh?”



“Di kota yang selalu bermandikan pecahan pelangi ini masih ada jambu begini?”



“Tidak sih. Tapi aku sudah menyimpan jambu ini puluhan tahun. Aku selalu meletakannya pada suhu yang dingin konstan agar tetap terjaga. Sebab, dulu, aku berangan-angan bahwa aku akan menikmatinya dengan seseorang yang bisa menghargai jambu ini seperti aku pun menghargai jambu ini.”



Lalu kamu tersenyum, dan duduk di sofa yang ada di hadapanku. Aduhai sekali. Kamu betul-betul membuatku tersenyum senang, Sayang. Kupandangi sosokmu lekat-lekat. Rambutmu yang panjang, ah, ingin rasanya kubelai. Ah, aku tidak tahan untuk tidak menyentuhmu, wahai pesona!



“Sayang, kamu cantik sekali malam ini.”



“Ah, Abang hanya ingin menyenangkan hatiku.”



“Jujur, malam ini aku merasa sangat istimewa sekali.”



Aku alihkan kerinduanku menyentuh pipimu yang putih mulus itu dengan mengambil gelas berisi juice jambu monyet itu. Kuseruput perlahan. Aku ingin sungguh-sungguh menikmati rasanya. Apakah kamu juga jago membuat juice, apalagi dari buah jambu monyet yang berusia puluhan tahun.



Slurp! Eh, enak! Sungguh! Benar-benar hebat! Mataku berbinar-binar sebagai mana ekspresi keriangan yang tercipta dari secicipan juice jambu monyetmu.



Kamu tersenyum manis, lebih manis dari juice jambu monyet yang mengisi dua gelas cantik kita.



“Say, aku bahagia sekali memandang pesonamu malam ini.”



“Abang belum melihat sewaktu aku bangun dari bobok sih. Serem!”



“Kamu bangun dari bobok, itulah aslimu. pasti asli, tanpa make up sialan itu.”



“Yang, aku nggak bisa pakai make up. Aku lugu banget. Nggak bisa dandan. Selama ini aku cuma fokuskan pada perawatan kulit saja.”



“Kalau begitu, aku tidur di sini saja ya, supaya bisa melihat wajah aslimu ketika kamu baru bangun tidur.”



“Idiiiih… Abang genit deh,” responmu sembari mencubit lenganku agak lama.



Aku meringis, menahan cinta yang mengalir dari cubitanmu. Kubiarkan saja begitu. Matamu melotot sedikit, tapi menambah pesonamu kian menggemaskanku. Dadaku berdebar kencang. Ingin rasanya aku mengambil jemarimu dan mencium di punggung telapak tanganmu yang putih mulus itu.



Semakin kubiarkan, cubitanmu tidak lagi terasa sebagai cubitan, tetapi seperti hendak memegang lenganku. Ah, aku semakin tidak tahan. Terpaksa kujamah jemarimu dengan jemari lenganku yang lain. Kuremas sesaat. Dadaku seperti tersiram air es. Nyes!



“Sayang, aku merindukanmu siang dan malam. Aku sering menitipkan salam terkangen yang pernah kumiliki itu. Kutitipkan lewat angin, rombongan awan, camar, layar perahu, lampu mercusuar, para pelaut, kapten kapal, para bajaklaut, atau apa saja, untukmu seorang.”



Aku masih meremas hangat jemarimu. Kadang kutempelkan di pipiku. Dan, telapaknya aku buka. Kuciumi, dan kutempelkan lagi di pipiku. Jemari yang mulus dan wangi. Kukumu terawat sekali tanpa memakai pewarna kuku.



“Bang, aku malu.”



“Malu?”



“Semalam aku nunggu Abang. Aku pengen nelpon Abang. Lalu aku melukis.”



“Pasti lukisanmu bagus.”



“Entahlah. Yang jelas, ada kerinduan yang teramat dalam yang aku tumpahkan disana.”



“Rindu untuk keluarga?”



“Bukan.”



“Untuk pacarmu?”



Kamu tersipu. Ah, malah ingin mencium pipi merah semu itu.



“Boleh aku tahu kamu kangen siapa?”



“Aku malu, Bang.”



“Pakai saja jaketku ini.”



“Tuh kan…”



“Lha katamu, malu. Memang bajumu itu anggun, tapi pundak mulusmu begitu… hmmmm… Gara-gara itu kamu malu?”



Kulihat kamu tersipu. Senyummu terus mengembang bagai kembang eidelwes. Rambutmu bergoyang-goyang. Hmmm… indah sekali.



“Sungguh, aku malu. Aku takut aku yang GR.”



“Aku juga GR kok. Kita sama-sama GR.”



“Aku kangeeeen ama Abang!” jeritmu lirih sembari segera berbalik meremas jemariku.



“Aku juga kangen kamu, Sayang.”



“Tuh kan, Abang cuma mau menyenangkan aku.”



Ah, kamu begitu deh. Haruskah kubawakan orang-orang di sekitar rumahku agar mereka bersaksi di hadapanmu bahwasannya aku merindukan dirimu, Sayangku? Kurasa tidak perlu. Bisa bikin repot. Bisa mengganggu acara dinner pertama kita ini. Tetapi, maksudku, aku bicara jujur saja begitu padamu. Apa susahnya jujur, meski sepertinya aku harus menanggung malu padamu.



“Bang, aku kangen tenan ama Abang.”



Aduh! Aku meringis lagi. Kamu kangennya berduet dengan mencubit. Seperti tadi, dan ini lama juga. Aku malah pengen memelukmu segera. Toh hanya kita berdua dalam ruangan ini. Tidak ada siapa-siapa.



“Say, kita jadi dinner nggak nih?” kataku lirih, karena aku sedikit terpancing pada keinginan untuk memelukmu dan lain-lain.



“Oh iya! Sorry, Yang.”



Kamu melepaskan cubitan sayang itu. Aku merasa kehilangan. Ah, aku menyesal, kenapa mengingatkan soal dinner segala. Bukankah orang jatuh cinta biasanya kurang berminat soal makan? Ah, sayang sekali cubitan cinta itu telah berakhir.



Kamu menarik tanganku perlahan. Aku tahu maksudmu. Aku pun bangkit, dan berjalan ke arah yang hendak kita tuju. Mendadak aku mendekapmu dari belakang. Kulingkarkan kedua lenganku di pinggang rampingmu. Kukecup rambutmu. Hmmm harum.



“Aku rindu padamu, Say.”



“Mmmmm…”



Kemudian aku lepaskan lagi. Kamu menoleh ke arahku dengan rona agak cemberut. Barangkali kamu kecewa karena kemesraan itu cepat aku lepaskan.



“Kasihan masakanmu itu. Jangan sampai mereka menggigil, Sayang.”



Kamu tersenyum. Berarti kamu sudah paham maksudku tidak meneruskan kemesraan itu.



Beriring kita menuju meja mungil yang telah menunggu kehadiranku sejak aku di rumahku. Dua kursi telah menganga, menanti pantat kita menyumpalnya. Di sebelah kita ada jendela lebar, menampilkan lukisan asli panorama laut lepas dan gedung-gedung jangkung bertabur kunang-kunang. Panorama yang luarbiasa!



Kamu menghidupkan dua batang lilin di antara jarak kita. Syahdu. Lalu kamu bangkit, dan berjalan agak cepat keluar kursi. Satu per satu lampu-lampu elektrik kamu padamkan. Tinggal dua lampu tempel yang berada di dinding dekat pintu masuk kamar. Itu pun hanya sekadarnya saja. Rupanya kamu sengaja hendak membuat fokus temaram di meja makan mungilmu. Dua lilin merah jambu mulai meliuk-liuk, menjamu.



Aku masih menunggumu di kursi itu. Kamu berjalan ke arah satu set tape dect. Kamu menghidupkan sesuatu. Suara piano mengalun merdu. CD ‘Fall in Love with Classics’ yang baru kamu beli tadi pagi. Setelah itu kamu berbalik menuju tempat kita akan memulai dinner pertama ini. Dadaku berdebar-debar. Karena memang baru kali ini kita dinner di apartemenmu, sekaligus untuk membuktikan kepiawaianmu mengolah masakan.



“Sorry, Yang, agak lama.”



“Nggak apa-apa, Say. Kamu betul-betul romantis! Sudah anggun, romantis lagi!”



“Tuh kan. Abang paling pintar kalau sudah memuji.”



“Ehm, mending begitu, dan pujian Abang kan realistis dan relevan. Lebih mending lagi daripada memaki dan mengumpat habis-habisan.”



Kamu tersenyum saja. Selalu tersenyum. Ah, ingin rasanya aku mengulum senyummu itu. Ah, ingin!



Kamu sudah duduk manis di kursi makan. Perlahan tapi tegas kamu mulai mengambil piringku, dan menuangkan nasi di situ. Kulihat caramu menuangkan nasi, begitu hati-hati, sepertinya kamu tidak rela satu butir nasi pun terjengkang dari kerumunannya. Bentuknya pun kamu atur sedemikian indah, selayaknya sentuhan seniman meja makan. Setelah itu kamu serahkan padaku seraya menyuguhkan senyum manismu.



“Ehmmmm… terima kasih, Sayang.”



Kamu tersenyum lagi. Senyummu manis lagi. Aku lirik sedikit ke luar jendela yang menghadap laut lepas. Aku yakin, kapal-kapal di laut lepas dan mercusuar tua yang mengintip di jendela apartemenmu itu iri melihat romantisme ini. Biarkan saja mereka cemburu. Bukan urusan kita.



Ah, inilah acara dinner pertama kita. Begitu merasuk dalam sanubariku. Begitu mengaduk-aduk jutaan kata cinta yang telah sekian tahun mengendap dalam jiwaku. Berkali-kali aku menyesali diri, kenapa baru sekarang berjumpa denganmu, Say.



Kicau burung-burung membangunkanmu dari lelapmu. Kamu lihat burung-burung, entah dari mana, tiba-tiba bernyanyi di jendela apartemenmu. Kamu melongo pada panorama pagi di jendelamu. Kamu kucek-kucek matamu, memastikan penglihatanmu sendiri.



Ah, mungkin aku bermimpi semalam, pikirmu ketika menyadari sesuatu. Tetapi burung-burung itu nyata sekali.



Kamu melirik ke meja di depanmu. Dua gelas berisi juice jambu monyet masih utuh di situ. Kamu segera bangkit dengan kimono yang terbuka melambai-lambai, berjalan menuju meja komputermu.



“Say, sorry, Abang belum bisa datang pada acara dinner pertama kita malam ini. Tapi sungguh, Abang rindu mendayu-dayu padamu,” tulisanku masih terselip di sana dalam keadaanku offline.



Kamu cemberut.
Read More..
"Cerpen Cinta: Dinner Perdana" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen CintaCerpen Pengalaman Pribadi and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/dinner-perdana.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 21:03.

Cerpen Pengalaman Pribadi: Maaf Mama. Firasatmu Benar,,!!!

Ketika cinta jatuh di hatimu, ke mana kamu akan mengadu? Dulu jawabanku hanya satu. Aku akan berlabuh di pelukan mama, membagi getar-getar bahagia yang terkadang membuat gugup. Getar cinta!

Abidzar! Cowok yang pernah hilang dari mataku. Tapi di hatiku tidak! Kini hadir lagi. Berdiri di depanku, mengulurkan tangan untukku. Dan ketika aku sambut uluran itu, suara seraknya melantunkan kata maaf diikuti tatapan mata yang menyiratkan sesal, karena telah meninggalkanku kemarin. Kata hatiku percaya, maaf dan sesal yang dilantunkan Abid itu tulus tapi haruskah kepercayaan itu membuatku kembali ke pelukannya? Kesalahan Abid di masa lalu bukan kesalahan kecil. Dia menghilang begitu saja dari kehidupanku, setelah sebelumnya menyakitiku dengan menduakanku.

Dulu saat Abid pertama datang mengatasnamakan cintanya untukku. Pelarianku adalah mama. Mama seorang! Karena untuk berbagi ke papa adalah mustahil. Hingga usiaku menginjak delapan belas. Aku belum pernah melihat langsung wajah papa. Hanya dalam photo pernikahannya dengan mama!

Saat aku masih kecil, pertanyaanku tentang papa selalu mendapat jawaban yang mengenaskan. Papa mati karena kecelakaan. Dan air mata mama pasti mengalir deras mengiringi kisah itu. Tapi di usiaku yang ke tujuh belas, tahun kemarin! Bertepatan dengan kedatangan Abid untuk kukenalkan pada mama. Mama bercerita lain lagi tentang papa.

"Ini adalah kisah yang sebenarnya. Dan aku pikir kamu memang harus tahu kebenaran itu. Firasatku mengatakan, papa kamu masih hidup. Cuma aku tak tahu dia sekarang di mana," ucap mama saat itu. Masih lancar, belum ada air mata yang menyendatkan kalimatnya.

"Lalu kenapa nggak pernah menemui mama." tanyaku langsung.

"Eyang dari papamu tak menginginkan itu. Mama terlahir dari keluarga yang berkubang kemiskinan. Eyangmu yang telah mengalirkan darah biru di kehidupan papa, tak bisa menerima kehadiran mama meski kami telah membuktikan cinta kami dengan pernikahan yang sah setelah lari dari rumah."

Kurasakan hatiku seperti teriris. Sakit yang kurasakan begitu perih. Lebih perih ketika mama bercerita bahwa papa meninggal dalam kecelakaan.

"Lebih sakit lagi, papamu diseret dari kehidupanku. Bahkan papamu yang memang tak berpendirian tunduk untuk dinikahkan lagi tanpa harus berpikir bagaimana nasibmu yang masih dalam kandungan."

Air mata mama mengalir lagi. Hingga sepatah kata pun untuk Abid, tak ada! Hingga kemudian mama beranjak ke kamar. Meninggalkan aku dan Abid. Aku tak tahu apa yang ada di benak Abid malam itu. Dia banyak diam, mungkinkah dia kecewa dengan keadaan keluargaku? Entahlah. Yang jelas sejak saat itu Abid berubah drastis. Bahkan berkesan sengaja menggandeng cewek lain di depanku. Sakit sekali!

Dan kini, saat sisa cinta untuk Abid masih selalu meresahkan tidurku, menyiksa hatiku. Abid datang lagi. Jika aku harus mengikuti kata hatiku, itu berarti aku akan menerima kehadiran Abid lagi. Aku masih mencintainya! Tapi, mungkinkah mama menyetujuinya? Mama tahu Abid telah melukaiku. Bahkan pernah berkata, sorot mata Abid mengingatkan dia pada papa dan bukan tak mungkin Abid itu adalah cowok yang tak punya pendirian. Tidak bertanggung jawab seperti papa. Dan firasat mama itu terbukti dengan kenyataan perih yang Abid sodorkan untukku.

Untuk menerima Abid kembali tanpa persetujuan mama rasanya tak mungkin juga aku lakukan. Mama satu-satunya yang menjadi teman curhatku, dan itu sejak aku masih kecil. Mungkin karena aku tak punya saudara dan juga papa yang membuatku bisa menyisihkan sebagian permasalahanku, tanpa harus lari ke mama.



"Ma!" ucapku menyebut namanya. Meski belum berani untuk mengungkapkan keresahanku.

"Aku tahu kamu punya masalah. Firasatku mengatakan begitu. Akhir-akhir ini kamu menyembunyikannya untukku. Atau mama tak bisa lagi dianggap sebagai teman curhat?" ungkap mama membuatku semakin tak tahu harus mulai dari mana untuk bicara tentang Abid.

"Kamu jatuh cinta lagi?" lanjut mama, yang kubalas dengan anggukan.

"Itu tak salah," ungkapnya lagi. "Tapi kamu harus hati-hati. Jangan sampai kamu harus bertemu lagi dengan cowok bejat seperti Abid. Bukankah dari pertama kamu kenalkan aku pada Abid, aku sudah beranggapan lain tentangnya. Tapi kamu terus membelanya"



Cowok bejat! Abid telah mendapat julukan seperti itu dari mama. Tapi kenapa aku tak bisa mencap Abid seperti itu? Bahkan hatiku terbuka lebar untuk menerima kehadiranya lagi.

"Tapi cinta yang kurasakan kini, Mam! Masih cinta untuk Abid!" ungkapku tanpa berani menatap mama.

Mama langsung berbalik ke arahku. Tapi sedikit pun aku tak bisa berbalik untuk menatapnya. Aku tahu mama kaget dengan kalimatku itu.



"Jika kamu masih mau merasakan luka yang lebih perih dari yang pernah kamu rasakan. Silahkan kamu menerimanya kembali."

"Mama jangan menganggap semua lelaki di dunia ini sama seperti papa. Tahunya hanya membuat luka, mengecewakan!"

"Nia, aku berani cerita jujur tentang papamu yang sebenarnya tidak meninggal dalam kecelakaan dan kemungkinan masih hidup karena melihat sorot mata dan tingkah laku Abid. Dia mengingatkanku pada papamu. Dan firasatku mengatakan jika dia tak ada bedanya dengan papamu. Cowok yang tidak bertanggung jawab!" tegas mama.

Aku terdiam. Seperti yang kuduga, mama tidak akan pernah menyutujui hubunganku lagi dengan Abid. Dan itu berarti, anganku untuk memiliki Abid kembali harus pupus hingga di sini. Aku tak ingin mengecewakan mama dengan tindakan yang tidak disetujuinya. Aku tak ingin melukainya dengan kebahagiaanku. Bagaimana pun mama satu-satunya yang ada dalam kehidupanku selama ini.



Minggu pagi. Aku jalan-jalan ke rumah Abid. Dia yang ngajak, lagi pula aku tak mungkin mengajak Abid ke rumah. Mama pasti tak setuju Abid berkunjung ke rumah

Rumah Abid cukup megah. Tapi berkesan sepi, hanya seorang tukang kebun yang menerima kehadiranku. Itu pun aku harus ditinggal di teras depan saat dia masuk memanggil Abid. Hampir sepuluh menit aku menunggu baru kemudian Abid muncul dengan wajah segarnya. Dia baru saja mandi.

Abid mendesah panjang. Aku tahu, dia sedang berpikir, merangkai kalimat yang tepat untuk meminta jawabanku setelah kemarin dia melantunkan sesal. Aku ikut gelisah, tak tahu harus ngomong apa. Padahal seharusnya aku yang angkat bicara duluan karena jawabanku telah pasti. Aku tak bisa menerima cintanya lagi! Tapi alasanku apa? Aku tak mungkin membawa nama mama dalam persoalan ini meskipun jawaban tentang pertanyaan Abid kudapat dari mama. Atau apa aku harus menolak cinta kedua Abid dengan alasan perbedaan usia antara kami?

Abid memang lebih muda dariku, tapi tidak sampai beda setahun! Dan jika itu yang jadi alasanku, mengapa aku tidak menyodorkannya saat pertama Abid datang mengungkapkan cintanya dulu.

"Kirain kamu nggak datang," ucapnya juga akhirnya setelah menyadari kami terdiam beberapa menit di teras. "Sori aku di kamar mandi saat kamu datang tadi. Masuk, yuk!"

Kuikuti langkahnya. Tapi sungguh tak kumengerti saat hendak kurapatkan duduk di kursi ruang tamu. Tiba-tiba Abid meraih pergelanganku, mengajakku untuk mengikuti langkahnya lebih ke dalam lagi. Tapi bagaimana mungkin itu kulakukan, aku kan baru berkunjung ke rumah ini. Saat kutepis pegangan Abid, dia tambah mengencangkan genggaman. Lenganku sampai sakit.



Aku teringat mama. Firasat mama tentang Abid yang bejat benar adanya.

"Apa-apan sih!" bentakku meronta hendak melepaskan cengkeraman tangannya.

Dia tak bergeming. Hanya berbalik menatapku dingin. Setelah itu, dia menarik lenganku lagi. Dadaku berdebar kencang. Baru kusesali, mengapa aku tak mendengarkan nasehat mama untuk menjauhi Abid. Firasat mama memang tak pernah salah. Lalu apa yang harus kuperbuat sekarang? Rumah megah ini sepertinya hanya dihuni oleh Abid dan aku. Teriakku hanya percuma.

Di ruang tengah. Abid membuka sebuah kamar lalu menyeretku masuk ke dalamnya. Aku ingin teriak. Meronta! Tapi pemandangan yang kudapatkan di dalam sana membuatku terpaksa mengurungkan niat itu. Di atas spring bed sana terbaring seorang lelaki tua. Kumis dan jenggot tumbuh liar di wajahnya, mata cekung dan tubuh kurusnya berjuntaian kabel-kabel infus. Abid melepaskan cengkeramannya di lenganku. Menghampiri lelaki itu dan entah kenapa, aku mengikuti langkahnya.



Dari matanya tersorot tatapan yang seolah pernah aku dapatkan sebelumnya. dan kalau pun tatapan itu tiada beda dengan tatapan Abid tapi hati kecilku masih yakin, jika aku pernah mendapatkan tatapan itu sebelumnya. Lelaki itu menangis! Juga Abid. Mungkinkah Abid memperkenalkan aku pada papanya sebagai orang yang akan menemani hidup Abid, jika kelak papanya meninggal?

"Nia, dia papaku! Dan harus kamu tahu juga jika lelaki tua ini adalah papamu."

Seperti sebuah petir menggelegar. Tapi hanya terdengar dalam kamar ini karena cuaca sedang terik di luar sana.



Lelaki tua itu meraih tanganku bahkan menciumnya. Dia mengangguk kemudian sebagai sebuah isyarat agar aku memeluk tubuhnya. Tapi itu tak aku lakukan. Kalau pun dia adalah papaku, bukankah kemarin dia telah menelantarkan hidupku. Melukai mama! Aku ingin berlari keluar, tapi aku tak tahan juga melihat tatapannya yang begitu bahagia seakan melepas semua kerinduannya untukku.

"Sebulan sudah dia mengering di sini," ungkap Abid menangis.

"Apa peduliku," ucapku membuat keduanya tersentak. Aku berlari keluar. Tapi saat di luar kamar Abid kembali menggenggam tanganku.



"Dia papamu, Nia! Kamu harus percaya itu."

"Jika dia adalah papaku, kenapa dia tak pernah mau tahu bagaimana nasibku."

Abid menatapku tajam. Kedua rahangnya terkatup keras seakan menahan gemuruh emosi yang kini menderanya. Dan memang, semenit kemudian tanpa pernah kuduga dia mendaratkan tamparan kerasnya ke wajahku. Perih sekali!

"Nia, karena kamu dan mamamu. Aku hidup dalam broken home. Papa tak pernah mencintai mamaku. Dia bahkan mengusir mamaku dari rumah ini. Bertahun-tahun dia mencari kamu dan mamamu, tanpa pernah mau tahu ke mana mamaku hidup, setelah dia usir dari rumah ini. Aku menderita karena kamu, Nia! Dan saat sebuah takdir mempertemukan kita dan mendengar semua cerita mamamu. Aku yakin kamulah yang selama ini menjadi bayang-bayang dalam kehidupanku. Dan jangan salahkan jika kemarin aku membalas sakit hatiku dengan melukaimu. Tapi melihat papa yang sakit-sakitan, aku tak tega untuk tidak menemuimu. Dia papamu juga!"

Aku terdiam. Aku ingin berbalik kembali melihat lelaki tua di kamar yang ternyata adalah papaku. Tapi bayangan air mata mama setiap bercerita tentang papa, tak mengijinkan aku untuk itu. Aku bergegas pergi.

"Nia, kamu tega melakukan ini?" ucap Abid menghalang langkahku.

Aku tetap melangkah.

Terus melangkah hingga akhirnya kudapatkan mama di rumah sedang duduk sendiri. Aku yakin, dia berpikir tentangku. Kutata rapi hatiku. Aku tak ingin mama tahu aku habis menemui Abid, apalagi sampai tahu kalau Abid adalah anak papa juga. Aku tak ingin mama terluka lagi.

"Mama melamun, ya?" godaku.

Mama masih diam seolah tak menyaksikan kehadiranku. Bahkan sedetik kemudian kudapatkan air matanya bergulir di pipi. Mungkinkah mama punya firasat kalau aku habis menemui Abid? Aku lebih baik jujur sebelum mama menginterogasiku.

"Maafkan aku, Ma! Aku menemui Abid hanya untuk mengatakan bahwa aku tak bisa menerima kehadirannya lag," ucapku meraba pundaknya.

"Mama yang salah. Wajah polos Abid mengingatkanku pada papamu. Dan luka masa lalu itu telah membuatku membencinya. Harusnya Abid kujadikan tempat untuk melepaskan rinduku pada papa."

"Mama rindu pada papa?" tanyaku antusias.

Mama mengangguk. Aku langsung menghambur ke pelukan mama. Tangisku di rumah Abid kini terulang lagi.



"Mama keliru telah membenci papamu, padahal aku tahu dia mencintaiku. Tapi eyangmu yang tak mengijinkan kami untuk bersatu."

Kulepaskan pelukanku pada mama. Ketika benakku berpikir untuk mengajak mama menemui papa tiba-tiba ponselku berdering. Dan itu dari Abid.

"Papa sekarat. Yah, papa! Kamu mau mengakuinya atau nggak, tapi itulah kenyataan. Dia selalu mengingau menyebut namamu."

Aku tak bisa bicara apa-apa. Air mataku luruh membayangkan wajah lelaki tua yang baru saja aku sakiti hatinya.

"Dari siapa?" tanya mama melihat diamku.

"Abid."

"Mendengar nama Abid kali ini seperti memberi firasat pada mama, papamu sekarang sedang tersiksa bahkan mungkin telah meninggal."

Aku tersentak. Tiba-tiba saja aku tak ingin kehilangan lelaki tua itu. Papaku! Cepat kutarik lengan mama dan mengajaknya ke rumah Abid, meski bibirku belum sanggup bicara tentang papa pada mama. Aku ingin mama tahu dan melihat sendiri apa yang akan terjadi di sana. Dan semoga saja firasat mama kali ini meleset.
Read More..
"Cerpen Pengalaman Pribadi: Maaf Mama. Firasatmu Benar,,!!!" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen MotivasiCerpen Pengalaman Pribadi and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/maaf-mama-firasatmu-benar.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 19:23.

Lirik Lagu Baru Ariel di Penjara

Jangan-jangan kau bersedih

Ku tahu kau lelah
Tepiskan ke ujung dunia
Tenangkan hati di sana
Ketika lelah
Biarkan semua-semua
Kurangi beban itu
Tetap lihat ke depan
Dua jiwa perih
Masih ada di sana, untuk kita berdua
Dalam hati yang bersatu
Dan jangan kau bersedih
Kutahu kau lelah
Tepiskan ke ujung dunia.


Suka dengan tulisan di blog ini? silahkan langganan gratis via email.
daftarkan email Anda sekarang!
Read More..
"Lirik Lagu Baru Ariel di Penjara" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category Lirik LaguPuisiPuisi CintaPuisi Moral and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/lirik-lagu-baru-ariel-di-penjara.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 17:21.

CInta dan Senja

Lidah ombak terus menjilat pasir putih, ketika kita berdua menatap senja yang kian memerah. Matahari tenggelam ke dasar tepat di ujung laut sebelah barat. Lalu kita beranjak, di bawah lambaian nyiur menyusuri pantai sambil menjinjing sandal.



Di tepi laut ini kita berjalan mengejar buih putih yang di damparkan ombak di antara pasir putih dan kita samasekali tidak menghiraukan burung camar yang meliuk-liuk diantara mega yang kini bersemburat merah. Sesekali memekikkan telingga dengan suara yang nyaring.




“Kamu merasa senang di pantai,” kataku mencoba mencairkan suasana. Suaraku berhasil memecah kesunyiannya atau lebih tepat di katakan dia kaget mendengar suaraku yang serak.

“Ya, senang sekali,” jawabmu singkat. Sesingkat cerita ini. Walaupun tidak terdengar seriang nada suaramu yang menandakan kegembiraan. Tapi aku tahu di antara nada suaramu terdengar sumbang dan aku tahu di antara semuanya itu kamu menyelipkan suatu rahasia di setiap kata yang kamu ucapkan.




Kita pun mulai lagi terbawa ke alam bawah sadar kita masing-masing. Menghayalkan dan memikirkan sesuatu yang bakal terjadi atau sama sekali tidak akan pernah terjadi. Sambil terus melangkahkan kaki menjauhi keramaian. Keramaian yang penuh dengan suara bising dan hingar bingar. Aku tidak peduli lagi dengan langkahku yang semakin jauh. Setapak demi setapak yang meninggalkan bekas dan kemudian di sapu oleh ombak yang kian mendekati bibir pantai.




Kamu tahu aku pasti gundah, gelisah sama seperti aku memahami isi hatimu yang berisi kegundahan dan kegelisahan. Kita memang di rundung kegundahan dan kegelisahan. Kita terbalut dalam suatu kesedihan yang amat mendalam. Lalu kita pun mendekap semua apa yang akan kita lepaskan secara tidak rela, yang di redupaksa oleh cinta para tetua dan para leluhurmu.




Semburat merah senja telah memenuhi jagad semesta, walaupun tanpa pelangi yang tidak pernah memudar di sini di senja pantai ini. Dan bersama pasir putih yang di jamah oleh lidah-lidah ombak dan membawanya menuruni bibir pantai.




“Lia, masih ingat di mana kita pertama kali bertemu,” aku memancing kenangan dengan mengingatkan sejarah penting antara aku dan Lia. Mengingatkan kejadian satu tahun yang lalu yang membuatku mengenal Lia lebih dalam lagi. Yang menyiratkan butiran-butiran cinta sejak perkenalan pertama itu. 




Dan yang membawaku kembali kesini sore ini atas nama cinta. Aku berusaha mengidupkan kembali kenangan yang telah lalu yang menurutku sangat manis dan kenangan yang teramat manis di memori cintaku dan juga cinta Lia.




“Ya,.. kita pertama kali bertemu di sini, di pantai ini persis seperti ini. Saat langit bermandikan semburat merah keemasan. Itulah awal dari semuanya ini awal dari pertemuan kita,” jawab Lia. Dan menghentikan langkah dan menatap jauh ketengah deburan ombak di tengah laut yang sangat jauh. Jauh sekali. Sampai aku tidak mengerti seberapa jauh pandangan mata memandang. Memang itulah pertemuan kita batinku membenarkan ucapannya.

Saat semburat merah memenuhi jagat dan lidah ombak yang menghiasi laut serta nyanyian camar yang tidak pernah kami hiraukan menyempurnakan alam.




Lalu aku mencoba mensejajarkan diri dengan berdiri di sampingmu.

Sebenarnya aku tidak ingin mengingatkan masa silam yang penuh dengan kenangan itu, masa lalu yang sudah terpatri dengan damai laksana arca di puncak dewata. Namun aku hanya ingin memecah keheningan yang menghinggapi kita. Karena ketakutanku terhadap sepi sehingga aku mencoba mengingatkanmu.




Aku juga tidak ingin melihat matamu sembab dan dengan pandangan nanar kamu menatap semua kenangan yang telah bergelimpangan dan terseok-seok manghinggapi mulut kita untuk berujar. Namun mulutku akan selalu terbuka setiap aku menatap indahnya wajahmu. Aku juga tidak pernah mengerti mengapa ini harus di mulai waktu itu steahun yang lewat jika akan berkesudahan seperti saat ini. Saat yang tidak akan pernah di harapkan oleh setiap insan yang bercinta.




“Tapi Rik, nggak baik mengungkit masa lalu, biarlah itu menjadi puing-puing kenangan,” jawaban yang kemudian mengingatkanku akan suatu kehancuran istana cintaku.

“Maaf , aku hanya terkenang,” jawabku. Aku memang membenarkan semuanya. Semakin lama aku memikirkan apa yang terjadi ini maka semakin lama pula aku akan berdiri di antara ketidak pastian ini, yang akan mengombang-ambingkanku dalam ada dan tiadanya cintamu.

Aku melirik, melihat wajahmu menatap lekat-lekat. Di sana aku menemui kesedihan dan kegelisah. Yang tersembul di barik urat-urat di atas retina matamu. Yang terlalu sering di usap dengan mengerdipkan mata menahan gejolak jiwa dan juga menutup mata air air matamu. Di matamu yang dalam aku menemui suatu derita yang tidak terperi dan seolah menemui suatu kegagalan.




Kami memang akan menemui suatu kebuntuan. Aku juga akan menemui suatu kegagalan yang memang telah terdampar di depanku seperti permadani yang mau tidak mau aku haru menginjakkan kakiku dan mengentikan langkahku dalam permadani kegagalan itu.

Aku tahu kegagalan ini akan menghadirkan kesepian setidaknya bagiku. Kesepian yang selalu kutakuti. Dan hanya kesepian ini yang kutakuti.

Lia apakah kamu juga merasa takut akan kesepian yang akan mendera ?

Seandainyalah hidup seperti jejak kaki yang di tinggalkan di tepi pantai yang akan di hapus oleh lidah ombak dan tidak akan tersisa sedikitpun maka aku juga tidak akan terkenang oleh jejak-jejak kenangan yang telah ku ukir bersamamu. Dan tidak akan ada kenangan yang akan menderaku dalam kesepian tanpamu kini.




“Rik kamu tahukan ini bukan kehendakku, bukan inginku, aku bahkan tidak menginginkan sama sekali dan aku juga tidak menduga sama sekali keadaannya akan begini. Kamu memang benar Rik orang tuaku konservatif, kolot dalam pemikiran walaupun mereka berada di realita yang sulit mereka terima. Tapi aku harus menghargai mereka. Karena mereka orang tuaku. Perkataan mereka merupakan titah dan perintah bagiku,” Lia memberi alasan.

“Aku bisa mengerti Lia, aku juga tahu ini pasti bukanlah keinginan kamu. Memang sulit. Sudahlah tidak usah bersedih. Anggaplah ini memang suatu jalan yang terbaik untuk kita. Lagi pula aku yakin kalau orang tua kamu pasti memikirkan apa yang terbaik bagi anaknya. Ah…..sudahlah,” ujarku menghibur. Suaraku memang bisa membohongi diriku sendiri. Tapi aku memang tidak akan pernah untuk memaksa.

Aku masih terus saja menatap ke laut lepas






Sore beranjak dari peraduan dan malam pun mulai bergayut ketika aku meninggalkan karang di tepi pantai ini.


Setahun kini telah berlalu. Aku tidak tahu apa yang terjadi selama setahun ini di tempat ini. Setelah setahun yang lalu aku meninggalkan senja di pantai ini, di pantai yang pelanginya tidak pernah memudar.

Di sini aku menemui banyak kegagalan.

Kini, di tepi pantai kala malam yang dingin membalut tubuhku dan nocturno membeku di jaketku, aku mulai terkenang akan semua yang pernah kualami di sini.




Menatap ke arah teluk dimana berdiri mercusuar yang tidak menarik perhatianku dua tahun yang lalu, ketika aku bertemu dengan Angelia di sini sehingga aku tidak sempat menjadikan mercusuar itu sebagai saksi cintaku dengan gadisku waktu itu. Dan aku juga tidak sempat menjadikan mercusuar sebagai saksi perpisahan kami setahun yang lalu.

Bagiku pantai ini tetap sama seperti dahulu. Buih putih dan lidah ombak yang terus menjilati bibir pantai dan suara camar yang tidak pernah menjadi perhatianku. Dan pantai ini juga yang menyimpan banyak kenagan bagiku. Dan pantai ini juga lah saksinya berserta senja yang semburat merah.




Dalam keheningan ini aku yang terkenang masa silamku selalu menyempatkan mengucapkan namamu Angelia. Aku selalu menghidupkan namamu beserta semua kenangan bersamamu di memoriku. Tidak seperti kataku setahun yang lalu di sini kepadamu. Tidak juga seperti janjiku kepadamu setahun yang lalu, saat senja semburat merah di pantai ini.

Saat kita akan berpisah di pantai ini aku memang berjanji akan membuang semua kenangan ini. Tapi Lia aku mengingkari janjiku. Kenangan itu pula yang menghantarkanku kembali ke sini di mana kamu tidak hadir.




Walaupun sebenarnya kau sangat mengendaki kehadiran kamu, tapi bagiku itu suatu kemustahilan untuk dapat menghadirkanmu di sini kecuali bayangmu.

Aku juga masih dapat melihat kamu melangkahkan kakimu dengan gontai menyusuri bibir laut ketika kamu usai membuat putusan yang sangat memberatkan bagiku dan bagimu juga.

“Kita memang harus berpisah Rik,” itulah katamu mengakhiri semua ini. Setelah itu kamu meninggalkanku sendiri di sini di tepi pantai jauh dari karang yang ada di bibir pantai. Kamu meninggalkanku di sini bersama berjuta kenangan bersamamu yang di redupaksa oleh cinta tetua dan leluhurmu.




Malam yang telah mendaki ke puncak kejayaan malam tidak merubah dudukku. Aku menyadari nocturno itu menyapu dan membeku di jaketku. Nocturno yang selalu menghadiri malam-malamku. Malam yang penuh dengan kesunyian dan kesendirian. Kesunyian yang selalu ku takuti.






Aku sangat mengharapkan agar suatu ketika nanti kita mampu membalut nocturno ini bersama di dalam keheningan jiwa.


Samar kulihat nun jauh di sana, engkau kembali melangkahkan kaki-kaki mungilmu menghindari lidah ombak yang semakin ganas menyapu pasir putih di bibir pantai ini. Terkadang kamu melompat dan tertawa riang. Lalu kamu berlari di bibir pantai menjauhiku dengan tetap tersenyum dan tetap dengan suara riang yang menggaum ke seluruh sendi hidupku.




Suka dengan tulisan di blog ini? silahkan langganan gratis via email.
daftarkan email Anda sekarang!
Read More..
"CInta dan Senja" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen CintaCerpen Fiksi and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/cinta-dan-senja.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 16:20.
 
Is Hosted by Blogger