»
»
»Wujud Batu Seorang Perempuan

Wujud Batu Seorang Perempuan

SEPANJANG kisah yang kutahu, entah mengapa, perempuan --makhluk Tuhan yang lembut itu-- selalu saja berhadapan dengan batu --benda Tuhan yang keras. Kau pasti ingat kisah seorang perempuan tua yang menunggu anaknya pulang dari rantau. Dan penantian panjang itu berakhir getir: si anak terkutuk menjadi batu! Kau menyebut namanya berulang-ulang: Malin Kundang! Malin Kundang! Tapi tidak nama ibunya. Ibunya tidak bernama, kecuali Perempuan Tua yang malang. Perempuan yang menjadi bagian dari kerasnya batu penantian.



Ingatlah pula kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbi (di sini, perempuan memiliki nama). Tapi, apakah bedanya? Tangkuban Perahu, buah percintaan terlarang itu, bukankah juga tersusun atas batu-batu? Menjadi lambang ingatan yang memperkukuh keyakinanku tentang bersandingnya (atau bertanding?) antara kelembutan dan kekerasan. Batu dan perempuan.



Kemudian, ingatlah lagi cerita Watugunung. Dalam gugusan wiracarita itu, perempuan sebagai ibu tak jauh-jauh berjarak dengan segala sesuatu yang mengeras batu: alu-lesung, perahu oleng, kura-kura raksasa, dan si anak yang keras kepala.*) Kepala batu!



Ada pula cerita tentang candi yang selesai dibangun dalam semalam, buah pertaruhan antara hasrat seorang lelaki --yang keras hati-- dan permintaan seorang perempuan berhati dingin. Kau mengenalnya: Prambanan --kulihat, ia tersusun batu-batu, keras dan hitam, sisanya berserakan sepenuh altar. Kulihat juga Borobudur, tempat di segala sudut tubuh perempuan terpahat menjadi ornamen, menjadi relief yang berkilauan diterpa sinar matahari. Apalagi? Yakini sajalah, bahwa perempuan dan batu tak mungkin terpisahkan, sejak dahulu, jauh sebelum kau lahir dan memahami kasih-sayang seorang ibu. Tanpa memahami kisah batu-batu, mustahil kau mengerti makna kelembutan ibumu sendiri.



Jadi jangan sampai kau lalai, jika hidup hendak merasai! **)



SETIDAKNYA, itulah yang kurasakan. Aku lalai memahami kisah sebuah batu di tanahku sendiri --di tanah ibu. Akibatnya, lama sekali aku baru mengerti arti penantian seorang ibu. Jauh di Teluk Cempi.



Ada apa dengan batu kampung halamanku? Walau alurnya berbeda, sebenarnya hakikatnya sama dengan kisah-kisah batu yang lain di bagian mana pun negeri ini. Di tanah kelahiranku, di timur tanah air, di Pantai Daha dekat Teluk Cempi, terdapat batu "Watu Ntanda Rahi"; wujud batu seorang perempuan Dompu yang menunggu.



Alkisah, ia menunggu laki-lakinya pulang dari berlayar. Tapi tak datang-datang. Sampai berbilang waktu: hari berganti hari, kemudian berubah pekan, pekan berkemas menjadi bulan, dan tahun demi tahun pun ranum, lalu gugur. Tanpa kalender, tak tahu, entah pada tahun ke berapa tepatnya, perempuan itu menjelma batu, mengeras oleh air garam, tak tergerus ombak lautan. Mata nyalang menatap jauh, setajam cakar maut elang laut atau mata berbinar seribu camar. Waktu tak bisa memadamkannya, bahkan waktu meminjam nyalanya yang bergelora bagai cahaya di tiang-tiang sekunar. 




Ya, perahu-perahu dan sekunar, yang datang dan pergi, tapi tak satu pun perahu yang dinanti. Maka batu itu menjadi lambang kesetiaan sejak itu. Tak seorang pun akan menolak, tak ada yang berkeras hati. Bahkan hati batu pun tidak.


Tetapi aku, mengapa berontak?



"PERGILAH engkau Wima, pergi sejauh yang kau kehendaki, cari dan tunaikanlah keinginanmu, segala mimpi. Ibu akan menunggu sampai engkau kembali…," itulah kata ibuku dulu, ketika aku mengutarakan niat untuk melanjutkan sekolah ke Pulau Jawa. Sungguh tak terduga, ibuku yang sendiri ternyata ikhlas dan berbesar hati mengabulkan permintaanku. Bila aku pergi, beliau hanya akan ditemani Bibi Suniah yang kutahu memang setia. Memang, masih ada pula pohon di ladang jauh tempat lebah bersarang. Masih ada kuda di kandang untuk mengatasi masalah keuangan. Di Teluk Cempi kami punya dua perahu, diurus pamanku.



Ayahku? Jangan sebut nama itu. Ia sudah lama pergi, bukan ke laut, tapi ke desa-desa di sebalik gunung kelabu, di antara padang parairi dan pohon-pohon besar tetesan madu. Berkendara kuda pejantan, ayahku memperturutkan hatinya mempersunting perawan. Dan ibuku tentu tidak pernah menunggunya, kecuali hanya menungguku saja.



Ya, begitulah akhirnya setelah aku pergi. Kutinggalkan kampungku di tepi Teluk Cempi, dan bila kubayangkan sekarang, apa bedanya dengan Teluk Rembang yang mengingatkanku pada seorang perempuan karang? Kartini, sudah lama aku ingin menjadi batu sepertimu, batu karang yang menghadap keluasan laut. Cakrawala. Layar perahu. Bintang-bintang. Kutempa diriku dengan membangkitkan ingatan kepada ayah --dan laki-laki lain di kampungku-- yang bersetia dengan adat-perangainya berkawin-cerai, menggoda perawan desa; dan setiap membayangkannya, hasratku bergelora untuk menamparnya!



Di sebalik sikap para lelaki itu, kuingat pula tanah kelahiranku yang merana. Jalan-jalannya yang kecil dan sempit, bagai setengah hati menjangkau desa-desa. Kami harus bertahan berhari-bermalam di atas pelana kuda, bila hendak bepergian ke daerah tujuan. Sementara di pantai, layar perahu banyak yang sobek, compang-camping penuh tambalan dan rumah-rumah bertiang kayu lapuk terlantar. Anak-anak bertungkai kurus-panjang, berperut buncit cacingan, kurang vitamin dan gizi memang masih bersorak-sorai di pantai, tapi tidak untuk mengerti. Agak ke timur sedikit, di Flores, kusaksikan anak-anak biasa bermain di kubangan babi di antara cacing-cacing dan kutu busuk. Aku pergi ingin mengubah segalanya, setidaknya begitulah keras hatiku berkata, dulu. Sebutlah hati yang batu!



SEMULA hati yang batu menjadi lambang keteguhan diriku dalam menempuh studi di sebuah universitas terkenal di Pulau Jawa. Jogja! Jogja yang memberi aku kisah-kisah tentang perempuan dan batu-batu. Kalau tidak dari buku, aku bisa mendapatkannya dari perjalanan ke beberapa candi, dan sesekali dari menonton teater atau pameran seni.



Di kota ini pula, semula kurasakan betapa dahsyatnya ketika "dua batu" saling beradu, saling bertemu. Aku dan lelakiku, Semberani. Ia empat tahun lebih muda dariku, tapi kekuatannya kadang melebihi diriku. Maka, lebih dari soal lingga dan yoni, pergulatan cinta kami adalah berbaurnya antara kelembutan dan kekerasan. Kadang kami membicarakan keadaan dengan lembut dan hati-hati, seolah tak butuh sedikit pun tindakan keras dalam memperjuangkannya. Sebaliknya, kami bisa sangat lantang dan keras hati bila berbicara soal-soal politik, kesentausaan, dan kepemimpinan, sesekali Ratu Adil, seolah tak butuh kesabaran sedikit pun untuk menyelesaikannya lebih baik.



Kekerasan hatiku dalam memandang soal-soal keadilan, membuatku tidak punya pilihan yang lebih baik. Aku gampang meradang, membangun propaganda, menggerakkan massa, dan turun ke jalan - kadang disertai batu-batu. Inilah yang kemudian membuat hari-hariku di Jogja tak konsen lagi di bangku kuliah.



Yang membuatku sedikit berbesar hati adalah kenyataan bahwa Semberani juga dari timur. Namanya saja mengingatkan aku akan kuda perkasa dari Bima. Dan sangatlah menggembirakan karena Semberani memiliki visi yang sama dengan diriku. Sebagai orang timur yang sedang menimba ilmu, dan akan pulang mengabdi esok hari, hal ini sungguh berarti. Masih ada lelaki timur yang tidak seperti ayahku! Anggapan yang dulu menjadi landasan bagiku dalam menolak setiap lelaki kampung halaman. Entah berapa orang yang sudah berpatah hati karenanya. Nulah Marewo, oh, laki-laki pengembara itu pun tak luput dari penolakanku. Padahal, dibanding yang lain Nulah Marewo sudah termasuk yang terbaik, karena sebagai seorang pengembara ia tidak berkuda, yang di kampungku berarti: tidak berhasrat mencari perawan lain. Apa boleh buat, aku tak terpikat.



Dan hatiku justru terpikat Semberani. Namun di satu sisi, tak bisa kutipu keraguan hati: seberapa kuatkah hati lelaki? Adakah ia sekuat hati perempuan yang sedari awal memang selalu bersanding dengan kisah-kisah tentang batu? Adakah Semberani sekukuh kuda Bima yang liar memutari padang-padang matahari? Ataukah hanya bagai segantang susu atau madu yang manis, tapi lantas leleh dan cair, mengaliri luka kita? Entahlah. 




Kesangsianku ini cukup beralasan. Sebab sebagai salah seorang lelaki yang masih kerabat dekat Sultan di kampung-halaman, Semberani hendak dijodohkan dengan gadis satu silsilah! Berkali-kali surat datang, mulai bernada lantang, merajuk, menggoda, sampai menebar ancaman. Sejauh yang kutahu, Semberani bergeming. Ia masih milikku.


TAPI ternyata tidak untuk selamanya karena kesangsiankulah yang benar. Begitulah, ketika bala yang tak terencana datang menimpa. Aku ditangkap karena membakar poster bergambar presiden, dan karenanya aku dituduh menghina kepala negara. Satu tahun penjara untukku, dua tahun untuk dua kawanku, Faiz dan Anas. O, tak tahukah sang presiden betapa leluhur kami di timur dulu sangat bersahabat dengan ayahndanya yang dibuang ke Ende, tanah Flores? Aku hanya mengeluh dan tahu hukum memang tak pandang bulu.



Dua tahun aku terkurung. Semberani telah menjadi lelaki terburuk yang kutemui, melebihi ayahku. Dia semakin jarang menengokku, semakin enggan membawa cerita tanah kelahiran. Aku tak punya pilihan lain, kecuali memperteguh kisah-kisah tentang batu dan perempuan. Itulah sebabnya, kuceritakan semua kepadamu, tentang batu-batu yang bersanding (atau bertanding?) menyusun dunia sendiri: dunia kisah! Kumasuki kisah-kisah itu, dan berharap menjadi bagian darinya, agar kau tahu bahwa aku telah merengkuhnya pula menjadi bagian hidupku. Terlebih ketika kudengar kabar: Semberani telah menikah dengan Murai, perempuan satu silsilah yang memberinya lebih banyak harapan, setidaknya kekayaan. Aku sedih dan kecewa, sakit hati dan merana, tapi untunglah kesangsianku dan kisah batu-batu itu cukup berguna; aku telah bersiap karenanya.



Kawan, hari-hari panjangku di penjara adalah hari-hari penuh kenangan dan rasa gelisah. Sudah lama aku tak berkabar kepada ibu, tepatnya semenjak aku menolak uang hasil penjualan madu, atau hasil perahu. "Wima sudah bisa membiayai hidup sendiri, Bu, meski seadanya, tapi cukuplah untuk kuliah." Itulah surat terakhirku kepada ibu entah berapa tahun lalu. Setelahnya, aku tak lagi membalas surat-surat. Ah, surat tak berbalas, betapa getirnya! Tapi itulah yang telah kulakukan terhadap ibuku sendiri, perempuan yang menunggu, di Teluk Cempi!



Tapi, tahukah kau, Kawan? Seminggu yang lalu aku bebas, dan hal pertama yang kulakukan adalah berlayar ke timur: ke tanah kelahiran!



Baiklah, kuceritakan juga bagaimana akhirnya aku bertemu ibuku. Mula-mula aku dituntun Bibi Suniah dengan aura kegaiban, seolah kepulanganku serupa hantu. Aku ke halaman belakang, di mana riak Teluk Cempi tenang-tenang bergelora. Di sana kulihat sesosok orang duduk dalam kelam. "Ibu, Ibu…" aku berseru. Lalu kupagut ia kucumbu, meski tak sedikit pun ada balasan. Dingin. Sedingin angin laut yang menampar tengkukku.



Tentu saja, Kawan, karena sesungguhnya, apa yang kupagut dan kucumbu itu, tiada lain sebongkah batu yang persis menyerupai ibuku! Wathu ntanda rahi! Batu perempuan yang menunggu! "Ibu, Ibu!" suaraku pecah terisak, tersedu pilu. Lalu kuseru Bibi Suniah yang tadi menuntunku tanpa suara, barangkali ia bisa bercerita, "Bibi, Bibi!" Tapi tak ada jawaban. O, bahkan suara pun telah membatu di sini --untuk sebuah kisah tentang ibuku sendiri! Juga tubuhku. Juga tubuhku ini, Kawan! Lihat, kakiku perlahan-lahan mengeras, mengeras, hingga pinggulku, hingga iga dan kedua susuku yang lancip, dan kini leherku, kepalaku, mulutku, mataku, lidahku!



Kalau sudah begini, masih kau dengarkah gema suaraku, Kawan? Masihkah kau anggap aku membual? Sampai suatu ketika nanti, giliranmu sendiri menjadi batu karena kerasnya keadaan, karena menggumpalnya harapan, getirnya dendam dan bekunya janji-janji keselamatan --tak terlunaskan!



Catatan:

*) Properti-properti ini merupakan bagian dari pementasan "Watugunung: Waktu-Batu --Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu" oleh Teater Garasi. Pementasan yang melelahkan itu, sebenarnya tidak lagi menyisakan ruang, termasuk "ruang tunggu", karena waktu sangat masif di situ.

**) Selarik kata sajak Chairil Anwar dalam "Diponegoro". Rumah lebah Yogyakarta.


Jika Anda menyukai tulisan ini, acungi jempol Anda di Facebook page EFER.
Suka dengan tulisan di blog ini? silahkan langganan gratis via email.
daftarkan email Anda sekarang!
"Wujud Batu Seorang Perempuan" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category Cerpen and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/04/wujud-batu-seorang-perempuan.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 20:49.

Comments :

 
Is Hosted by Blogger