»
»
»Ketika Bulan Membakar

Ketika Bulan Membakar

Nuning menulis satu bait puisi di buku hariannya. Saat itu bulan sedang purnama. Gadis remaja bertubuh jangkung itu sengaja membuka daun jendela lebar-lebar, dan membiarkan angin malam yang sejuk mengaduk-aduk isi kamarnya. Si Jangkung membaca kembali puisi yang telah ditulisnya dengan banyak coretan.



Pucuk-pucuk cemara yang ramping

Menyanyi di bawah bulan kuning

Rinduku padamu ke mana mengembara

Ketika bulan membakar pucuk-pucuk cemara?



Gadis yang termenung di ambang jendela itu menutup buku hariannya. Kini, perhatiannya penuh ke arah bulan. Tiba-tiba dia mendengar bunyi kuda meringkik. Nuning tersentak. Tampak olehnya kilasan senter dari sebelah selatan.

"Ada apa, Ayah!" teriak Nuning.



"Tidak ada apa-apa, Nak. Tutuplah jendela dan tidurlah!" sahut Ayah.



Pak Mangku, ayah Nuning, adalah pemelihara dan pelatih kuda balap milik seorang bos di kota. Lelaki penyabar itu sudah lama menduda, sejak ibu Nuning meninggal. Bayi perempuan yang dilahirkan belasan tahun silam selamat. Tetapi, bidan tidak dapat menyelamatkan jiwa sang ibu yang kehabisan darah setelah melahirkan anak pertama.



Nuning terkejut untuk kedua kalinya ketika mendengar bunyi keras berdebak-debuk, di halaman rumah, di tempat gelap. Halaman itu gelap karena dinaungi pohon-pohon tinggi yang berdaun rimbun. Kali ini, Nuning tidak tinggal diam. Dia buru-buru menuruni tangga rumah panggung, dan meluncur ke halaman. Sesaat tadi, dia mendengar ayahnya memukulkan tongkat rotan ke tanah berulang-ulang.



"Memukul apa, Ayah?" tanyanya setelah dekat dengan Ayah.



"Ular belang mengganggu kuda," jawab Pak Mangku. Lelaki paruh baya itu terengah-engah.



"Ular belang, Yah?"



"Ya! Lihatlah! Hampir sebesar lenganmu!" Pak Mangku menyenter ulang ular belang yang masih meliuk-liuk, setelah berkali-kali dipukul Pak Mangku dengan tongkatnya.



"Hiii! Menjijikkan! Menakutkan!" Nuning berpaling ke kiri.



Pak Mangku berjalan terpincang-pincang ke arah kuda. Dia membawa obat dan perbekalan dari desa ke hutan. Saat serdadu Belanda berpatroli, kaki kiri Pak Mangku kena tembak. Tulang betisnya remuk. Hingga kini, beliau cacat. Komandan gerilyanya dulu, kini jadi orang kaya. Kuda-kuda balapnya dipelihara Pak Mangku di desa. Sebab, di kota lahan untuk memelihara sudah sempit dan harganya mahal.



"Melamunkan apa kau, Nuning?" Tanya Pak Mangku setelah dekat dengan anak semata wayangnya.



"Nuning ingat cerita Ayah bergerilya dulu," jawab Nuning. "Komandan Ayah jadi orang kaya di kota. Ayah memelihara kudanya," lanjut Nuning.



"Yaaa. Habis, siapa mau memakai tenaga Ayah? Ayah sudah tua dan invalid. Bersyukur, Pak Bos masih percaya pada Ayah. Orang lain tidak ada yang mau menggaji orang tua dan cacat fisik seperti Ayah."



"Pak Bos kan pernah bilang agar Ayah mengurus surat-surat agar dapat pensiunan veteran," kata Nuning, seakan mengingatkan.



"Untuk mengurus surat-surat ke kota memakan biaya besar, makan waktu dan tenaga Ayah. Melelahkan. Ikhlaskan sajalah. Toh, Ayah berjuang waktu masih remaja dulu tidak pernah mikir minta balas jasa." 


Setelah Pak Mangku menguburkan bangkai ular belang yang mengganggu kuda-kuda di kandang, Nuning kembali ke kamarnya. Dia pandangi bulan, yang makin tinggi. Pucuk-pucuk cemara yang runcing dan ramping bagai terbakar kena cahaya bulan kuning emas. Saat itu pula kuda betina yang baru melahirkan meringkik-ringkik. Anak kuda itu terbangun dan mau menyusu.




Ketika membuka kembali catatan hariannya, terlihat oleh Nuning foto Bambang. Anak pedagang tembakau yang kaya itu, kini sudah kuliah di kota besar, setelah menyelesaikan SMU tahun lalu. Di sebelah foto Bambang, tampak Hendry, sahabat Bambang, yang pemalu. Hendry pun sudah pergi, ke kota lain, melanjutkan ke perguruan tinggi. Keduanya adalah senior Nuning si SMUN Unggulan Dua di kotanya. Keduanya secara bergantian sempat menyatakan cinta pada Nuning lewat surat. Surat itu berjangka waktu masing-masing sebulan.

"Kita sebaiknya bersahabat seperti dulu. Persahabatan akan lebih menenangkan kita." Begitu jawaban Nuning via surat juga pada Bambang. Untuk Hendry, dibalasnya begitu juga.



Aneh! Keduanya merasa kecewa. Lalu, keduanya menjauhi Nuning. Mereka menyangka, Nuning menolak karena ada Joko. Padahal, Joko adalah kakak sepupu Nuning. Joko adalah anak kakak perempuan Ibu. Bambang dan Hendry mencemburui Joko, yang sering memboncengkan Nuning bila pergi dan pulang sekolah.



"Hem, lucu juga," bisik Nuning sambil memandang bulan, yang mulai bergeser ke barat. Nuning merasa sepi selama liburan panjang. Dia mengharap Vera, teman dekat Joko, jadi datang ke rumah Nuning, di tempat memelihara kuda. Tetapi, sudah hari ketiga libur, gadis yang suka ikut balap motor itu belum juga muncul.



"Ning, menurut kamu, Vera itu cocok nggak dengan Mas Joko?" tanya Joko pada Nuning, suatu siang di tempat memelihara kuda, sekitar lima kilometer dari kampung.



"Cocok sekali," jawab Nuning.



"Menurutmu, Verawati itu cantik apa nggak?" tanya Joko lagi.



"Kalau soal cantik, itu relatif, Mas," tukas Nuning. "Lelaki biasanya lebih mengerti urusan kecantikan perempuan. Kenapa, sih?" Nuning balik bertanya.



"Seisi rumahku tidak simpati pada Vera," kata Joko sambil menundukkan kepala.



"Kok, aneh!" Nuning terkejut. "Kenapa, rupanya?"



"Kata Mbak Tanti, Vera sering naik mobil Bambang, sebelum Bambang melanjutkan sekolah ke kota besar."



"Ah, apa ya? Masa sih Vera begitu?"



"Ibu juga pernah melihat Vera dan Bambang berduaan," sambung Joko.



"Tapi, kata Vera padaku, dia sayang pada Mas Joko. Dengan yang lain-lain hanya teman biasa. Cinta memang harus mengalami ujian berkali-kali, sih!"



Setiap Joko membicarakan Bambang, Nuning merasa bersalah. Begitu pula bila ada yang menyebut-nyebut nama Hendry. Nuning merasa telah melukai hati kedua anak muda yang baik hati itu.



Puncak kesepian Nuning pada hari keempat. Tak seorang pun sahabat yang datang ke tempatnya berlibur. Dia meraih gitar, dan memainkan beberapa lagu. Pak Mangku mengerti, bila Nuning sudah memetik gitar lama-lama, itu pertanda anak semata wayangnya mulai jenuh di ladang, yang jauh dari kota.



Pada hari kelima, sebuah jip muncul. Anak Pak Bos datang sendirian. Namanya Alvianto. Dia mengenakan topi cowboy berpinggir lebar. Nuning sudah lama merasa Alvianto suka padanya, tetapi tidak berani menyatakanya. Alasannya ke ladang adalah untuk melihat Aliman, kuda jantan kesayangannya.



Nuning mendengar salam Alvi, begitu dia senang disapa. Nuning menjawab salam itu. Seperti biasa, Alvi langsung ke kandang kuda. Dia menyalami Pak Mangku.



"Sendiri saja, Alvi?" tanya Pak Mangku sambil membukakan pintu kandang Aliman.



"Enak sendiri, perjalanan jadi lancar," jawab Alvi sambil menepuk-nepuk Aliman.



"Tidak kuliah hari ini, Mas Alvi?" sapa Nuning.



"Mana ada mahasiswa yang kuliah hari Minggu, Nun!" tukas Alvi sambil memasang pelana di punggung Aliman.



"Aduuuh, Nuning lupa pada hari!" pekik Nuning.



Alvi melirik Nuning. Wajah gadis mungil itu bersih. Dia baru saja menunaikan salat sunah Duha. Makanya, dia agak terlambat menyambut Alvi.



"Rajin sekali Nuning salat!" puji Alvi



"Terima kasih. Habis, kalau tidak salat Duha pagi-pagi, rasanya ada sesuatu yang kurang," jawab Nuning.



"Yuk! Keliling-keliling ladang!" ajak Alvi. "Mayang sudah melirik-lirik kamu," lanjut Alvi sambil menunjuk kuda jantan berbulu hitam yang diberi nama Mayang oleh Pak Bos, ayah Alvi.



Tawaran Alvi tidak ditolak Nuning. Berdua menunggang kuda keliling ladang, sambil mendengarkan nyanyian burung di hutan sebelah timur, atau mendengar jerit-jerit monyet-monyet, yang rebutan rambutan rimba. Deru angin di pucuk-pucuk cemara pun indah di telinga.



Mayang tiba-tiba meringkik. Kedua kaki depannya terangkat tinggi-tnggi. Kuda itu dikejutkan kehadiran seekor ular kobra sebesar lengan Nuning. Kepala kobra naik. Lidahnya terjulur. Mayang terus meringkik dan berputar-putar. Buuuk! Nuning terjatuh. Dia mengaduh.



Alvi meloncat dari punggung Aliman. Cekatan dia menyambar galah bambu dan memburu ular kobra. Meluncur si ular kobra ke arah belukar.



"Pinggangku!" keluh Nuning sambil meringis.



"Kugendong sampai ke rumah, ya?" Alvi menawarkan diri.



"Tidak usah!" tolak Nuning, yang selalu percaya diri. "Tolong tenangkan Mayang!" harap Nuning sambil mencoba berdiri.



"Ada apa, Nun?" Pak Mangku tertatih-tatih mendekati anak gadisnya. 


Alvi menceritakan gangguan ular kobra, yang menyebabkan Mayang meringkik dan meronta-ronta. Akibatnya Nuning jatuh.




Sejak Nuning jatuh dari punggung kuda, Alvi makin dekat pada gadis pendiam itu. Dia menunda kepulangannya ke kota. Obat oles untuk menghilangkan memar dan keseleo dia keluarkan dari tas di jipnya.

Nuning makin merasakan perhatian Alvi. Sebaliknya, Alvi pun memberikan banyak harapan pada Nuning. Tetapi, tumbuh pertanyaan di dalam hati Nuning, apa mungkin bisa dekat lebih lama dengan anak majikan ayahnya itu. Pertanyaan itu membuat Nuning tetap menjaga jarak. Dia tidak mau terlalu berharap. Khawatir nanti jatuh terejembab.



Selesai salat Subuh, esoknya, Alvi pamit pada Pak Mangku. Pak Bos, ayahnya, menelepon agar ia segera pulang. Ayahnya mengajak Alvi mancing di laut.



"Ikut, Nun?" tanya Alvi setelah menyalami Nuning.



"Kalau Nuning ikut, Ayah sendirian di ladang sunyi ini," jawab Nuning.



"Tak apa-apa," kata Alvi. "Insya Allah, hari Minggu depan aku ke sini, sekalian mengajak adik-adik. Assalamu'alaikum."



Nuning dan Pak Mangku serempak menjawab salam Alvi. Mahasiswa fakultas kedokteran semester enam itu selalu rendah hati kepada siapa pun.



Sepenggal Alvi, Nuning kembali merasa sunyi. Malamnya, dia buka kembali daun jendela lebar-lebar. Dia melihat sinar bulan membakar pucuk-pucuk cemara. Ingin dia menyelesaikan puisinya yang belum rampung ditulisnya. Tetapi, dia lebih senang mengenang tingkah laku Alvi, malam itu.



Ketika terdengar kentongan bambu sepuluh kali dari rumah tetangga di sebelah timur, Nuning menyadari malam semakin larut.



"Tutupkanlah jendela, Nak, malam makin larut!" Pak Mangku mengingatkan.



"Ya, Ayah," jawab Nuning sambil menarik daun jendela.



Nuning merasa, hari Minggu yang akan datang sangat lama. Tetapi, dia selalu sabar menunggu. Malam itu, dia berniat menyelesaikan puisinya yang belum rampung: Bulan Membakar Cemara.


Suka dengan tulisan di blog ini? silahkan langganan gratis via email.
daftarkan email Anda sekarang!
"Ketika Bulan Membakar" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen MitologikaFiksi and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/ketika-bulan-membakar.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 15:26.

Comments :

 
Is Hosted by Blogger