100100 Voting: 999,879,658

Cerpen: Keadilan dan Peradilan Rakyat

Cerpen yang satu ini karya Putu Wijaya, silahkan petik pesan didalam cerpen berikut.

Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.



"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."



Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.



"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"

Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"

"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung

tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."

Pengacara muda itu tersenyum.

"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."



"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."



Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.



"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."



Pengacara tua itu meringis.

"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."

"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"

Pengacara tua itu tertawa.

"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.

Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.



"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."



Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.



"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."

"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."



"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.



Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.



Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."



Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.



"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."



"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.

Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.

"Bagaimana Anda tahu?"



Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."



Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.

"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."



Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"

"Antara lain."

"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."

Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.

"Jadi langkahku sudah benar?"

Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.



"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"

"Tidak! Sama sekali tidak!"

"Bukan juga karena uang?!"

"Bukan!"

"Lalu karena apa?"

Pengacara muda itu tersenyum.

"Karena aku akan membelanya."

"Supaya dia menang?"



"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."

Pengacara tua termenung.

"Apa jawabanku salah?"

Orang tua itu menggeleng.



"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."



"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."



"Tapi kamu akan menang."

"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."



"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."



Pengacara muda itu tertawa kecil.

"Itu pujian atau peringatan?"

"Pujian."

"Asal Anda jujur saja."

"Aku jujur."

"Betul?"

"Betul!"



Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.

"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"



"Bukan! Kenapa mesti takut?!"

"Mereka tidak mengancam kamu?"

"Mengacam bagaimana?"

"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"



"Tidak."

Pengacara tua itu terkejut.

"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"

"Tidak."

"Wah! Itu tidak profesional!"

Pengacara muda itu tertawa.

"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"

"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"

Pengacara muda itu terdiam.

"Bagaimana kalau dia sampai menang?"

"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"

"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"

Pengacara muda itu tak menjawab.

"Berarti ya!"

"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"



Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.



"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."

"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."



"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"



"Betul."

"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.



Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."



Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.

"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."



Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.



"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."

"Tapi..."



Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.

"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."



Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.



"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."



Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.



Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.



"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?"
Read More..
"Cerpen: Keadilan dan Peradilan Rakyat" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category Cerpen and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/05/keadilan-dan-peradilan-rakyat.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 21:31.

Cerpen Motivasi: Surat Terakhir Buat Kamu

“Aku pergi!” tulismu pada secarik kertas kumal di meja kamarku. Hanya dua kata. Tanpa nama, tanpa tanda tangan. Tetapi aku tahu surat dua kata itu adalah tulisanmu. Aku mengenalmu jauh lebih dari kau mengenal dirimu sendiri.


Andai saja kau ada di kamarku ketika kubaca suratmu, pasti kau tak bisa melukiskan kekecewaanku yang mendalam. Jiwaku terasa menggelepar. Ruhku terasa mendesak keluar. Perih. Sungguh perih. Dua kata yang mampu menerobos jantungku hingga aku bungkam dan denyut nadi mati terasa. Kau sungguh pintar merobek hatiku.


Yang tak habis kupikir adalah kenapa kau hanya meninggalkan dua kata pada secarik kertas kumal. Kenapa tidak kau tulis puluhan, ratusan, atau ribuan kata di suratmu agar aku tak kesakitan seperti ini. Kau tahu, dua kata itu selalu terngiang di telingaku. Mungkin jika kau tulis panjang surat, tak ada kata-kata yang terngiang di telingaku karena terlalu banyak kata yang mesti kuingat. Sungguh, kau tikam jiwaku melalui dua kata itu. Sakit sekali. Kau sama sekali tak menghargaiku. Kau menganggapku seperti kertas kumal itu yang dengan mudah disobek dan diremas lalu dibuang ke bak sampah.



Kuakui kita memang banyak sekali perbedaan. Watak kita bagai api dan air. Tetapi bukankah api dan air itu saling melengkapi. Apa jadinya air tanpa api, atau api tanpa air? Begitulah prinsipku, sehingga kau kuterima apa adanya.


Kau suka berpesta, aku suka kesendirian. Kau suka berjalan-jalan, aku suka diam. Kau suka bercanda, aku serius. Kau glamor, aku sederhana. Kau selalu ingin bersenang-senang, sementara aku ingin kedamaian. Kau periang, aku pendiam. Memang begitu jauh perbedaan kita. Persis seperti api dan air. Tapi bukankah api dan air saling melengkapi? Tidakkah kau sadari itu?


Kala kau sedang bersedih, kau datang padaku maka kuberi kau ketenangan. Jika aku sedang tak bergairah, maka kau datang beri aku semangat baru. Jika kau sedang dalam kesusahan, maka kuberi kau kedamaian. Jika kau tak tahu ke mana lagi mau pergi, maka kau kutemani selalu. Tidakkan itu saling melengkapi? Sesungguhnya banyak hikmah dari perbedaan kita kalau kau mau sedikit berpikir jauh dan positif tentunya.


Jika aku salah, maafkan aku. Perpisahan bukan satu-satunya solusi untuk perbedaan kita. Kumohon kembalilah padaku. Mari kita perbaiki kancing yang salah terpasang. Kesalahan adalah untuk kita mengetahui apa yang benar. Tidak ada salah kalau tidak ada sesuatu yang benar. Begitu pun sebaliknya.


Seharusnya kau mengerti itu. Tapi kau tak mau mengerti. Kau selalu mengeluh dengan watakku yang jauh berbeda denganmu. Aku pun selalu menyadarkanmu bahwa manusia itu tidak pernah diciptakan untuk sama walau kembar sekali pun. Manusia berbeda, dan wajib menerima perbedaan. Aku pun selalu untuk tolerir dan menghargai terhadap apa yang kau lakukan. Namun kau tak bisa menghargai dan tak bisa menolerir apa yang kulakukan.


Kadang kau ingin mengubahku menjadi periang, tapi aku memolesi jiwaku dengan semen pendirian yang tak bisa kau ubah. Tidakkah kau sadar aku tak pernah memolesi jiwamu. Aku terima kamu apa adanya. Hanya satu kuharapkan darimu kelak adalah kau menghargai perbedaan kita, karena perbedaan bukanlah benih perpecahan atau suatu ketidakcocokan melainkan saling melengkapi. SALING MELENGKAPI! Kau harus camkan kalimat itu di dalam hatimu. Tetapi kau tak bisa. Dan kau pergi tanpa bicara.


Aku ingat sekali ketika kau mengajakku pergi ke pesta ultah temanmu, tapi aku menolaknya. Aku tak suka keramaian dan keributan. Tapi kau marah. Kau mengatakan aku tak mencintaimu lagi. Kau tak pernah berpikir positif dari ketidakpergianku. Padahal sudah kujelaskan aku tidak suka keramaian. Lalu ketika yang kedua kalinya, aku akhirnya mengalah dan aku pergi ke ultah temanmu. Dan di sana aku diam, memojok sendiri di kursi kosong. Aku hanya memandangimu yang riang bersama teman-temanmu. Kau begitu gembira hingga aku yang telah kau bawa, kau lupakan. Maka alasanku begitu sangat kuat ketika aku menolak ketika kau ajak lagi. Tidakah kau mengerti? Kau memang tak pernah bisa mengerti. Kau egois!


Aku juga ingat setelah kau kirim surat dua kata, kau selalu menjauh. Kadang kau membuang muka, berlari, bersembunyi, atau bergabung dengan teman gaulmu. Segala cara kau lakukan agar kau bisa menghindar dariku. Sungguh, seolah aku bagai anjing kurap di matamu. Sesungguhnya aku hanya mau bicara baik-baik denganmu. Aku hanya minta penjelasanmu kenapa kau pergi. Itu saja.


Akhirnya kau buka mulut juga. Hanya karena kau tak ingin aku terus mengekormu dan tentunya mengganggumu.


“Kita berbeda,” kalimat pembuka pertama saat kau mau bicara. Aku ingat sekali, karena aku sudah menduganya juga kau akan berkata begitu. Tapi aku tak ingin hanya menduga jika kebenarannya belum pasti. “Kita tak pernah bisa satu,” lanjutmu. “Mungkin kau benar perbedaan saling melengkapi. Tapi perbedaan itu bukan untuk disatukan, melainkan dipisah-pisahkan. Tahukah kau apa jadinya jika air dan api disatukan. Maka api akan padam jika air terlalu kuat, atau air yang menguap jika api yang kuat. Tergantung kekuatan mana yang lebih besar. Dan tahukah kau apa jadinya warna merah disatukan dengan putih, maka kedua warna akan membaur dan membentuk suatu warna baru. Kebetulan dua warna itu akan membentuk sebuah warna yang menarik. Tapi apa jadinya kalau coklat sama hitam? Tentunya makin memburuk. Kau mengerti? Perbedaan itu tidak disatukan, tetapi dipisah-pisahkah. Dikotak-kotakkan atau diberi sekat agar tidak merusak yang lainnya atau mengganggu yang lain. Tidakkau kau lihat pelangi. Warna itu sesungguhnya tidaklah bersatu tetapi terpisah dan alangkah indahnya warna yang terpisah itu. Bisakah kau bayangkan jika warna itu bersatu dan terpajang di langit biru. Akan menjadi layar buruk tentunya bukan? Maka aku pun pergi. Kita tak bisa bersatu….”


“Ya, kita memang tak pernah bisa bersatu,” aku buru-buru memotong kalimatmu. “Kita tak pernah bersatu. Ada sekat di antara kita. Dan aku tidak pernah mencoba merusak sekat itu. Tapi kaulah yang merusak sekat itu. Kau yang mencoba memasuki jiwaku dengan jiwamu yang beda. Kaulah yang mencoba menyatukanku seperti dirimu. Padahal aku tidak pernah mencoba menyatukan jiwaku pada jiwamu.”


“Sungguh aneh jalan pikiranmu,” katamu. “Aku kadang tidak bisa memahami dirimu. Kau bergulat sendiri dengan pemikiranmu dan menetapkan sendiri pula kebenarannya, tanpa menelusuri kembali kebenaran yang kau dapat. Kau terlalu yakin pada pemikiranmu yang belum tentu benar itu. Padahal kau pernah mengatakan, bahwa kesalahan tidak ‘kan ada jika tidak ada kebenaran.


Apakah kau tidak sadar, bahwa kita sudah terikat dalam satu tali ikatan, bukankan itu sudah menyatu? Kita berada dalam satu rumah, bukankah itu sudah menyatu? Kita sudah berkali-kali bersetubuh bukankah itu berarti dua tubuh sudah menyatu.”


“Tapi itu hanya dari luarnya saja, tidak di dalam ini, jiwa ini, dan itu tak pernah bisa bersatu. Memang Jiwamu, jiwaku, jiwa manusia sebenarnya adalah satu. Hanya karena berada dalam diri manusia yang berbeda, maka jiwa pun berbeda.”


“Begitulah kau,” katamu kemudian. “Kau keras kepala. Kau terlalu yakin dengan perkataanmu sendiri dan tak mau mencoba mendengarkan kata orang lain. Padahal kita tak pernah bisa hidup sendirian….”


“Makanya harus ada saling melengkapi,” kataku, tapi kau tak jua mengerti.


“Sungguh, aku tak bisa dan tak akan pernah bisa mengerti dirimu. Aku pergi!”


“Baik, aku mengalah jika itu sudah keputusanmu. Tapi tolong jelaskan padaku, kenapa kau hanya tulis dua kata pada secarik kertas kumal di kamarku?”


“Aku juga mempertimbangkannya dengan teliti bagaimana aku harus mengatakan bahwa aku tak bisa hidup lagi denganmu. Jika kukatakan langsung, maka aku kalah dengan pemikiranmu yang membingungkan itu. Lalu kupikir menulis saja. Tapi ketika aku mulai menulis, aku berpikir tentang dirimu. Jika kutulis surat ini panjang lebar, maka kau tak bisa mempercayainya. Kau akan membacanya berulang-ulang untuk meyakinkan dirimu, dan kau akan menyimpannya menjadi kenang-kenanganmu. Lalu suatu masa akan kau baca lagi mengenang masa kita berdua. Aku tak ingin kau menjadi seperti itu. Oleh karena itu, aku pun menulis dua kata di secarik kertas kumal agar setelah kau membacanya kau bisa meremasnya dan membuangnya ke tong sampah dan kau pun tak perlu menyimpannya. Karena kertas kumal itu juga pertanda jiwamu yang sudah lusuh, perlu disetrika lagi atau jika tidak bisa maka dibuang. Tapi aku tak pernah mengira jadinya seperti ini. Kau mengincarku terus dan meminta penjelasanku. Sungguh aku tak pernah bisa mengerti dirimu. Bukankah kau begitu yakin apa yang kau pikirkan, sehingga tak perlu dipertanyakan lagi?”


Kau memang pandai memainkan kata. Aku salut. Makanya aku suka padamu. Tetapi kalau sudah melebihi titik ekstrim, ternyata kau menjadi sangat tidak menyenangkan. Aku tahu kau sendiri kadang tak bisa memahami apa yang telah kau ucapkan bahkan kau lupa dengan kata-katamu sendiri.


Ya, akhirnya kita benar-benar berpisah dan aku dengan setengah hati melepaskanmu. Kita tak bisa bersama lagi. Kubiarkan kau mencari pasangan lain yang sesuai hatimu, yang sama dengan watakmu, yang cocok denganmu. Seandainya takdir mempertemukan jodoh sesuai kriteriamu, maka sebelum terlambat kukatakan padamu bahwa kau akan melewati hari-harimu dengan kejemuan. Tidak ada sesuatu yang berbeda dari kalian untuk saling dilengkapi. Semuanya serba sama. Andai saja kau bisa mengerti, bahwa yang kita butuhkan, juga dunia ini bukanlah persamaan tetapi kebersamaan dan di dalam kebersamaan itu tentunya banyak perbedaan.


Sekian, semoga kau bisa merenungi surat terakhirku ini.
Read More..
"Cerpen Motivasi: Surat Terakhir Buat Kamu" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen MotivasiPuisi Cinta and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/05/surat-terakhir-buat-kamu.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 19:05.

Cerpen: Jemari Surga Terindah

Temen-temen, Cerpen fiksi ini tertuang begitu saja ketika langit dan bumi dapat kita satukan, kita baca dan petik pesan didalamnya yuuk,,,,



Aku memperhatikan jemariku. Ruas-ruas runcing, kuku-kuku yang ramping memanjang, memerah jambu, nampak lembut sekaligus liat. Lentik sekaligus tangguh. Pemetik dawai harpa, sekaligus pengupas ranum bebuahan surga. Bulu-bulu halus melingkar selembut anak rambut. Serupa cabang ranting dari telapak dan tangan kukuh pohonku. Aku memperhatikan jemariku.



Kulit kecoklatan pada tangan hingga lengan serupa pohon muda menatap surya. Penuh percaya diri. Bulu-bulu yang melekat adalah dedaunan selembut sutra. Menempatkan diri tanpa cela. Runut dan bersemayam penuh rasa damai. Bagian yang tertumbuhi bulu serupa aksiran yang menghitamkan tak terlalu pekat. Hutan pada punggung telapak tangan, berpohon nisbi.



Kuku yang mengkilap seperti bercat warna. Tapi tak terlalu mencolok mata. Cuma tetap saja berupa sebersit kilat cahaya yang mampu membuat mata menatapnya. Warna merah jambu serupa kelopak mawar. Namun jemari runcing tempat bersemayamnya adalah keindahan dan kekukuhan seperti penari lelaki yang ramping namun berisi. Tak puasnya aku memperhatikan jemariku. Bagian terindah dari tubuhku.







Awalnya tak pernah kusadari keindahan jemariku, bila saja semua perempuan yang mengenalku tidak mengagumi jemariku. Mereka akan lekat menatapnya, dan terkadang tak mampu mencegah jemarinya untuk menyentuh jemariku. Membelainya sepenuh perasaan. Seakan kelembutan seluruh punggung telapak dan mencabang pada jemari mampu meredam getar saat melihatnya.



Aku tak tahu apa orientasi mereka. Rasa kagum yang berlebih atau orientasi seksual yang terpuaskan. Terkadang seorang perempuan yang menyentuh punggung telapak dan merambat hingga jemari, memejamkan matanya. Erangan yang keluar dari bibirnya semacam upacara persetubuhan tanpa persenggamaan seutuhnya.



Kekaguman dan lirik keinginan menjamah adalah hal yang biasa aku terima. Rasa jatuh mencinta perempuan-perempuan itu membuat aku semakin menjaga jemariku. Awalnya dengan perasaan malu, aku bertanya pada seorang teman perempuanku, bagaimana merawat telapak, jemari, dan kuku. Tak kusangka teman perempuanku menyambutnya dengan penuh rasa haru. Ia bersedia menjadi perawat jemariku.



Hingga mulailah setiap sore, di halaman belakang rumah yang luas ia merawat jemariku. Aku tak tahu apa yang ia kumpulkan dalam belanga. Beberapa bunga, dedaunan, rempah-rempah. Ia akan mengatupkan matanya sebelum memulai ritual itu. Memijit seluruh telapak, jemari, dengan sentuhan tangan desanya yang terlatih. Ia betul-betul pengabdi.



“Nikahi aku pangeran, jemarimu adalah jemari terindah yang pernah aku temui. Aku akan mengabdi untukmu demi jemari yang hanya pantas memetik sitar dewa-dewa. Jemari yang sanggup membuat perempuan bertekuklutut dengan sekali sentuhan. Nikahi aku pangeran, demi jemari yang sedemikian indah.”



Aku tak menikahi perempuan dengan jari-jarinya yang melebar, walau ia menghamba padaku. Namun rupanya kecintaannya pada jemariku sanggup merubahnya menjadi pengabdi. Asal ia diperbolehkan menyentuh dan merawat jemariku setiap petang datang. Maka aku perbolehkan ia dengan perasaan begitu jumawa. Telah kutaklukan banyak perempuan, namun cuma ia yang mau mengabdi sedemikian.



Sampai suatu hari ia melukai jemariku. Betapa beraninya! Dengan tergagap ia memohon ampun. Ia berkata mana mungkin ia melukai jemari seindah itu. Jemari yang cuma pantas dimiliki pangeran. Jemari yang berteman tirai sutra, bantal-bantal berisi bulu domba, memegang cawan-cawan emas. Namun jemariku yang terluka membuat hatiku terluka. Bagian terindah dari tubuh, sesuatu yang tanpa cela! Aku mengusirnya.



Berita tentang jemariku yang terluka terdengar ke pelosok negeri. Perempuan-perempuan berdatangan dan bersedia menjadi pengganti perempuan tolol itu. Aku mengamati seluruh rupa. Mengamati wajah-wajah yang menghiba. Seakan dari balik tubuh-tubuh yang luruh mereka berteriak: pilihlah aku menjadi pengabdimu. Pilihlah aku pangeran.



Sebenarnya aku tak kuasa menolak mereka. Namun semakin lama aku menentukan pilihan, wajah mereka semakin menghiba. Mulailah terdengar rintih, seruan kecil dari bibir mungil mereka.

“Jangan kau permainkan jemarimu, membuat hasratku menusuk dada. Pilihlah aku atau singkirkan. Aku tak menahan. Sungguh.”

Rintih mereka nyanyian keangkuhanku. Dengan sikap telengas, aku kibaskan jemari meminta mereka pergi. Mereka tergugu dan lirih menangis. Nyanyian pedih namun sorak-sorai jumawaku. Betapa setiap perempuan siap menghamba untuk jemari-jemari yang diturunkan dari surga!



Aku merasa seluruh perempuan negeri ini mencintai jemariku, hingga aku memutuskan untuk pergi ke daerah Selatan yang menurut kabar perempuan-perempuannya jauh lebih cantik. Aku akan taklukan mereka dengan jemari-jemariku yang kini telah piawai menarik dawai. Padahal aku hanya belajar dalam hitungan tiga kali purnama! Namun guruku memuji bukan saja kecerdasan otakku, namun juga jemariku yang menurutnya berkah dari surga.



Maka aku datangi sebuah kedai minum di kota pertama tempat aku memijak kaki. Kedai tersebut bernuansa kecoklatan, mejanya berupa kayu-kayu yang diserut kasar hingga masih terlihat tekstur kayunya. Pada pinggir meja dilapisi dengan tembaga coklat kemerahan. Pilar-pilarnya serupa batu-batu gunung yang dipecah lebih kecil. Dan setiap pecahannya memperlihatkan tekstur dan guratan yang memukau.



Orang-orang yang berdatangan jauh lebih eksotis, terutama kaum perempuannya. Seorang perempuan yang benar-benar cantik datang memasuki kedai. Ia jauh lebih cantik dari kembang negeriku sekalipun. Tulang pipinya yang tinggi, dan raut wajah yang sempurna. Matanya kehijauan seperti bebatuan emerald. Rambutnya coklat tua berkibar mengabarkan kedatangannya. Bajunya berwarna hijau pucat dengan motif bunga besar pada bawahannya. Melekat pada pinggulnya yang tak berpenutup. Ia sangat pemerhati atas dirinya sendiri. Warna baju yang dipilihnya membuat matanya semakin cemerlang. Dan ia membuang muka saat bertatapan denganku.



Musik berhenti, aku melangkah ke arah areal yang berbentuk oval. Aku berjalan ditengah hiruk-pikuk mereka. Hingga sampai aku mengeluarkan dawaiku dan mulai memetiknya. Perlahan suasana menjadi sunyi. Mereka terpukau. Dalam cahaya lelampu yang pijar mereka sesungguhnya tak dapat melihatku dengan sempurna. Namun aku jauh dapat dilihat oleh mereka, karena aku dikelilingi lelampu yang membentuk lingkaran. Aku pusat perhatian. Atas petikan dawaiku, atas jemari yang memetiknya.



Aku menjadi pusat perhatian dalam hitungan detik. Menakjubkan. Perempuan-perempuan mengerubungiku sehabis petikan dawaiku berakhir. Mereka bagai perempuan-perempuan dari kastil raja. Mendekat dan mendesah seolah tak pernah disentuh seorang pria. Si mata emerald berambut coklat tua adalah satu diantaranya. Dengan bengis aku mengusirnya. Betapa beraninya ia mengabaikan lelaki dengan jemari berkah dari surga!



Sejak saat itu aku selalu hadir di acara pesta-pesta. Mereka mengundang karena petikan dawaiku, dan para perempuan atas jemariku. Tak hentinya mereka bertanya, bagaimana rasanya memiliki jemari seindah itu. Tak hentinya mereka merayu agar aku bersedia bercumbu. Aku merasa seperti raja kecil yang merasakan setiap tubuh dengan keikhlasan menghamba.



Setiap bibir menawarkan getar yang berbeda, setiap tubuh memiliki sensasi tersendiri. Erangan yang tak pernah sama. Rintih menghiba, yang lirih namun senantiasa menusuk gendang telinga. Dan jemariku adalah fantasi mereka yang tak jua usai sehabis percintaan semalaman. Betapa mereka mendamba belaian, seperti dawai yang kubelai penuh perasaan. Lembut namun sesekali membetot penuh tenaga. Mereka menghamba padaku. Dan diam-diam aku mendamba cinta.



Aku bertemu dengan Ametis di sebuah kedai. Rambutnya yang sungguh hitam bergerai hingga sepinggang. Bajunya yang tipis berwarna merah marun. Sangat kontras dengan kulitnya yang pucat. Bahannya yang tipis memperlihatkan tubuhnya yang samar. Gairah yang membayang setiap ia melangkah. Rambutnya dibiarkan menutupi dadanya. Sekilas nampak putingnya seperti kuncup mawar di balik tipis gaunnya.



Namun lebih dari segalanya adalah matanya. Matanya pecahan warna tak kentara. Mengerjap begitu kemilau. Setiap orang akan salah menangkap warna matanya. Namun seluruhnya memuji akan keindahannya. Mungkin serupa berlian yang ia tanam di sana. Berpendar-pendar, berkilau membuat takjub setiap mata. Jemariku selalu gagal memetik dawai saat pertama kali melihatnya. Ia secantik Antigone dalam khayalku.



Ia putri seorang tuan tanah. Bukan dari kalangan kelas atas yang suka akan pesta pora. Wajar bila ia luput dari penglihatanku. Namun aku berani bersumpah seluruh putra pembesar negeri ini jatuh hati padanya. Tiba-tiba aku merasa miskin dengan segala keberadaanku. Ia sesamar ambrosia dalam bening kristal. Sedang aku cuma tempayan dari tembaga tak membekas dalam ingatnya.



Tak seperti perempuan lain, ia mengabaikanku. Tak seperti perempuan lain pula, aku tak mendendam padanya. Hanya perasaan tahu diri bahwa kecantikannya terlalu berlebih buatku. Begitupun saat selesai aku memetik dawai, ia tak mendekat ke arahku. Hanya pandangan matanya yang ia tujukan ke arahku dengan pandangan bertanya –siapa engkau lelaki?-. Keangkuhan yang mematahkan keangkuhan. Kepantasan yang seharusnya aku dapatkan atas rasa sombongku.



Anehnya, esok aku melihat wajahnya lagi di kedai itu. Rasa percaya diriku bertambah seiring dengan senyumnya yang merebak tak terlalu kentara. Ia tak menujukan senyuman itu untukku sepenuhnya. Tepatnya ia menebar senyumnya seperti menabur bunga. Aku merasa mendapat setangkai. Cuma setangkai. Namun itu adalah bagian dirinya, sebetapapun absurdnya caraku menangkap pola pikirnya.



Aku mendekatinya sehabis pementasan. Jemariku yang berkeringat, keindahan tak terperi. Perwujudan kelembutan dan kerja keras. Perlahan jemariku menyusuri pinggir meja yang berlapis tembaga. Kulitku semakin terang dibanding tembaga yang basah oleh tumpahan minuman keras. Jemariku mengetuk-ngetuk seperti irama pasukan berkuda. Mencoba sentak hatinya yang angkuh akan hadirku.



Tidak seperti perempuan lain, Ametis memandang wajahku bukan jemariku. Baru kusadar bibirnya berbentuk nyaris sempurna. Rekah mawar, begitu segar. Giginya yang cemerlang mengintip diantara rekah bibirnya yang setengah terbuka. Ia menantang tatapku. Keangkuhan yang terbaca lewat bentuk hidungnya yang jumawa. Angkuh, cantik, sekaligus menggoda.



Aku bukan lelaki kemarin sore, hasratku justru melesat. Hingga bukan cuma jemari untuk merayu pesonanya. Seperti kata-kata yang keluar dari bibirku. Kalimat-kalimat puitis yang tercipta tanpa kendali. Mencoba menusuk relung hatinya yang dibentengi keangkuhan yang tak kunjung sirna. Pada matanya aku membaca ketaklukan, namun tubuhnya tetap kaku pada tempatnya. Hanya butuh waktu untuk membuatmu menghiba, perempuanku. Hanya butuh waktu.



Ternyata sangat tak mudah menaklukkan Ametis. Ia bukan seperti perempuan lain yang hanya mencintai jemariku. Ia ingin mencintaiku sepenuhnya. Bukan cuma jemariku yang tersohor. Aku semakin mencintai atas perkataannya yang tulus. Hingga terjadilah perang antar negeri. Kekacauan di mana-mana. Aku harus memegang senjata, berlatih perang. Telah kutinggalkan segala pesta dan petikan dawai.



Kekacauan melebihi jangkau pikirku. Betapa kesengsaraan akan perang terjadi pada setiap sudut kota. Rumah yang hancur, jalanan yang porak poranda, kanak-kanak yang yatim, penyakit, kelaparan. Orang-orang yang bergelimangan tak bernyawa adalah hal biasa. Rata-rata mereka telanjang karena pakaian mereka habis dicuri mereka yang masih hidup.



Aku menyaksikan kepahitan hidup. Sangat kontras dengan saat aku baru tiba di negeri ini. Sekejab segala kecantikan, kemewahan, tawa riang telah berganti hingar bingar peperangan. Terkadang kesunyian yang mencekam. Kadang aku pikir aku telah mati. Bersembunyi dalam lorong seperti segerombolan tikus. Tikus-tikus tak lagi nyaman dalam gorong-gorong karena kami memburunya. Kami para pemburu tikus! Untuk kemudian menyantapnya sebagai hidangan utama.



Telah lama tak kulihat kecantikan. Para perempuan dan anak-anak sudah sejak lama mengungsi. Sesekali kami mendengar berita tentang kekasih atau istri kami. Ada perasaan lega dari mereka mengetahui kaum lelakinya masih bertahan hidup. Aku bertanya pada mereka yang bertugas ke baris belakang, tentang Ametis. Seseorang memberikan selendang merah titipan Ametis. Menurutnya, Ametis meminta aku menjaga jemariku.



Aku tersenyum mendengar kelakarnya. Bagaimana mungkin aku dapat menjaga jemari dan kuku-kukuku? Mana pernah aku berpikir untuk merawatnya, sedang nyawaku bukan lagi milikku? Aku pasrah bila seorang musuh menyerangku saat aku lena dan menggorok leherku. Apa arti segala kecantikan jemari, kini? Telah lama aku lupakan atas pujian para perempuan. Telah kutanggalkan segala keangkuhan sejak aku mengenal Ametis semakin mendalam. Sebagaimana ia mencintaiku, utuh penuh.



Dua bulan sejak Ametis mengirim selendang itu, perang usai. Para perempuan kembali berdatangan. Dan kami para lelaki menyambutnya di perbatasan. Penuh rindu aku mencari Ametis. Dari jauh aku melihat matanya yang cemerlang. Rindunya pecah di matanya hingga berbinar-binar begitu bercahaya. Ia memelukku. Lantas memegang jemariku.



Kedua jemariku terbungkus selendang merahnya yang telah kupotong jadi dua bagian. Ia menatap jemariku dengan pendar mata seorang pengantin yang akan membuka pakaian pasangannya, saat malam pertama tiba. Dengan lembut dibukanya selendang merah itu. Perlahan, seakan jemariku adalah barang yang mudah pecah. Hingga telah habis bagian terujung selendang. Ia tertegun.



Wajahnya memerah, awal kupikir karena rasa iba. Namun matanya mengekspresikan rasa kecewa yang sangat mendalam. Jemariku telah berubah menghitam. Penuh luka. Karena goresan senjata, gigitan binatang, atau penyakit kulit yang merayapi punggung tanganku. Tak ada bekas sedikitpun, bahwa jemariku adalah jemari yang mampu membuat perempuan menghiba.

Ia menangis dan berlari menjauh.



Perlu tiga hari untuk mengajaknya bertemu. Wajahnya sembab. Tapi kecantikannya tetap mempesona. Aku tetap membalut jemariku, aku tahu inilah penyebab tangisnya. Walau itu tak sepenuhnya membuka apa yang sebenarnya membuat ia berlari. Rasa jijikkah, iba, belas yang berlebih, atau apa. Dari bibirnya ia berkata yang sejujurnya.



“Aku ingin mencintaimu apa adanya. Aku tak ingin seperti perempuan lain yang hanya mencintai jemarimu belaka. Pernahkah kau berpikir, apakah para perempuan itu akan tetap memujamu bila jemarimu terpangkas? Maka aku tak ingin larut seperti perempuan lain. Namun harus kuakui, jemarimu mampu membuat dadaku berdebar keras. Pun saat kita pertama kali berjumpa. Betapa ingin aku menciuminya dan melekatkannya pada dada. Tapi aku tidak seperti perempuan lain. Aku ingin mencintaimu sepenuhnya. Hingga kadang aku membayangkan betapa buruk jemarimu.”



Betapa cantiknya Ametis, suaranya yang bergetar adalah suasana hatinya yang tak karuan. Betapapun ia mencoba menetralkannya dengan tubuhnya yang tegak kaku. Lantas ia kembali berkata,

“Tetapi aku tak bisa. Aku mencintai jemarimu seperti perempuan lain. Semakin aku menghindar aku semakin sadar aku sangat mencintai jemarimu. Betapa aku mendamba atas belaiannya. Aku tak bisa membohongimu lagi. Aku tak pernah bisa mencintaimu sepenuhnya. Karena ternyata aku hanya mencintai jemarimu.”



Ada nada maaf dalam kata-katanya namun itu sangat menusukku. Ametis tak pernah benar-benar mencintaiku. Ia mencintai jemariku. Jemari yang kini telah berubah begitu menjijikan. Aku pergi dari negeri itu, malam harinya.



Empat bulan lamanya aku menyembuhkan segala luka jemari. Kini jemariku telah sembuh seperti sedia kala. Perempuan-perempuan kembali mengerubungiku menawarkan cinta. Tapi aku beku. Mereka tak pernah benar-benar mencintaiku. Mereka hanya mencintai jemariku. Bagian terindah dari tubuhku yang kini membuatku merasa muak. Betapa ingin aku lepas darinya.



Masih kuingat kata-kata Ametis di akhir perjumpaan,

“Pernahkah kau berpikir, apakah para perempuan itu akan tetap memujamu bila jemarimu terpangkas?”

Kata-kata itu terngiang dalam telingaku. Berdengung-dengung selama belasan hari. Begitu mengusik. Tak pernah kubayangkan akan teror semacam ini. Betapa kini aku merasa jemariku adalah momok yang tak merelakan aku tidur barang sekejab.



Setiap aku melihat jemariku, perutku serasa mual hingga aku harus membalutnya dengan kain. Keindahannya menusukku, apa guna jemari ini sebenarnya? Bagaimana bila aku tak memiliki jemari? Bagaimana bila aku hanya memiliki dua jemari, ibu jari dan telunjuk pada tangan kanan? Belum pernah selama ini pertanyaan seperti itu muncul dalam benakku. Kini pertanyaan itu muncul begitu saja. Ya dua jari mungkin cukup. Untuk segala kegiatanku.



Sebuah parang yang panjang telah kuasah semalaman. Aku mengamati tajamnya yang mampu memutus helai rambut. Berkilau dan aku dapat mengaca pada bilahnya. Ketajaman yang sempurna. Akan menebas sekali tebasan. Ya akan kuakhiri puncak derita bahagia*. Parang pada tangan kiriku menebas tiga jari tangan kananku. Tas. Dengan bermandi darah aku ambil parang dengan ibu jari dan telunjuk kanan yang tersisa. Telah kuabaikan rasa. Kutebas habis kelima jari tangan kiriku. Tas. Aku merasa ada yang tercerabut. Mungkin nyawaku. Hingga aku melayang.



Aku telah terbiasa hidup dengan dua jari. Mungkin dahulu aku melihatnya sebagai suatu benda yang dapat kubanggakan. Seperti pakaian sutra atau wewangian rempah-rempah, sesuatu yang membuat aku dihargai orang secara wadag. Tubuh yang kujual, tanpa aku tahu keindahan lain dibalik itu. Bagian terindah yang tersisa, kini menjadi begitu penting. Aku menjadi sedikit lebih mengerti akan arti jemari. Keberadaannya yang lekat pada telapakku. Semua diciptakan tentu mempunyai arti, mempunyai fungsi. Begitu aku menatapnya kini dengan penuh hikmat, bukan lagi angkuh. Kadang aku menangis memandang jemariku. Baru kusadar keindahan yang jauh melebihi apa yang terlihat.



Kini tak ada lagi perhatian dari perempuan sekitarku. Aneh itu justru membuat aku lega. Orang-orang memanggilku dengan panggilan baru, si buntung jari. Panggilan yang tak terlalu bagus sebenarnya, namun aku menerimanya. Aku mulai belajar menulis kisah-kisah kehidupan, terkadang kisah perjalanan dari para pendatang yang mulai memadati negeriku. Aku berencana untuk mengunjungi negeri-negeri dan menuliskannya. Kisah-kisah tentang kepedihan, ketangguhan, kegembiraan, acara ritual, keindahan alam, gejala alam. Aku cukup bahagia dengan kehidupanku kini. Menulis cerita dengan dua jari yang tersisa.
Read More..
"Cerpen: Jemari Surga Terindah" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category Cerpen and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/05/jemari-surga-terindah.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 18:53.

Cerpen Fiksi: Jamin atas Kematian dan Kuburanku..!!??

Jamin baru saja menghabiskan sepotong goreng pisang buatan istrinya ketika dilihatnya Dirman -warga yang rumahnya di ujung desa- tergopoh-gopoh memasuki halaman rumahnya. Orderan lagi nih, batin Jamin melihat kedatangan Dirman, lalu meminum seteguk kopi di cangkirnya dan kemudian menyongsong Dirman ke halaman


Gusrianto

"Pak Jamin…" masih dengan nafas memburu Dirman langsung bicara.


"Ada apa, Dir?" tanya Jamin, padahal sebenarnya dia sudah dapat menebak apa maksud kedatangan Dirman.


"Dinihari tadi nenek kami meninggal…" nah, benarkan? Batin Jamin lagi.


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un." Ucap Jamin, mimik wajahnya turut berduka. Tapi hatinya? Hatinya bersorak riang. Bagaimana tidak? Sudah lebih dua minggu, tapi tak seorangpun yang meninggal dunia. Kemarin istrinya sudah meminjam beras sama tetangga sebelah, dan dua hari yang lalu, Rini -anaknya yang sekarang sudah kelas 2 SMP- juga meminta uang sekolah yang memang belum dibayar.


"Rencananya nanti siang mau dikebumikan, Pak. Apakah bisa selesai sebelum siang?" Dirman bertanya.



"Bisa, Dir. Akan saya usahakan." Hanya itu jawaban Jamin, kemudian Dirman pamit setelah sebelumnya Jamin mengatakan akan menyusul sebentar lagi


Jamin masuk ke dalam rumahnya yang tidak begitu bagus -dindingnya masih dari papan- dan terus ke kamar untuk mengganti bajunya dengan pakaian dinasnya.


Penggali kubur. Ya…itulah profesi yang telah dilakoninya selama ini, tepatnya sejak ia menikah dengan Halimah, dua puluh tahun lalu. Seluruh warga desa mengenalnya dengan baik, bahkan ada juga warga desa sebelah yang memanggilnya untuk menggalikan kuburan bagi keluarga mereka yang meninggal. Dan tentu saja Jamin akan mendapatkan imbalan atas jerih payahnya itu.


Selama 20 tahun sudah pekerjaan sebagai penggali kubur dijalaninya, dan ternyata itu mampu menghidupi keluarganya. Apalagi kalau musimnya orang meninggal, bisa-bisa mereka sekeluarga makan daging ayam tiap hari. Tapi kalau tidak ada orderan, alias tidak ada orang yang memintanya membuatkan kuburan, ya seperti sekarang ini, istrinya sampai-sampai harus meminjam beras sama tetangga.


Tapi apakah Jamin selalu berharap atau mendoakan agar ada warga desa yang meninggal? Ah, dia sendiri tidak tahu, yang jelas dia akan senang kalau ada orang yang meninggal dunia


Sebenarnya Halimah sudah sering mengingatkannya agar mencari pekerjaan lain, setidaknya sebagai sampingan jikalau tidak ada orang yang meminta untuk menggali kuburan.


"Bang…sawah peninggalan bapak kan tidak ada yang mengurus. Apa salahnya jika kita yang menggarapnya." Begitu kata Halimah suatu hari.


"Tapi kan kita tidak kekurangan, Mah. Bukankah dengan pekerjaanku sebagai penggali kubur kita masih bisa bertahan hidup?" jawab Jamin.


"Iya, tapi itukan kalau lagi ada orderan. Tidak mungkin tiap hari akan ada orang yang meninggal, Bang." Kalau sudah begitu Jamin akan diam. Memang …tidak mungkin setiap hari ada yang memintanya untuk menggali kuburan. Ada orderan seminggu sekali saja itu sudah lumayan. Tapi begitulah Jamin, tak mau mendengar kata istrinya.




"Jamin!!" Jamin menoleh ke belakang, mencari asal suara yang memanggilnya. Pak Ramli rupanya.


"Ada apa, Pak?" tanya Jamin. Pak Ramli mendekatinya. Saat itulah Jamin baru tersadar, keringat dingin langsung bercucuran di tubuh dan wajahnya. Pak Ramli? Bukankah dia baru kemarin dikuburkan? Bukankah dia sendiri yang menggali kuburan buat Pak Ramli? Jamin berniat lari, tapi kakinya seperti dipakukan ke tanah. Dia hanya mampu berdoa.


"Perbaiki kuburanku, Jamin! Terlalu sempit." Pak Ramli berteriak, marah. "Tak bisakah kau membuat kuburan yang lebih bagus?" ujarnya lagi. Jamin pias. Sesaat dipejamkannya matanya, lalu kemudian dengan kekuatan penuh dia mencoba lagi untuk berlari. Berhasil, sekuat tenaga Jamin berlari.


"Jamin!!! Perbaiki kuburanku." Jamin terus berlari, menutup kedua telinganya. Pak Ramli mengejarnya. Jamin makin panik. Pak Ramli kini tak sendiri. Ada Mak Minah yang meninggal dua minggu lalu, ada Ucok yang masih berusia tujuh tahun -meninggal karena ditabrak motor sewaktu pulang sekolah-, ada Karta, Bedi, juga bayinya Surti yang belum sempat diberi nama, semuanya sudah meninggal, dan semuanya dia yang menggalikan kuburannya. Mengapa mereka mengejarnya?


"Jamin…perbaiki kuburan kami!!!" suara-suara itu terus mengejarnya. Jamin capek, tak kuat lagi. Usianya sudah kepala lima, tak sanggup lagi berlari lebih jauh. Begitu orang-orang (-atau mayat) itu mendekatinya, Jamin berteriak…..


"Tidaaaakk!!!!"


Seseorang memegang pundaknya. Mengguncangnya, Jamin merinding, apakah yang akan mereka perbuat? Membunuhnya?


"Bang…bangun!" itu suara Halimah. Jamin membuka matanya. Halimah duduk di sampingnya dengan segelas air putih ditangan. "Mimpi apa sih, Bang? Kok teriak-teriak begitu." Jamin meminum air di gelas itu sampai habis.


"Mereka mengejarku, Mah?"


"Mereka? Siapa?" Halimah bingung, heran, mimpi apa suaminya?


Saat itulah Jamin melihat Haji Suleman di pintu kamarnya. Haji Suleman, dia tetangga Jamin, rumah mereka bersebelahan. Tapi Haji Suleman telah meninggal sepuluh tahun lalu. Jamin sendiri yang menggalikan kuburan untuknya. Apakah Haji Suleman juga mengincarnya? Tapi kenapa?


"Itu Mah, itu dia…" Jamin menunjuk ke pintu, lalu membenamkan kepalanya di bantal. Halimah heran, tak tahu apa yang harus di perbuat.


"Siapa, Bang?" tanyanya.


"Itu di pintu, Mah. Cepat usir dia, cepat bacakan ayat-ayat suci."


"Bang…mana?" Halimah tak menemukan apapun di pintu.


"Mereka mau membunuhku, cepat usir, Mah." Jamin menggigil ketakutan. Perlahan dia membuka matanya dan kembali menatap ke pintu kamar. Haji Suleman masih di sana. Tapi… dia tersenyum. Sedikit perasaan Jamin jadi tenang.


"Jamin…" Haji Suleman memanggilnya lembut. "Kau tahu kenapa mereka mengejarmu?" Jamin menggeleng. Halimah di sampingnya keheranan. Bingung melihat tingkah Jamin.


"Jamin…mulai sekarang kau harus luruskan kembali niatmu. Memang, jadi penggali kuburan adalah perbuatan mulia, sangat mulia. Bukankah karena itu kau dulu memilih profesi ini?" kembali Jamin mengangguk, dan kembali Halimah keheranan. "Sekarang niatmu sudah menyimpang, sudah membelok dari yang dulu pernah kau janjikan. Niatmu menggali kuburan adalah untuk mendapatkan uang, sehingga kau tidak lagi bekerja dengan ikhlas karena tujuanmu bukan pahala dari Allah. Sehingga hasilnya pun tidak sebaik dan sesempurna dulu lagi." Jamin terdiam, semua yang dikatakan Haji Suleman memang benar.


"Jamin, luruskan kembali niatmu. Bekerjalah karena Allah, jangan karena uang." Usai berkata begitu Haji Suleman menghilang. Jamin tergugu di tempat tidurnya. Dua tetes air mata jatuh merembes di pipinya. Ingatannya melayang pada dua puluh tahun silam.


"Benar kau ingin melanjutkan profesi bapak?" Jamin mengangguk di samping bapaknya yang terbaring lemah. Bapaknya tersenyum bangga.


"Bukankah itu pekerjaan mulia, Pak?" Bapaknya kembali mengangguk.


"Tapi ingat ya? Bekerjalah dengan niat karena Allah semata, jangan pernah mengharapkan imbalan dari pekerjaanmu, kecuali kalau mereka memang ikhlas memberi, yang penting jangan meminta, apalagi sampai memasang tarif." Kembali Jamin meng-iyakan perkataan bapaknya.


Dan kuburan pertama yang digali Jamin adalah kuburan untuk bapaknya sendiri, karena keesokan harinya si bapak meninggal dunia.


"Bang…"Halimah mengguncang tubuh Jamin. Jamin menoleh, menatap istrinya, dan air matanya mengucur makin deras.
Read More..
"Cerpen Fiksi: Jamin atas Kematian dan Kuburanku..!!??" was posted by: Wong Goblog Ngeblog blogs, under category CerpenCerpen FiksiCerpen MitologikaCerpen Religi and permalinks http://wonggoblogne.blogspot.com/2011/05/jamin-atas-kematian-dan-kuburanku.html. Ratings: 1010 Votings: 97,687, , 18:02.
 
Is Hosted by Blogger